Klaten, Katolikana.com – Mudik tradisi yang akrab di Hari Raya Idul Fitri yang tidak lekang oleh zaman.
Mudik tidak dibatasi perhitungan teknis waktu tempuh perjalanan maupun berapa lama waktu tidak “pulang kampung”.
Kerinduan bertemu orang tua, kakek nenek, menyampaikan permohonan maaf dan mohon doa restu serta bertemu sanak keluarga merupakan pengobat penat lamanya waktu tempuh mudik.
Mudik menjadi budaya perjumpaan.
Menyambung tali silaturahmi, mengajak anggota keluarga “refreshing” di tempat pelepas penat, berlibur sejenak dan menghimpun kembali daya untuk kembali berangkat ke tempat kerja dan tempat tinggal yang dihuni sekarang menjadi rangkaian kegiatan lebaran.
Budaya memaafkan
Tradisi memohon maaf pada orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua dalam budaya Jawa dikenal dengan istilah “ujung”.
Tatacara ujung, bersimpuh, “sungkem”, atau duduk didepan orang tua (orang yang dituakan), kedua telapak tangan mengatup dan dipertemukan dengan ujung kedua telapak tangan orang tua sambil mengucapkan :”Selamat Hari Raya Idul Fitri, segala kesalahan mohon dimaafkan. Mohon maaf lahir dan batin. Mohon doa dan restu”.
Orang tua akan memberikan jawaban dan mengungkapkan harapan doa bagi yang melakukan “ujung”.
Tatacara bagi yang seusia biasanya dalam ungkapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin”.
Ungkapan ini akan mendapatkan balasan jawaban yang sama “Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.”
Bagi keluarga dalam lingkar kekerabatan yang notabene tidak merayakan Idul Fitri seperti halnya beragama Katolik biasa menyebut Idul Fitri dengan istilah “Dinten Riyadi”, “Hari Raya”. Ungkapan yang sering dilakukan “Sugeng Riyadi”, ” Selamat Hari Raya”.
Hal ini didasarkan, bahwa lebaran tidak hanya menjadi tradisi bagi saudara-saudari muslim namun lebih luas seluruh bangsa Indonesia.
Halal bihalal
Open house dan halal bihalal diselenggarakan dan menjadi medium mempertemukan warga, anggota komunitas, anggota organisasi, anggota lembaga, tanpa membedakan agama yang dianut, saling memaafkan.
Tradisi baik di tingkat Rukun Tetangga (RT), acara halal bihalal digelar dan menjadi medium untuk saling memaafkan anggota warga (seluruh warga dengan berbagai agama sesuai agama yang ada di Indonesia).
Saling memaafkan diungkapkan, niat berkehendak merajut hubungan yang semakin lebih baik dieratkan.

Membagi fitrah
Tradisi bagi anak-anak, biasanya anak-anak akan mendapatkan uang fitrah dari kakek-nenek atau saudara yang dituakan di Hari Raya Idul Fitri
Uang fitrah adalah sejumlah uang kertas yang diberikan pada anak-anak.
Dulu cara memberikan cukup unik, dengan cara digenggamkan oleh kakek – nenek atau orang tua pada cucu, keponakan atau anak-anak kecil.
Kini membagi uang fitrah banyak yang menggunakan amplop kecil yang menawan.
Mudik dan akan berangkat kembali
Setelah bersilaturahmi, mengikuti halal bihalal di lingkup keluarga dan rehat pemudik akan kembali ke tempat kerja maupun tempat hunian yang sekarang jadi tempat tinggal.
Mudik yang dijalani ibarat melakukan charge (pengisian daya).
Mudik memberi daya menjaga kesehatan diri dalam relasi sosial dengan keluarga. Mudik menjadi “belik” “sumber air” penyegar dengan perjumpaan dalam keluarga yang selalu mengantarkan pengharapan dan saling mendoakan.
“Sampai bertemu di lebaran tahun depan”.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta