Surakarta, Katolikana.com-
Homo Ludens adalah sebuah konsep yang memahami bahwa manusia merupakan seorang pemain yang memainkan permainan. Wikipedia mencatat homo ludens merupakan sebuah konsep yang muncul atau ditemukan dalam kebudayaan. Setiap kebudayaan memperlihatkan karakter manusia sebagai pemain. Konsep homo ludens merupakan sebuah fenomena budaya.
Dalam konsep budaya, dolanan anak-anak tradisional mengacu pada buah karya yang diciptakan sebagai sarana bermain, memunculkan rasa suka cita dengan perangkat cara penggunaan yang sederhana dan bisa dimainkan secara pribadi maupun kelompok (bersama).
Pada Misa 1 Sura di Gereja Santo Paulus Kleco Surakarta, Senin (15/6/2026) dalam Pementasan Budaya Jawa terlihat anak-anak memainkan Dakon (atau congklak), menyajikan pementasan geguritan dan memainkan dolanan tradisional dan lagu dolanan anak.
Dakon adalah permainan tradisional Jawa yang menggunakan papan berlubang dan biji kecil yang dimainkan oleh dua orang, tujuannya mengumpulkan biji terbanyak di lumbung masing-masing.
Selain itu anak-anak juga melakukan permainan Engklek (Sundamanda) yaitu permainan melompati kotak-kotak berpola di tanah menggunakan satu kaki.
Dolanan tradisional
Dolanan anak tradisional di Nusantara, memiliki keunikan sendiri-sendiri dan diciptakan menggunakan bahan, materi, dan sumber daya di masing-masing daerah.
Sebuah sharing pengalaman, sekitar tahun 2015 , penulis pernah melakukan kurasi, pengumpulan dan membuat dolanan tradisional sebanyak 60 item (macam) dolanan anak.
Dolanan anak ini menjadi “model” dan dapat dimainkan bagi anak-anak.
Kurasi dolanan anak juga menjadi salah satu bagian dalam penyelenggaraan Pameran Kreasso (Kreativitas Anak Solo) yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Surakarta tahun 2016.
Berikut ini daftar dolanan anak yang pernah dikurasi penulis.

Dolanan anak tradisional
- Bekelan
- Bentik
- Capung dari bambu diberi sirip, diberi kawat memakai karet gelang di tembakkan diatas
- Dakon
- Geprak dari pelepah pisang dbuat sirip lalu dibunyikan
- Egrang
- Gasing bluluk (bakal buah kelapa)
- Gasing dari kayu jambu/
- Gasingan bambu
- Goprak bambu untuk mengusir burung di sawah
- Halma tradisional seperti catur dibuat bujur sangkar dengan garis ditengah lalu dibawahnya ada segitita, saling memindahkan ke ruang segitiga .
- Jam dari janur (daun pohon kelapa)
- Jebakan dari kaleng susu diberi karet, diberi lidi, dipelintir, dilepas berbunyi
- Kacamata warna dari bambu dan kertas minyak warna merah
- Kapal dari daun bambu
- Kapal sekaten
- Kayu untuk belajar jalan batita
- Kenthongan
- Kerajinan janur : sempritan, mobil, burung dll.
- Kereta gelagah (dari tebu) roda 2, roda 4
- Ketapel
- Kitiran dari kertas lalu diputar diatas kepala
- Kitiran glagah seperti bumerang
- Kitiran janur
- Kuda lumping dari pelepah pisang
- Lurahan dari lidi dipotong, diambil tidak boleh jatuh
- Mahkota daun nangka
- Mercon bambu
- Mercon dari dob sepeda dengan isi korek api
- Mobil dari bambu
- Mobil dari jantung pohon pisang
- Mobil kulit jeruk
- Kapal terbang dari kertas
- Mobil dari gabus
- Mobil mobilan dari botol aqua
- Othok-othok dari pelepah pisang
- Panah dengan ketapel, bambu untuk anak
panahnya - Panah bambu
- Pistol bambu amunisi buah
jambu (slethokan) - Pistol pelepah pisang
- Pistolan kayu korek api
- Sempritan dari sedotan
- Senapan kayu
- Teklek dari batok dan diberi tali
- Sepatu dari anthok – bunga pisang
- Slethokan air seperti pompa
- Telepon dari bungkus korek api
- Telponan dari bambu
- Kaleng susu diberi benang, diberi minyak tanah, kemudian benang ditarik bisa menghasilkan bunyi
- Topi kapal dari kertas
- Tulup pakai kedelai
- Wayang batang pelepah daun singkong
- Yoyo
- Umbul dengan kertas gambar
- Krempyang dengan uang koin
- Lompat tali dengan karet gelang
- Gamparan dengan batu
- Permainan kelereng : jirak
- Permainan kelereng : jantung hati dan gendiran.
- Permainan gobak sodor.
Sarana bermain bagi anak-anak PIA
Dalam sebuah kegiatan pertemuan Pendampingan Iman Anak (PIA) di Susteran MASF Gentan, Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta, salah satu dolanan anak tradisional yakni mahkota dari daun nangka, dibuat kreasi mahkota dari kertas yang bisa menjadi sarana bermain dan menghadirkan suka cita.

Mainan tradisional, dolanan anak masih erat berkaitan dengan sarana menghadirkan suka cita dan dapat dicipta sebagai sarana edukasi dan menghadirkan kreativitas bagi anak-anak.
Inkulturasi budaya (Jawa) atau budaya nasional dapat menjadi alternatif pintu masuk yang dikenalkan pada PIA saat sekolah minggu selain pendampingan iman Katolik dalam formatio iman.
Setidaknya dengan bermain dolanan anak, anak-anak sejenak diajak untuk tidak bermain menggunakan gadget, HP. (*)


Katekis di Paroki Kleco, Surakarta