Buku Saku “Ngrumat”, Terobosan Puskesmas Tanpa Dinding Menjamah Pasien yang Tersisihkan

0 13

Katolikana.com–Dokter Andreas Wijaya sedang menempuh studi lanjut di Program KKLP (Kedokteran Keluarga Layanan Primer) FKKMK Universitas Gadjah Mada. Dalam rangka ini, ini menjalani program residensi di Puskesmas Nglipar 1 Gunungkidul di bawah bimbingan Dokter Tarcisius Harjuna Hadiyanta M.Sc., Sp. KKLP.

Di puskesmas yang dikepalai Sumadi, SKM, ini ia menggagas penerbitan buku saku sebagai inovasi pelayanan kesehatan. Dasarnya jelas, yakni amanat UUD 1945 pasal 28h: hidup sejahtera, lingkungan yang baik, dan jaminan pelayanan kesehatan adalah hak warga negara.

Dasar iman Katoliknya juga terang: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”(Mateus 22:37-39)

Menemukan ada warga terisolasi
Gagasan menyusun buku saku berangkat dari temuannya bahwa banyak warga masyarakat terisolasi oleh keterbatasan akses, hidup sendiri, malu, dan tidak berani menyatakan kondisinya kepada pelayan kesehatan terdekat.

Umumnya, mereka sedang berada dalam situasi menderita penyakit yang mengancam jiwa seperti penyakit kanker, penyakit degeneratif, penyakit paru obstruktif kronis, stroke, parkinson, gagal jantung (heart failure), gagal ginjal, penyakit genetika, dan penyakit infeksi seperti Human Immunodeficiency Virus Acquired/Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS).

Buku yang Dokter Andreas susun berjudul “Ngrumat”. Berjumlah 12 halaman dan berukuran A6, isi buku ini hanya tiga bagian: identitas pasien, profil kesehatan, dan catatan dokter. Pada identitas pasien ada nomor BPJS yang mesti diisi pasien. Ini untuk memastikan bahwa pasien sudah mendapatkan penjaminan dari pemerintah.

Pada profil kesehatan, keterangan yang mesti diisi pasien hanya tentang keluhan pasien, riwayat penyakit, terapi yang diberikan, dan catatan dokter. Catatan dokter kemudian diberi ruang lebih panjang di halaman-halaman selanjutnya. Ini jadi semacam kartu kontrol dan rekam medis sederhana yang berharga bagi dokter mengetahui keluhan pasien dan tindakan yang sudah ditempuh.

Bagaimana buku ini digunakan? Buku ini diberikan kepada kader kesehatan keluarga; keluarga menjadi prioritas untuk mengakses buku ini dan kader kesehatan serta perangkat desa menjadi pendukung. Mereka ini semacam pengelola posyandu di masyarakat.

Warga masyarakat yang memerlukan tinggal mengisi buku dan menyerahkannya kepada kader  tersebut. Mereka tidak perlu datang sendiri ke fasilitas kesehatan. Cukup mewakilkan pada koordinator setempat. Nanti, sepulang dari fasilitas kesehatan, koordinator tersebut akan menyampaikan buku yang sudah berisi catatan dokter kepada warga pemilik buku.

Dokter Andreas Wijaya menjalani program residensi di Puskesmas Nglipar 1 Gunungkidul

Puskesmas tanpa dinding
Melalui buku bikinannya, Dokter Andreas menggunakan orang-orang dekat pasien untuk menjadi perantara pesannya, “Datanglah, kami menyambutmu.” Jika toh mereka tidak datang ke fasilitas kesehatan, setidaknya mereka merasa tersapa dan beroleh solusi dari apa yang disebut “puskesmas tanpa dinding”.

Terobosan ini sudah ia terapkan di Puskesmas Nglipar 1 Gunungkidul tempat ia menjalani residensi sebulan ini. Menurut Sumadi, SKM, kepala puskesmas setempat, respons masyarakat sangat bagus. Mereka menjadi terbuka dengan pelayanan fasilitas kesehatan pemerintah meski karena keterbatasan mereka tidak datang langsung ke fasilitas kesehatan tersebut.

Dokter Andreas pun merasa sangat terbantu memetakan situasi kesehatan warga dan merumuskan program apa yang tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan keluarga mereka.

Sebagai dokter yang menempuh studi spesialis kedokteran keluarga, Dokter Andreas dihadapkan pada situasi sosial bahwa kesehatan itu tidak semata mengenai fisiologi. Obat untuk permasalahan keluarga juga bukan hanya produk farmasi. Ada sisi lain yang ia temukan. Bahwa kesehatan itu juga cara berpikir individu dan kebudayaan masyarakat.

Pendekatan interdisipliner
Obatnya datang dari ekonomi, psikologi, sosio-antropologi, spiritualitas, dan ilmu-ilmu lain di luar kedokteran murni. Sebab, orang sakit kepala bisa disebabkan oleh SPP sekolah anak yang belum dibayar, dan sakit perut bisa dipicu oleh kecemasan akibat kena PHK. Banyak kemungkinannya. Dan kemungkinan-kemungkinan itu hanya bisa ditembus dan dibuka dengan komunikasi yang tepat dan hangat.

Situasi seperti itu sudah ia hadapi ketika lama ia bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Banjarnegara, Jawa Tengah. Di sana ia membiasakan diri menyambangi masyarakat. Ia tak puas berdiam diri di ruang praktik. Sebab, ruang praktik begitu terbatas untuk menyelami apa yang sebetulnya terjadi di masyarakat.

Di ruang praktik, pasien hanya datang dengan informasi pendek, “Dok, saya sakit.” Dokter pun hanya bisa mengulik informasi terbatas, “Apa yang dirasakan? Sejak kapan merasakan sakit ini?” Atas informasi yang terbatas itu, dokter meringkasnya dalam resep, “Obat ini diminum ya. Kalau belum sembuh silakan datang lagi.”

Dan memang begitu jadinya. Banyak pasien datang lagi dengan keluhan yang sama. Lagi-lagi, informasinya terbatas pada keluhan itu. Tidak mendalam. Waktu juga yang membatasiinteraksi dokter dan pasien untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak dan spesifik.

Masuk lewat terlibat
Dokter Andreas memutuskan untuk terjun ke masyarakat. Ia aktif dalam kegiatan baksos. Di luar itu, ia juga olahragawan bela diri aikido dan hapkido. Mungkin yang terakhir ini tidak berhubungan langsung dengan praktik kedokterannya. Namun, setidaknya, kebiasaan untuk terlibat dalam kegiatan kemasyaratan membawanya lebih mudah masuk ke tengah masyarakat.

Dari aktivitas terjun ke masyarakat itu, ia menemukan fakta-fakta tersembunyi yang nyaris tak bisa ia dapatkan dari interaksi dengan pasien di ruang praktik. Fakta keras itu tersingkap: banyak warga masyarakat takut ke fasilitas kesehatan. Mereka menyembunyikan sakitnya karena berbagai alasan. Ada yang miskin, difabel, hingga tak memiliki akses. Juga karena kondisi penyakit yang tidak memungkinkan mereka beranjak dari rumah.

Pengalaman lama itu bertemu dengan situasi serupa saat ia menjalani residensi kedokteran keluarga di Puskesmas Nglipar 1 Gunungkidul. Ia pun memutar otak bagaimana mengatasi situasi tersebut. Ia tahu, orang takut tidak bakal hilang ketakutannya hanya dengan kata- kata, “Jangan takut!”

Orang tak berdaya juga tidak bisa bangkit hanya dengan kata-kata motivasi, “Ayo, kamu bisa!” Apalagi yang mengatakan itu orang yang belum mereka kenal. Bukan orang dekat. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.