Pengharapan yang Hidup: Inspirasi dari Mahasiswa STP St. Bonaventura

0 16

Delitua, Katolikana.com—Di tengah ritme semester genap yang mulai bergerak cepat, 46 mahasiswa penerima Beasiswa CAO (Caritas At Omnia) STP St. Bonaventura Keuskupan Agung Medan (KAM) berkumpul di aula kampus, Jumat (13/2/2026).

Pertemuan rutin itu bukan sekadar agenda pembinaan mingguan, melainkan ruang untuk berhenti sejenak—menata ulang napas, menimbang arah, dan menghidupkan kembali pengharapan di tengah tantangan zaman digital.

Beasiswa CAO merupakan dukungan dari Uskup Keuskupan Agung Medan bagi para calon tenaga pastoral, agar kelak siap mengabdi dan melayani Gereja di wilayah KAM.

Karena itu, pertemuan rutin ini sejak awal diarahkan bukan hanya untuk menguatkan capaian akademik, tetapi juga membentuk kedewasaan rohani dan sosial para penerima beasiswa.

Tema yang diusung—“Melirik Kembali Teologi Pengharapan: Merangkul Penderitaan”—menjadi undangan yang lugas sekaligus menantang: pengharapan Kristiani tidak lahir dari hidup yang mulus, tetapi justru dibentuk ketika iman berhadapan dengan realitas yang tidak selalu ramah.

Pengharapan sebagai jangkar

Dalam sesi pemaparan materi, Bruder Gerard membuka refleksi dengan pertanyaan yang menggugah: apa yang membedakan pengharapan Kristiani dari harapan yang bersifat duniawi?

Pertanyaan itu mengantar mahasiswa meninjau kembali cara mereka memahami “harapan”, terutama saat menghadapi kegagalan, tekanan akademik, dan dinamika pergulatan harian.

Bruder Gerard menegaskan, pengharapan Kristiani tidak bisa disederhanakan menjadi “berpikir positif” atau berharap semua berjalan sesuai rencana. Harapan dalam terang iman bertumpu pada relasi dengan Allah dan bertumbuh dari kebajikan ilahi: iman, harapan, dan kasih.

Karena itu, dasar pengharapan bukan situasi ideal, melainkan keyakinan bahwa Allah tetap hadir dan setia, bahkan dalam keadaan yang tidak mudah.

Arah ini sejalan dengan Katekismus Gereja Katolik tentang pengharapan sebagai kebajikan ilahi yang mengarahkan manusia kepada Kerajaan Surga dan kehidupan kekal sebagai tujuan akhir (KGK 1817). Maka pengharapan Kristiani selalu punya dimensi yang melampaui keberhasilan sementara—ia tidak runtuh hanya karena keadaan berubah.

Bruder Gerard juga merujuk Ibrani 6:19 yang menggambarkan pengharapan sebagai “sauh yang kuat dan aman bagi jiwa.” Gambaran itu menekankan fungsi pengharapan: menjaga hati tetap teguh di tengah gelombang persoalan. Dalam kerangka ini, penderitaan tidak dipandang sebagai titik akhir, melainkan bagian dari proses pendewasaan iman.

Yesus sendiri tidak lepas dari penderitaan. Rasul Paulus pun mengingatkan bahwa dari penderitaan lahirlah ketekunan dan keteguhan rohani. Iman Kristiani, karena itu, bukan jaminan hidup tanpa kesulitan, melainkan kekuatan untuk memaknai pengalaman—termasuk yang menyakitkan—dalam terang penyelenggaraan Allah.

Layar ponsel, cermin diri

Refleksi kemudian dibawa ke realitas yang sangat dekat dengan kaum muda: dunia digital. Bruder Gerard mengajak mahasiswa menilik bagaimana media sosial membentuk cara orang muda memandang diri dan membangun relasi. Budaya validasi angka—like, komentar, jumlah pengikut—pelan-pelan bisa menjadi ukuran nilai diri. Identitas pun mudah digantungkan pada respons publik.

“Layar handphone adalah jendela dunia sekaligus cermin diri,” tegas Bruder Gerard.

Dunia digital, lanjutnya, bukan hanya sarana komunikasi, tetapi ruang penting pembentukan karakter dan spiritualitas. Ia mengingatkan bagaimana dokumen Christus Vivit (art. 87–90) menilai ruang digital dapat menjadi tempat perjumpaan, dialog, bahkan pewartaan iman.

Namun pada saat yang sama, ruang digital juga bisa menciptakan ilusi komunikasi, memperdalam kesepian, dan mendorong pembentukan identitas yang semu.

Di titik ini, Bruder Gerard mengajak mahasiswa bersikap jujur pada diri sendiri: apakah hidup hanya diukur dari angka-angka, dan di mana Kristus hadir di tengah keriuhan digital yang membentuk keseharian?

Pesan itu juga menyentil sisi lain: praktik iman bisa tergelincir menjadi pencitraan jika tidak disertai ketulusan. Membagikan ayat Kitab Suci atau terlibat pelayanan dapat kehilangan makna bila hanya demi pengakuan.

Karena itu, mahasiswa didorong untuk menjadi saksi—martus—bukan penonton. Dalam konteks digital, menjadi “martir kasih” berarti berani melawan budaya pencitraan dengan kejujuran, kerendahan hati, pengampunan, dan kesetiaan pada yang benar, terutama saat relasi terasa rapuh.

Valentinus dan cinta

Menjelang 14 Februari, refleksi pengharapan juga disentuhkan pada teladan Santo Valentinus. Peringatan Santo Valentinus yang kemudian dikenal luas sebagai Hari Valentine diingatkan kembali bukan sebatas romantisme, melainkan penghormatan pada kasih yang setia dan berani berkorban.

Bagi para mahasiswa, teladan ini menegaskan satu hal: pengharapan dan kasih berjalan bersama. Pengharapan yang hidup tidak berhenti pada kata-kata indah, tetapi menjelma dalam komitmen—yang kadang menuntut pengorbanan.

Bruder Gerard SSCC

Efata: terbukalah

Pertemuan rutin ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin RP Paulus Halek Bere, SSCC. Bacaan pertama (1 Raja-Raja 11:29–32; 12:19) mengingatkan bahwa ketidaksetiaan kepada Allah membawa perpecahan dan penderitaan, sebagaimana dialami Kerajaan Israel. Kisah itu menegur hati yang menutup diri terhadap kehendak Tuhan—karena dari sanalah konflik dan kesulitan kerap berakar.

Sementara itu, Injil Markus 7:31–37 menghadirkan kisah Yesus yang menyembuhkan orang tuli dan gagap dengan kata “Efata”—“Terbukalah.” Mukjizat itu bukan hanya pemulihan fisik, tetapi simbol keterbukaan hati untuk mendengar dan mewartakan karya Allah.

Dalam homilinya, RP Paulus mengajak mahasiswa merenungkan panggilan sebagai penerima beasiswa bukan semata urusan administratif, tetapi panggilan iman yang harus dijalani dengan syukur, kesungguhan, dan pengabdian.

Pesan “Terbukalah” menjadi ajakan membuka pikiran dan hati: belajar mendengar kebaikan, berani mengucapkan kebenaran, dan membiarkan Allah bekerja dalam pengalaman hidup—termasuk penderitaan.

Dengan hati yang terbuka, penderitaan tidak lagi dibaca sebagai hukuman, melainkan bagian dari perjalanan pendewasaan iman. Penderitaan menjadi bermakna ketika ditafsirkan dalam sikap percaya dan penyerahan diri kepada Allah—hingga hidup tidak kehilangan damai dan sukacita.

Menjadi saksi kasih

Pertemuan Mahasiswa Penerima Beasiswa CAO Semester Genap 2026 menegaskan kembali: pengharapan Kristiani tidak meniadakan masalah, tetapi memberi makna di dalamnya. Para mahasiswa diajak menumbuhkan iman yang kuat, hidup dalam kasih, dan berani menjadi saksi Kristus—baik lewat kata maupun perbuatan—di dunia nyata maupun digital.

Kesaksian itu bisa mulai dari hal yang kecil namun konkret: menolong teman yang kesulitan, jujur dalam komunikasi, menjaga relasi dengan keluarga dan komunitas, serta berani melawan arus budaya digital yang dangkal dengan ketulusan dan keberanian menebarkan kebaikan.

Seperti ditulis Febriola Sitinjak di akhir refleksinya: “Beranilah menebarkan kasih dan menjadi saksi Kristus, di dunia nyata maupun digital, melalui tindakan nyata setiap hari. Sebab cinta yang sejati adalah cinta yang terluka.” (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.