Refleksi bacaan Sabtu (24/1/2026) Romo Albert Herwanta, O.Carm.
Katolikana.com – Bacaan Markus 3:20-21, kita menemukan gambaran yang mencengangkan: Yesus, setelah berkarya secara mengagumkan, dikerumuni oleh orang banyak sampai tidak sempat makan.
Keluarga-Nya sendiri, mendengar hal itu, berkata, “Ia tidak waras lagi,” dan berusaha mengendalikan situasi.
Komitmen geser kenyamanan duniawi
Perikop pendek ini menjadi cermin yang tajam bagi hidup Kristen sejati, yang kerap kali tampak “tidak waras” di mata dunia—bahkan di mata keluarga terdekat—ketika komitmen kepada Tuhan menggeser kenyamanan duniawi.
Komitmen yang dianggap tidak waras di sini bukanlah kekacauan mental, melainkan logika ilahi yang bertolak belakang dengan logika manusia.
Dunia mengukur kesuksesan dengan akumulasi—harta, status, keamanan dan kenyamanan.
Namun, Yesus menunjukkan bahwa pengabdian total kepada panggilan Ilahi yang mengabaikan kebutuhan dasar (seperti makan) bisa mengundang penilaian negatif dari lingkaran terdekat.
Hidup Kristen sejati, yang meneladani Kristus, sering kali menghadapi paradoks yang sama. Komitmen dalam menghayati iman kerap bertabrakan dengan arus zaman.
Pesan dan relevansi dari perikop pendek ini konkret, pun bagi dunia sekuler.
Misalnya, seorang profesional yang mengutamakan integritas dan pelayanan di atas karir gemilang bisa jadi dianggap “tidak praktis”, “aneh”, oleh rekan-rekannya.
Atau seorang anak muda yang memilih untuk terlibat dalam pelayanan sosial penuh waktu di daerah terpencil, dinilai “membuang masa depan” oleh keluarganya.
Kekuatan transformatif
Pilihan-pilihan seperti ini, yang didorong oleh iman dan komitmen kepada nilai-nilai Kerajaan Allah, kerap disalahpahami sebagai irasionalitas.
Namun, justru dalam “ke-tidakwaras-an” inilah terletak kekuatan transformatif iman Kristen.
Pengabdian yang total, yang berpusat pada Kristus dan berani berbeda dari arus utama, adalah tanda kehidupan yang telah disentuh oleh realitas yang lebih tinggi.
Markus 3:20-21 mengingatkan kita bahwa jalan mengikut Yesus mungkin akan membuat kita dianggap aneh, bahkan oleh orang-orang yang mengasihi kita secara duniawi.
Tetapi, inilah panggilan autentik: memiliki keberanian untuk hidup dengan komitmen yang begitu utuh kepada Tuhan, sehingga dunia—dengan segala logika praktisnya—memberi label “tidak waras.”
Kesabaran diri
Santo Fransiskus dari Sales menekankan bahwa komitmen menghayati iman Kristen dimulai dari kesabaran terhadap diri sendiri dan orang lain dalam kehidupan sehari-hari, serta percaya pada Sabda Tuhan yang diajarkan Gereja.
Apakah kita berani menghayati iman dengan komitmen radikal dalam kasih dan kesabaran?
Sabtu, 24 Januari 2026
Peringatan Santo Fransiskus dari Sales,
Uskup dan Pujangga Gereja.
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.