Papua sebagai Laboratorium Hidup Keberagaman

0 16

Pengalaman Interkultural di Kolese Le Cocq Nabire Menjadi Ruang Belajar Bersama

NABIRE – Katolikana.com – Papua sering dipandang hanya melalui persoalan konflik, keterbelakangan, atau tantangan pembangunan. Namun pengalaman yang berlangsung di SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville selama 11–17 Mei 2026 menunjukkan wajah lain Papua: sebagai ruang belajar keberagaman yang hidup dan kaya. Demikian pers release yang diterima Katolikana.com.

Rekoleksi interkulturalitas
Melalui Workshop–Rekoleksi Interkulturalitas yang diikuti siswa kelas X dan XI, sekolah menghadirkan pengalaman pendidikan yang mempertemukan puluhan identitas budaya dalam satu ruang refleksi dan pembelajaran bersama.

Program ini difasilitasi oleh Dr. Roberto Vale, peneliti asal Brasil yang mendalami tema kepercayaan dalam relasi lintas budaya.

Workshop tersebut mengangkat tema: Who I Am, How We Connect, Why We Trust.

Selama satu minggu, para siswa menjalani berbagai aktivitas yang membantu mereka mengenal identitas budaya masing-masing sekaligus belajar membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Menariknya, banyak siswa baru menyadari bahwa teman-teman di sekitar mereka berasal dari suku dan budaya yang sangat berbeda.

Dalam kelompok-kelompok kecil, mereka berbagi cerita mengenai tradisi Barapen dan Bakar Batu, bahasa daerah, rumah adat, kebiasaan keluarga, hingga pengalaman hidup sehari-hari.

Workshop–Rekoleksi Interkulturalitas siswa kelas X dan XI SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville pada 11–17 Mei 2026 (Dok.SMA YPPK Adhi Luhur).

Keberagaman bukan ancaman
Perjumpaan itu menghadirkan kesadaran baru bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekayaan bersama.
“Anak-anak mulai melihat bahwa meskipun berasal dari budaya yang berbeda, mereka memiliki nilai-nilai yang sama: kebersamaan, solidaritas, keluarga, dan rasa hormat,” ujar salah satu guru pendamping.

Workshop ini dirancang sangat interaktif. Ceramah hanya menjadi bagian kecil dari keseluruhan kegiatan. Sebagian besar proses belajar dilakukan melalui percakapan, refleksi, menggambar, gerak tubuh, permainan, dan praktik komunikasi.

Seni bertanya
Pada hari Sabtu, para siswa belajar membangun komunikasi yang lebih mendalam melalui seni bertanya. Mereka diajak memahami bahwa pertanyaan yang baik dapat membuka ruang empati dan membangun rasa saling percaya.

Kegiatan malam hari di sekitar api unggun menjadi salah satu momen paling berkesan. Dalam suasana sederhana dan hangat, para siswa melakukan refleksi bersama dan membangun keberanian untuk keluar dari kelompok pertemanan yang biasa mereka miliki.

Walking meditation
Hari terakhir workshop diisi dengan walking meditation dan percakapan mendalam mengenai bagaimana menciptakan komunitas yang aman dan saling menerima di tengah keberagaman budaya.

Selain siswa, para guru juga dilibatkan dalam sesi khusus tentang membangun kepercayaan di ruang kelas multikultural.

Hal ini penting karena sekolah di Papua sering kali mempertemukan siswa dari latar belakang budaya, sosial, dan ekonomi yang sangat berbeda.

Bagi Roberto Vale sendiri, pengalaman di Nabire menjadi sesuatu yang sangat berharga. Untuk pertama kalinya ia memfasilitasi kelompok besar yang terdiri dari puluhan hingga ratusan peserta dalam satu rangkaian kegiatan.

Di sela workshop, ia juga berinteraksi dengan masyarakat Nabire, mengunjungi pasar tradisional, mengajar anak-anak pengungsi dari Puncak bersama siswa asrama, dan berdialog dengan anak-anak di Waghete mengenai budaya Brasil, Kanada, dan Papua.

Melalui kegiatan ini, Kolese Le Cocq ingin menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga tentang membangun manusia yang mampu hidup bersama di tengah keberagaman.

Para peserta belajar membangun hubungan yang sehat dengan orang lain dan berbagi cerita hidup keseharian di tengah dinamika masyarakat (Dok. SMA YPPK Adhi Luhur)

Laboratorium sosial
Papua, dalam pengalaman ini, tampil bukan sekadar sebagai wilayah yang penuh tantangan, tetapi sebagai laboratorium sosial yang mengajarkan dunia tentang perjumpaan, keberanian untuk saling percaya, dan kemanusiaan yang melampaui batas budaya. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.