Implikasi Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Resmi di Vatican News

0 24

Oleh Ardi Wina Saputra, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Pidato menggunakan Bahasa Indonesia oleh seorang pejabat negara pada forum internasional sering kali menggema secara luas, tetapi jarang sekali berujung pada perubahan struktural. Dalam konteks Bahasa Indonesia, kerab-karib masyarakat terjebak dalam kebanggaan simbolik. Bahasa Indonesia dipakai, didengar, dan diapresiasi. Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar yaitu sejauh mana Bahasa Indonesia mampu bersanding dengan bahasa-bahasa dunia? Jangan-jangan Bahasa Indonesia hadir sebagai tamu kehormatan yang disambut sesaat lalu dilupakan? Pertanyaan-pertanyaan ini membuka babak baru Bahasa Indonesia yang telah dinobatkan sebagai bahasa publikasi ke-57 di Vatican News.

Perjuangan Duta Besar Republik Indonesia untuk Vatikan, Michael Trias Kuncahyono, membuahkan hasil. Pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam publikasi Vatican News menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia berhasil memasuki ranah fungsional dalam komunikasi global, khususnya dalam domain keagamaan.  

Namun, satu peristiwa saja tidak cukup untuk mengubah status Bahasa Indonesia. Diperlukan kerja-kerja kolektif dan kolaboratif untuk melanjutkan estafet perjuangan duta besar kita. Muara utamanya agar Bahasa Indonesia memiliki implikasi sebagai bahasa keagamaan, khususnya Agama Katolik, di ranah internasional. Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah kongkret sebagai bentuk estafet memperjuangkan harkat dan martabat Bahasa Indonesia di Vatican News.

Pertama, umat Katolik penutur Bahasa Indonesia mesti sadar dan bertanggung jawab penuh atas pencapaian Bahasa Indonesia di Vatican News. Sadar berarti ikut memiliki atau ikut merasa diri sepenuhnya sebagai penutur jati Bahasa Indonesia yang beragama Katolik. Kesadaran dan kebanggaan penutur jati ini sebagai pondasi dasar untuk membentuk kesadaran dan kebanggaan kolektif penutur Bahasa Indonesia dari beragam negara.

Kedua, umat Katolik penutur bahasa Indonesia mampu merepresentasikan pemikiran menggunakan Bahasa Indonesia. Menurut George Yul, bahasa adalah representasi pikiran. Piere Bourdieu lebih keras mengatakan bahwa bahasa merupakan representasi kekuatan. Ketika Bahasa Indonesia mampu menembus Vatican News maka konsekuensi logisnya adalah harus ada representasi pikiran, representasi kekuatan yang ditawarkan oleh Bahasa Indonesia pada dunia.  Dalam tradisi Katolik, Bahasa Latin menjadi lingua franca yang menyatukan umat lintas bangsa selama berabad-abad. Bahasa Inggris, Spanyol, dan Italia kemudian mengambil peran dalam komunikasi gereja modern. Kini masuknya bahasa Indonesia menandai kemungkinan bahwa Bahasa Indonesia mampu berkonstribusi dalam produksi wacana religiositas Kekatolikan dunia.

Ketiga, penutur Bahasa Indonesia mampu meningkatkan produksi teks dan narasi berbahasa Indonesia. Pengakuan Bahasa Indonesia dalam Vatican News selama ini menitikberatkan pada Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa konsumsi dalam konteks keagamaan global. Wujudnya berupa pembacaan, penerjemahan, dan penyerapan. Jarang sekali Bahasa Indonesia menjadi produsen utama wacana. Padahal, bahasa dapat diakui secara internasional apabila mampu menghasilkan pengetahuan serta terminologi yang terserap di dalamnya. Penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News harusnya mampu menjadi momentum untuk membalik posisi tersebut. Bahasa Indonesia menjadi bahasa produksi melalui refleksi teologis, analisis sosial keagamaan, hingga narasi spiritual yang diakses oleh komunitas global. Kita tahu banyak sekali akulturasi dan asimilasi Katolisitas yang dilebur (melting pot) dengan budaya di Indonesia, seperti Ritual Semana Santa di NTT, Ritual Syukur Reba Langa di Bajawa, Ritual Misa 1 Suro di Ganjuran, dan masih banyak lagi.

Keempat, peningkatan penemuan pedagogi dan andragogi Pendidikan Katolik di Indonesia yang dapat diimplementasikan secara internasional. Kita tahu banyak metode dan model pembelajaran berasal dari luar negeri, seperti Finlandia contohnya. Kehadiran Bahasa Indonesia di Vatican News dapat menjadi tantangan bagi institusi pendidikan Katolik selama ini banyak materi yang bergantung pada bahasa asing. Hal itu membuat adanya jarak antara sumber ajar dengan pembelajar. Ketika jarak itu dipersempit, guru dan murid dalam pendidikan Katolik bisa mengakses sumber primer menggunakan Bahasa Indonesia. Kesempatan ini harusnya mampu digunakan sebagai momentum pendidikan Katolik, mulai dari universitas hingga sekolah untuk mengintegrasikan teks-teks global Bahasa Indonesia dari Vatican News sebagai sumber ajar utama.

Teks-teks tersebut kemudian dielaborasikan dengan pedagogi pendidikan Katolik di Indonesia. Kurikulum harus berbenah untuk memahami gereja Katolik secara global sehingga transformasi pendidikan Katolik lebih partisipatif. Partisipasi dapat ditunjukkan dengan cara menyajikan pedagogi dan andragogi pembelajaran agama Katolik di Indonesia pada khalayak global melalui media, senarai, video, seminar, hingga jam pembelajaran daring. Dengan demikian, teks Bahasa Indonesia dari Vatican News tidak hanya dikonsumsi, melainkan direproduksi menjadi wacana baru berbahasa Indonesia yang siap disajikan pada khalayak global.

Kelima, strategi plurilingualisme dan plurilikulturalisme individu, komunitas Katolik serta ordo biarawan-biarawati. Pakar Bahasa Indonesia, Djoko Saryono menyatakan bahwa plurilingualisme berbeda dengan multilingualisme. Plurilingalisme berarti kemampuan individ sebagai agen bahasa untuk menggunakan ragam varian bahasa dalam situasi berbeda. Sedangkan plurikulturalisme berarti kemampuan individu untuk terlibat dalam berbagai kondisi budaya yang berbeda. Plurilingualisme dan plurilikulturalisme sering kita temui pada biarawan biarawati Indonesia yang berkarya di luar negeri. Semangat ini harusnya juga ditularkan bagi komunitas atau ordo yang berkarya di dalam negeri.

Ketua Komsos KWI, Uskup Mgr Tri Budi Utomo menyampaikan bahwa dulu di Indonesia memang seringkali dijadikan sebagai lokasi datangnya biarawan dan biarawati Eropa. Namun seiring berkembangnya waktu, tidak jarang pimpinan ordo di Indonesia memegang peranan di manca negara, mulai dari Asia Tenggara hingga dunia. Bahasa Indonesia bersandingan bukan bersaingan dengan ragam bahasa global. Istilahnya adalah mangkuk salad (salad bowl). Pada kasus ini, ordo bisa bekerjasama dengan asosiasi Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) untuk mengembangkan Bahasa Indonesia sebagai sarana diplomasi melalui ranah keagamaan. Ini akan membuka peluang bagi ordo biarawan/biarawati internasional dan komunitas Katolik global untuk tidak hanya memahami, tetapi juga menggunakan Bahasa Indonesia dalam praktik iman mereka.

Berdasarkan ragam peluang dan potensi Bahasa Indonesia, kita perlu kembali mempertanyakan bagaimana upaya estafet memperjuangkan Bahasa Indonesia di Vatican News? Tentu bukan sekedar seremoni belaka, melainkan tanggung jawab intelektual. Bukan euforia sesaat tetapi komitmen jangka panjang melalui kerja kebahasaan. Kerja-kerja kebahasaan ini nantinya bermuara pada upaya menumbuhkembangkan ragam diksi bahasa dunia yang dipanen dari taman sari Bahasa Indonesia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.