Mengenang Rama Santoso, MSF: Kumis Tebal, Hati Hangat, dan Ketulusan yang Purna
Mengenang Rama Santoso, MSF: Sosok disiplin berkumis tebal dengan hati yang hangat. Selamat jalan.
Berita itu datang menyelinap di tengah keriuhan siang, membawa kabar yang seketika menghentikan detak waktu. Seorang rekan dari Kudus mengirimkan pesan singkat yang menyesakkan dada: Rama Santosa Ponco Prasetyo, MSF telah berpulang. Beliau pergi dalam usia yang relatif masih muda, meninggalkan jejak pengabdian yang mendalam di hati banyak orang.
Kepergiannya terasa begitu ironis sekaligus puitis. Konon, usai memimpin Misa Arwah—sebuah tugas suci mengantar jiwa kembali ke keabadian—beliau merasa letih. Di tengah antrean pemeriksaan kesehatan, tubuh yang selama ini bekerja keras untuk Tuhan itu akhirnya memilih untuk beristirahat selamanya. Ia wafat saat sedang menanti, sebuah perhentian terakhir yang tenang di tengah tugas pelayanan yang belum sepenuhnya usai.
Warisan Keteguhan Sang Ayah
Kabar duka ini seketika membangkitkan memori kolektif tentang ayah kandung beliau, Bapak Paidi. Ada kemiripan yang luar biasa dalam cara mereka “pulang.” Bapak Paidi meninggal dengan cara yang sangat tenang, sesaat setelah menyaksikan pertandingan bulu tangkis Mia Audina di televisi. Kejadian itu sering diceritakan ulang oleh Rama San dengan nada bangga sekaligus haru.
Bagi Rama San, salah satu pencapaian spiritual terdalamnya bukanlah gelar atau jabatan, melainkan kesempatan memimpin Misa Arwah untuk ayahandanya sendiri. Padahal, biasanya dalam tradisi keluarga, seorang anak yang menjadi imam cenderung menjadi selebran pendamping. Namun bagi beliau, berdiri di altar untuk sang ayah adalah bentuk bakti terakhir yang paripurna. Pelajaran tentang bakti dan keikhlasan itulah yang terus membekas dalam benak saya hingga hari ini.
Gunung Gandul dan Kebanggaan Wonogiri
Rama San adalah sosok yang sangat mencintai akar budayanya. Ia bangga menjadi putra Wonogiri. Saya teringat, jika ada acara di rumah beliau, kami pasti diajak mendaki sebuah bukit yang dengan bangganya ia namakan “Gunung Gandul.” Di sana, di ketinggian tanah kelahirannya, ia tampak begitu lepas.
Baru-baru ini, saya menerima kiriman foto angkatan dari seorang kakak tingkat yang sedang retret di Jogja. Melihat foto itu, kenangan tentang kebersamaan kami di Wonogiri mendadak buncah. Foto itu bukan sekadar gambar, melainkan bukti otentik dari persaudaraan yang ia rajut dengan penuh ketulusan.
Di Balik Kumis Tebal dan Wajah Sangar
Bagi mereka yang hanya melihat dari kejauhan, Rama San mungkin tampak mengintimidasi. Kumisnya tebal, wajahnya jarang dihiasi senyum formal, dan pembawaannya tegas. Namun, itu hanyalah “sampul” luar. Di balik kesan sangar itu, terdapat pribadi yang sangat hangat, terutama jika ia sudah tertawa terpingkal-pingkal.
Beliau adalah pecinta bola voli dan penggemar berat petai. Saat berada di lapangan voli, jubah imamnya seolah melebur dengan semangat kompetisi. Di sana, ia bukan lagi seorang pastor yang kaku; ia adalah pribadi yang merdeka. Ia tak segan memaki pemain yang salah dengan gaya bicara yang lugas, namun semua tahu itu adalah bentuk keakraban, bukan kebencian. Olahraga baginya adalah ruang di mana manusia bisa menjadi dirinya yang paling jujur.
Namun, karakter “galak” itu akan luruh total saat kita masuk ke kamar bimbingannya. Saya ingat betul saat pengumuman penerimaan ke tahun novisiat. Dengan nada bercanda yang menenangkan, beliau bertanya apa yang akan saya lakukan jika tidak diterima. Saya menjawab santai, “Saya minta uang Rp10.000 buat sewa angkot pulang.” Jarak rumah saya memang dekat, dan biaya angkot saat itu memang hanya sepuluh ribu rupiah. Candaan sederhana, dekat, dan akrab.
Pesan dalam Kartu Ucapan
Salah satu harta karun yang masih saya simpan hingga hari ini adalah sebuah kartu ucapan usai retret. Di sana tertulis:
“Fr. Susiharyawan yang berbahagia, Profisiat atas Retret. Sadarlah bahwa Tuhan memanggilmu dan Dia senantiasa menyertai kamu. Janganlah takut melangkah dan jangan ragu-ragu. Tuhan memberkati usaha dan niatmu.”
Nasihat itu terus menggema, melampaui waktu dan melintasi status saya yang kini sudah berada di luar tembok seminari. Kalimatnya menjadi kompas bagi saya dalam mengarungi hidup sebagai awam. Pertemuan fisik terakhir kami terjadi pada perayaan 100 tahun Seminari Menengah Petrus Kanisius Mertoyudan. Siapa sangka, perjumpaan yang penuh tawa itu adalah perpisahan terakhir kami di dunia ini.
Etos Kerja dan Disiplin Hidup
Rama San, mengajarkan kepada saya bahwa hidup religius adalah hidup yang bekerja keras. Beliau tidak pernah tidur siang (siesta). Alih-alih menegur saya yang juga jarang tidur siang, beliau justru sering mengantarkan koran Kompas ke ruang baca setelah beliau selesai membacanya. Padahal, secara hierarki, kamilah yang seharusnya mengambil koran di depan kamar Direktur atau Magister. Tindakan kecil ini mengajarkan saya tentang optimasi waktu dan kerendahan hati seorang pemimpin.
Kedisplinannya tidak pernah meleset, meski kadang disampaikan dengan cara yang unik. Saya teringat kepanikan saya saat persiapan Paskah. Sebagai koordinator liturgi, saya sempat salah paham mengenai pencarian petugas “Rasul”. Saat saya kelabakan di masa Triduum, beliau justru menyuruh saya mencari petugas saat waktu tidur siang. Beruntung, sebagai orang Salatiga, saya bisa bergerak cepat mencari bantuan rekan terdekat.
Ada pula momen lucu saat Malam Paskah. Saya sudah berkeringat hebat mencoba menyalakan bara api untuk Perayaan Cahaya sementara waktu hampir habis. Beliau datang dengan tenang dan berkata dalam bahasa Jawa yang kental: “Menenga, ra sah sumelang, manuta aku, aku kandha kana adus, ra mungkin telat, Ramane aku.” (Diamlah, jangan khawatir, turuti aku, kalau saya bilang mandi, ikutilah, tidak mungkin telat, aku romonya). Ketenangan itu adalah buah dari jam terbang dan iman yang matang.
Penutup yang Purna
Kini, sang gembala yang tegas namun penyayang itu telah menyelesaikan misinya. Ia pergi dengan cara yang sangat mirip dengan sang ayah: cepat, tenang, dan setelah menunaikan tugas imamatnya.
Selamat jalan, Rama San. Terima kasih atas setiap nasihat, tawa di lapangan voli, aroma petai di meja makan, dan bimbingan yang tulus di kamar retret. Kini, Anda tidak perlu lagi mengantre di dunia, karena gerbang surga telah terbuka lebar untuk pelayan-Nya yang setia. Bahagia dan damailah bersama Bapa di surga. Pelayananmu telah benar-benar purna.

Bukan siapa-siapa.