Menggugat Komodifikasi Anak, antara Ambisi Orang Tua dan Tragedi Eksploitasi Dini
Anak bukan proyek ambisi orang tua! Bahaya “homeschooling” demi cuan dan mainan. Pelajari tragedi William Sidis, jenius yang jadi korban eksperimen ortu. Jamin kebahagiaan anak, bukan paksakan kehendak!
Dunia maya baru-baru ini diguncang oleh narasi “bangga tidak sekolah” yang dibungkus dengan label homeschooling. Sebuah keluarga mengklaim bahwa dengan tidak menyekolahkan anaknya, mereka bisa mengalihkan biaya pendidikan untuk membeli mainan mewah. Lebih jauh lagi, di usia 12 tahun, sang anak dipacu untuk menjadi mesin pendulang rupiah melalui media sosial.
Narasi ini awalnya memikat karena seolah menawarkan jalan pintas menuju kemandirian. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada tanda bahaya yang benderang. Melalui layar digital, wajah sang anak justru bicara jujur: tatapan kosong, gestur yang tertekan, dan hilangnya binar kebahagiaan alami. Ini bukan sekadar pilihan gaya hidup; ini adalah sinyal darurat psikologis.
Tragedi William James Sidis: Ketika Jenius Menjadi Korban Eksperimen
Sejarah pernah memiliki William James Sidis, manusia dengan IQ tertinggi yang pernah tercatat ($250-300$). Di usia 18 bulan, ia sudah membaca koran The New York Times. Namun, ia adalah produk dari “proyek” obsesif orang tuanya yang merupakan dokter dan psikolog. Sidis tidak dibesarkan sebagai manusia, melainkan sebagai objek demonstrasi intelektual.
Hasilnya? Tragis. Sidis tumbuh menjadi pria yang menarik diri dari dunia, membenci orang tuanya, dan meninggal dalam kemiskinan serta kesepian yang akut. Ia memiliki pengetahuan seluas samudra, tetapi tidak memiliki kemampuan sosial untuk berlayar di dalamnya.
Dampak Psikologis: Luka yang Tak Terlihat
Memaksa anak menjadi “dewasa sebelum waktunya” atau menjadikannya alat pemuas ambisi orang tua memiliki dampak psikologis permanen yang dikenal sebagai Parentification atau Hurried Child Syndrome. Berikut adalah beberapa risiko klinisnya:
- Hilangnya Identitas Diri: Anak yang dipaksa menjadi produktif secara ekonomi cenderung merasa harga dirinya (self-worth) hanya ditentukan oleh seberapa besar uang yang ia hasilkan atau prestasi yang ia capai, bukan karena keberadaan dirinya sebagai manusia.
- Burnout di Usia Dini: Tekanan untuk terus berbisnis dan “tampil hebat” di media sosial memicu stres kronis yang dapat menyebabkan gangguan kecemasan (anxiety) dan depresi saat mereka memasuki masa remaja.
- Maladaptasi Sosial: Sekolah bukan hanya soal matematika atau sejarah. Di sana ada laboratorium sosial. Tanpa interaksi dengan teman sebaya, anak akan kehilangan kemampuan negosiasi, empati, dan resolusi konflik. Mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang canggung secara sosial.
Perspektif Gravissimum Educationis: Orang Tua sebagai Penjaga, Bukan Pemilik
Dokumen Gereja Katolik, Gravissimum Educationis, dengan tegas menyatakan bahwa orang tua adalah pendidik utama. Namun, kata “pendidik” sering disalahartikan menjadi “pemilik”. Orang tua seringkali tanpa sadar memproyeksikan kegagalan masa lalu mereka kepada anak—fenomena yang dalam psikologi disebut sebagai projection.
Anak bukan “orang tua mini” yang bertugas menambal ego orang tuanya yang belum selesai. Mereka adalah pribadi utuh yang memiliki hak atas masa kecil yang tidak terbebani oleh urusan dapur atau ambisi finansial.
Sekolah: Lebih dari Sekadar Bangku dan Meja
Argumen bahwa “uang sekolah bisa untuk beli mainan” adalah penyederhanaan yang berbahaya. Mainan adalah benda mati, sedangkan sekolah adalah ekosistem hidup.
- Mekanisme Pertumbuhan: Pertikaian kecil dengan teman atau perbedaan pendapat dengan guru adalah simulasi kehidupan nyata yang membentuk ketangguhan mental (resilience).
- Etika dan Karakter: Nilai-nilai seperti tenggang rasa, disiplin waktu, dan sportivitas sulit didapatkan jika anak hanya interaksi dengan layar gawai atau orang tua yang bersifat transaksional.
Jangan Jadikan Anak “Kelinci Percobaan”
Melatih jiwa kewirausahaan memang positif, namun ada porsinya. Menghilangkan hak sekolah demi mengejar profit adalah bentuk eksploitasi halus yang seringkali dibalut dengan diksi “visioner”.
Seorang anak yang bahagia lebih berharga daripada seorang anak yang kaya tapi jiwanya mati. Tugas orang tua bukan untuk membentuk anak sesuai cetakan yang diinginkan, melainkan untuk menyirami benih yang sudah ada agar ia tumbuh menjadi dirinya sendiri—bukan menjadi proyek ambisius yang berakhir dalam depresi.

Bukan siapa-siapa.