Beriman dan Berbagi

0 12

Kisah Rasul 3:1-10; Lukas 24:13-35

Katolikana.com – Sabda Tuhan pada hari ini mengajarkan tentang iman yang mengandung sikap terbuka dan berbagi. Baik Kisah Para Rasul maupun Injil Lukas mengindikasikan hal itu.

Berbagi iman menyembuhkan
Petrus dan Yohanes lebih dulu mengimani Yesus yang bangkit. Ketika mereka bertemu dengan seorang pengemis dan lumpuh, mereka membagikan imannya. “Emas dan perak tidak ada padaku! Tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah” (Kisah Para Rasul 3:6). Lalu Petrus membantunya berdiri dan seketika itu orang lumpuh itu berdiri serta berjalan.

Dua murid yang berjalan pulang ke Emaus menunjukkan hal serupa. Mula-mula mereka menceritakan kisah murung tentang nasib Yesus yang menurut mereka berakhir tragis dan membingungkan (Lukas 23:20-24). Di sini, mereka masih mengurung diri dalam pengalaman negatifnya.

Mendengarkan penjelasan Yesus tentang isi Kitab Suci, mereka mulai terbuka, lalu mengundang Yesus ke rumah mereka (Lukas 23:29). Ketika membuka mata dan melihat apa yang dibuat Yesus, mereka menyadari bahwa orang yang berada di hadapan mereka adalah Yesus (Lukas 23:30-31).

Berbagi pengalaman
Setelah itu, mereka langsung kembali ke Yerusalem dan memberitakan kepada murid-murid lain tentang Yesus yang bangkit. “Sungguh, Tuhan telah bangkit dan menampakkan Diri kepada Simon” (Lukas 23:34). Mereka membuka mata, melihat Yesus, lalu berbagi pengalaman.

Iman dibagikan sebagai pengalaman hidup dan teladan
Iman yang sejati tidak pernah seutuhnya hanya untuk kepentingan pribadi. Iman itu mesti dibagikan. Semakin dibagikan, semakin bertambah besar dan kuat. Ada dua cara membagikan iman.

Pertama, dalam pertemuan seperti pendalaman iman, orang dapat membagikan pengalaman itu. Forum ini bukan untuk berdebat dan beradu pendapat, melainkan kesempatan mendengarkan Sabda Tuhan dan menanggapinya lewat pengalaman hidup. Apa yang orang alami berkenaan dengan sabda itu dibagikan. Yang lain mendengarkan. Jadi, tidak berlomba dalam menafsirkan firman.

Kedua, orang dapat membagi iman lewat kehidupan sehari-hari. Iman yang tidak menjadi nyata dalam tindakan sehari-hari akan mati. Misalnya, iman akan Yesus yang bangkit mesti menyalakan jiwa dan semangat hidup yang tidak mudah menyerah. Percaya akan Yesus yang bangkit berarti tidak mudah menyerah dan membagikan semangat itu dalam keluarga, tempat kerja, dan lingkungan hidup kita.

Apakah kita telah membagikan iman kita kepada sesama?

Rabu Oktaf Paskah, 8 April 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.