Dari Meja Makan ke Lantai Pembasuhan

0 14

Keluaran 12:1-8.11-14; 1 Korintus 11:23-26; Yohanes 13:1-15

Katolikana,com – Pada malam terakhir sebelum menderita sengsara, Yesus melakukan dua tindakan yang amat bermakna (Yohanes 13:1-15). Pertama, Yesus mengadakan perjamuan malam paskah bersama para murid-Nya. Kita menyebutnya perjamuan malam terakhir (The Last Supper).

Inilah meja persahabatan. Kedua, Yesus berlutut di lantai, mencuci kaki para murid-Nya. Inilah lantai pembasuhan.

Perjamuan malam terakhir
Dalam perjamuan malam terakhir, Yesus menyerahkan diri kepada para murid-Nya. Itulah tanda cinta-Nya yang tuntas kepada mereka. “Sebagaimana Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir” (Yohanes 13:1).

Tidak ada cinta yang lebih besar daripada cinta orang yang menyerahkan nyawa bagi sahabatnya.

Berbeda dari injil sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas), Yohanes tidak menuliskan secara detil tentang Yesus yang memberikan roti dan anggur sebagai lambang penyerahan dirinya.

Namun Yohanes menambahkan satu peristiwa lain yang amat mendalam maknanya.

Peristiwa itu adalah mencuci kaki para murid-Nya dan menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya (Yohanes 13:4-5).

Inilah tindakan kasih dan pelayanan.

Ada banyak lukisan menarik tentang peristiwa itu. Romo Fernando Armellini, dalam salah video YouTube tentang Kamis Putih, menampilkan gambar Yesus yang melepaskan bajunya dan berlutut di depan kaki para murid dan membasuh kaki mereka. Itu memiliki makna amat mendalam.

Ia melepaskan segala-galanya
Yesus tidak hanya menyerahkan tubuh dan darah-Nya sebagai ungkapan kasih utuh bagi keselamatan umat manusia, melainkan juga melepaskan bajunya. Itu mengantisipasi tindakan para serdadu yang akan melucuti-Nya dari baju yang dikenakan-Nya.

Dengan itu, Yesus menyatakan bahwa Ia melepaskan segala-galanya, yakni tubuh dan semua yang melekat pada-Nya. Tidak satu pun yang dipertahankan-Nya. Yesus menyerahkan diri, mulai dari meja makan hingga ke lantai pembasuhan.

Dua tindakan itu mengingatkan dan mengajak kita untuk meneladan kasih dan pengorbanan-Nya. Ia telah mengasihi kita sampai akhir dengan melepaskan segalanya. Apakah kita siap menjawab dengan tindakan yang sama? Apakah kita rela mengikuti contoh-Nya: mengasihi dari meja makan hingga ke lantai pembasuhan?

Kamis Putih, 2 April 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.