Dua Hamba yang Melaksanakan Kehendak Tuhan

0 16

Katolikana.com – Dua hamba yang melaksanakan kehendak Tuhan menjadi fondasi kabar sukacita bagi dunia.

Mereka adalah Yesus Kristus, sebagaimana diungkapkan dalam Ibrani 10:4-10, dan Bunda Maria, yang mengucapkan fiat-nya dalam Lukas 1:38.

Kesediaan sempurna

Keduanya menghadirkan sukacita bukan karena kemudahan yang mereka alami, melainkan karena kesediaan sempurna untuk menanggapi rencana Allah.

Dalam Ibrani 10:4-10, penulis surat ini menegaskan bahwa kurban persembahan menurut hukum Taurat tidak mampu menghapus dosa secara tuntas. Di sinilah Kristus hadir dengan pernyataan-Nya, “Sesungguhnya, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.”

Dengan kelahiran, hidup, sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, Ia menggantikan kurban lama dengan satu kurban sempurna, yakni diri-Nya sendiri. Ketaatan Kristus menjadi puncak keselamatan bagi umat manusia.

Tanpa kesanggupan-Nya untuk setia hingga akhir, tidak ada jalan bagi manusia untuk didamaikan dengan Allah.

Kesediaan dalam ketaatan iman
Di sisi lain, Lukas 1:38 menampilkan Maria, seorang perempuan muda dari Nazaret, yang menerima tugas mustahil: mengandung Putera Allah. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Fiat-nya itu adalah ketaatan iman yang membuka pintu bagi inkarnasi. Tanpa persetujuan Maria, sejarah keselamatan tidak akan berlangsung sebagaimana ditetapkan. Ia menginsafi bahwa dirinya hanyalah alat di tangan Tuhan, namun kesediaannya mengubah segalanya.

Keduanya menandai peristiwa sukacita karena kesanggupan mereka membuat rencana agung Allah terlaksana. Sukacita yang dimaksud bukan sekadar kegembiraan emosional, melainkan realitas keselamatan yang terwujud melalui ketaatan konkret.

Menempatkan kehendak Allah diatas segalanya
Kristus dan Maria adalah dua hamba yang berbeda, namun memiliki kesamaan: keduanya menempatkan kehendak Allah di atas segalanya. Dalam diri mereka, kehendak ilahi berjumpa dengan kerelaan manusiawi secara utuh.

Renungan ini mengajak kita untuk meneladani sikap batin mereka. Kabar sukacita tidak akan menjadi peristiwa yang membawa dampak jika tidak ada hati yang siap menerima dan melaksanakan kehendak Tuhan.

Siap menjadi hamba
Oleh karena itu, ketika merenungkan misteri Kabar Sukacita, kita diajak untuk menjadi seperti Kristus dan Maria: siap menjadi hamba yang mengutamakan rencana Allah, agar keselamatan itu terus hadir dan bertumbuh dalam kehidupan kita sehari-hari.

Hari Raya Kabar Sukacita, 25 Maret 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.