Klaten, Katolikana.com -Kenduri atau kenduren atau selamatan adalah tradisi doa bersama yang dilakukan masyarakat terutama Jawa sebagai bentuk syukur, permohonan berkah, atau peringatan peristiwa tertentu.
Kenduri diadakan dengan mengundang tetangga dan kerabat.
Kenduri selamatan 1.000 hari mengenang saudara yang meninggal, di Desa Plawikan, Jogonalan, Klaten Jawa Tengah masih menjadi tradisi.
Saat kenduri mengundang tetangga terdekat. Lalu diadakan doa bersama. Doa bersama dilakukan dengan tata cara doa Katolik dan Islami. Hal ini dilakukan karena yang telah menghadap Tuhan memiliki saudara Katolik dan muslim.
Usai doa bersama keluarga yang mengadakan selamatan membagikan tempat sajian makanan yang berisi nasi, sayuran, aneka lauk, dan makanan lainnya sebagai simbol kebersamaan dan kekeluargaan.
Kenduri mengirim doa bagi saudara yang telah meninggal 1.000 hari, merupakan tradisi dan menjadi sarana untuk menghunjukkan doa mohon ketentraman arwah yang telah menghadap Tuhan.

Di bawah keteduhan daun pohon kelapa
Tradisi Jawa yang berlaku dan masih diterapkan oleh sebagian masyarakat yang meneruskan tradisi ini, salah satu nasehat pendahulu yang menyatakan saat kenduri dihadiri oleh tetangga yang ada di sekitar rumah yang punya ujub selamatan.
Ungkapan : “Sakayomaning roning klapa” (Jawa). Artinya dibawah keteduhan daun kelapa. Ungkapan ini dimaksudkan mengundang para tetangga yang tinggal di kanan, kiri, depan, belakang dari keluarga yang mengadakan selamatan. Tetangga terdekatlah yang diajak untuk mengelilingi ‘sajian kenduri’.
Diintegrasikan dalam iman
Kenduri atau selamatan/kenduren merupakan wujud inkulturasi Gereja Katolik. Budaya lokal diintegrasikan dengan iman Katolik untuk menciptakan keharmonisan nilai spiritual dan sosial.
Tradisi kenduri 1.000 hari bagi anggota keluarga yang meninggal tidak sekadar menjalankan tradisi adat tetapi juga menjadi sarana syukur kepada Tuhan, persaudaraan, dan doa dalam bingkai mendoakan arwah untuk memohon rahmat kerahiman Tuhan.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta