Katolikana.com – Permenungan diri seorang teman.
Di Bekasi aku terlihat sendiri.
Tidak, di belakangku Ada Hyang Diatas, berdiri, dan itu cukuplah sudah, jadi penopang sebagai batu cadas.
Di Bekasi, alih-alih menjadi berkelas, dengan tertatih aku tercatat naik kelas.
Jadi pendamping berbagai kelas.
Jauh, jauh, jauh, jauh dari high-class
Di Bekasi, 24 tahun gelap telah sering menyundul batas, pun terasa jauh dari balas.
Di Bekasi pula, bergelas-gelas anggur pahit kuterima, kuteguk hingga amblas.
Di Bekasi, batang-batang pisang menyandang berkas klaras, dari batang mengelupas, namun tak mau lepas, pun barang seutas.
Di Bekasi, seberkas klaras lembut lirih mendaras: “As, hidup semakin keras, bertekunlah, Aku masih menghembusmu nafas”
Di Bekasi jua, bisik klaras kujawab lirih dan tuntas: “aku tak lebih dari klaras, namun kurasa derita-Mu tak henti mengirim balas. Aku hanya selembar klaras”.
(Klaras=daun pisang yang kering)
Ditulis oleh : Agustinus Astanta
Guru di Bekasi – Alumni Jurusan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta