Kongres XI World Union of Jesuit Alumni Tetapkan Yogyakarta Resolution, 10 Komitmen Alumni Jesuit Dunia 2026–2030

0 12

Yogyakarta, Katolikana.com— Panitia Penyelenggara Kongres ke-11 World Union of Jesuit Alumni (WUJA XI) yang berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Yogyakarta merampungkan penyusunan resolusi. Dokumen tersebut disepakati sebagai mandat bersama bagi seluruh komunitas alumni pendidikan Jesuit di tingkat global untuk periode 2026–2030.

Komitmen bersama tersebut dituangkan dalam dokumen bertajuk Yogyakarta Resolution (selain satu dokumen lain berupa manifesto) yang secara resmi diadopsi para delegasi pada penutupan kongres, Minggu 2 Agustus 2026 di Yogyakarta. Resolusi ini memuat sepuluh komitmen yang mencakup:
• Penguatan jejaring alumni
• Kemitraan dengan Serikat Jesus
• Formasi Ignasian
• Kepemimpinan alumni muda
• Kepedulian ekologis
• Penggunaan teknologi secara etis
• Kepemimpinan berintegritas
• Pembangunan perdamaian
• Inovasi sosial
• Mekanisme pelaksanaan resolusi.

Anggota Steering Committee WUJA XI, Adhi Anondo, dalam pers release yang diterima Katolikana.com menyebutkan bahwa resolusi ini menjadi langkah konkret untuk menerjemahkan arah bersama yang dibangun selama Kongres ke dalam tindakan organisasi alumni di berbagai negara.

Resolusi tersebut, menurut Adhi, berangkat dari pertanyaan mendasar mengenai jati diri komunitas alumni pendidikan Jesuit.
“Organisasi alumni pendidikan Jesuit bukan sekadar kumpulan orang yang pernah bersekolah atau kuliah di lembaga pendidikan Jesuit. Kami adalah komunitas yang anggotanya dibentuk melalui suatu proses pendidikan, nilai, dan pengalaman bersama,” ujar Adhi di Jakarta, 19 Agustus 2026.

Karena itu, menurut Adhi, jejaring alumni lembaga pendidikan Jesuit pada dasarnya merupakan organized and value-based community, yang menghidupi nilai-nilai formasi dalam kehidupan dan masyarakat.

Memperkuat Jejaring dan Kemitraan
Komitmen pertama WUJA yang tertuang dalam dokumen resolusi adalah memperkuat jejaring Ignasian global sebagai komunitas yang inklusif, hidup, dan saling terhubung.

WUJA akan membangun platform digital yang aman dan berkelanjutan untuk menghubungkan alumni dan organisasi anggota, berbagi pengetahuan serta sumber daya, dan memperluas kolaborasi lintas budaya, generasi, dan negara.

Selama periode 2026–2030, WUJA juga akan mengidentifikasi negara-negara yang memiliki pendidikan Jesuit tetapi belum memiliki representasi WUJA serta meninjau struktur keanggotaan agar lebih jelas, adil, dan inklusif.
Komitmen kedua diarahkan pada penguatan kemitraan dengan Serikat Jesus. Dialog antara organisasi alumni, almamater, dan pimpinan Jesuit akan diperkuat dari tingkat lokal hingga global.
Dialog tersebut diharapkan menjadi ruang untuk saling mendengarkan, membangun kepercayaan, melakukan discernment bersama, dan memperkuat kerja sama sebagai sahabat dalam satu perutusan, dengan komitmen terhadap rekonsiliasi dan keadilan

Formasi Ignasian dan Generasi Muda
Komitmen ketiga menempatkan Latihan Rohani dan discernment sebagai bagian penting dari formasi Ignasian sepanjang hayat.
WUJA akan mendorong organisasi anggota menyediakan kesempatan bagi alumni untuk memperoleh formasi dan pendampingan Ignasian, sekaligus mendukung alumni yang terpanggil menjadi pembimbing Latihan Rohani atau fasilitator discernment bersama.

Sementara itu, komitmen keempat menempatkan alumni muda sebagai salah satu pilar utama bagi keberlanjutan misi dan masa depan WUJA.
Alumni muda dipandang sebagai co-creators dan pemimpin, bukan sekadar penerima program. Mereka akan diberi ruang untuk terlibat dalam pembentukan Ignasian, mentoring, pelayanan, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.
Dalam waktu dua belas bulan, WUJA akan memfasilitasi pembentukan WUJA Young Alumni Network yang menghubungkan berbagai inisiatif alumni muda di tingkat organisasi, asosiasi tingkat nasional, dan regional. Alumni muda yang mengikuti Kongres WUJA XI di Yogyakarta akan diundang menjadi kelompok pendiri jaringan tersebut.

Komitmen terhadap generasi muda juga menjadi jawaban atas kebutuhan komunitas alumni untuk terus membaca perubahan zaman.
“Di tengah berbagai keprihatinan yang kita lihat dalam kehidupan saat ini—dalam cara kita memperlakukan sesama, dalam kepemimpinan, kehidupan sosial, ekonomi dan politik, lingkungan, maupun perkembangan teknologi—kita dituntut untuk memilah dan memilih menggunakan nurani dan akal budi,” kata Adhi.

Ekologi, Teknologi, dan Kepemimpinan

Komitmen kelima adalah merawat rumah bersama. WUJA dan organisasi anggotanya diminta mengintegrasikan tanggung jawab ekologis dalam kegiatan mereka, antara lain melalui pengurangan sampah, penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab, pendidikan lingkungan, serta dukungan terhadap aksi ekologis yang terinspirasi Laudato Si’.

Komitmen keenam merespons perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.
WUJA menegaskan bahwa teknologi harus digunakan dengan tetap melindungi martabat manusia, kebenaran, privasi, kebebasan manusia, dan hak-hak pekerja. WUJA juga menolak manipulasi, diskriminasi, misinformasi, eksploitasi, dan eksklusi digital.

Dalam periode 2026–2030, WUJA akan bekerja sama dengan jaringan pendidikan, penelitian, teknologi, dan alumni Jesuit untuk menerbitkan sedikitnya satu panduan berbasis penelitian mengenai penggunaan teknologi secara etis, dengan perspektif discernment Ignasian dan prinsip 4C: competence, conscience, compassion, dan commitment.

Komitmen ketujuh berkaitan dengan kepemimpinan etis. WUJA dan organisasi anggotanya diminta menjunjung integritas, transparansi, keadilan, dan akuntabilitas serta mencegah korupsi, konflik kepentingan, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Para alumni dipanggil untuk memimpin dengan kerendahan hati, belas kasih, dan keberanian moral serta menggunakan kompetensi dan pengaruh mereka demi kebaikan bersama dan pemberdayaan orang lain.

Dari Dialog Menuju Perdamaian dan Inovasi Sosial
Komitmen kedelapan menegaskan dukungan terhadap peacebuilding dan reconciliation. Para alumni didorong terlibat dalam dialog lintas budaya dan lintas agama dengan keberanian dan discernment.
Asosiasi anggota diminta mendukung atau memfasilitasi berbagai inisiatif perdamaian sesuai kebutuhan lokal, sementara WUJA akan menghubungkan berbagai pengalaman dan praktik baik lintas negara.

Komitmen kesembilan adalah mendorong inovasi sosial dengan mengubah relasi alumni, kompetensi profesional, dan nilai-nilai bersama menjadi tindakan kolaboratif.
Perhatian diarahkan kepada mereka yang mengalami kemiskinan, eksklusi, marginalisasi, atau pelanggaran martabat manusia. Inisiatif sosial diharapkan dikembangkan bersama mereka, bukan sekadar dibuat untuk mereka, dan diarahkan tidak hanya pada kebutuhan langsung tetapi juga struktur yang mempertahankan ketidakadilan.
Di sinilah, menurut Adhi, pertanyaan mengenai identitas alumni berhubungan langsung dengan panggilan untuk bertindak.

“Pertanyaan mendasarnya adalah: Siapakah kami? Nilai apa yang mengakar pada kami? Dan apa panggilan kami sebagai alumni lembaga pendidikan Jesuit?” ujar Adhi.

Yogyakarta Sebagai Awal
Makna Yogyakarta Resolution juga mendapat penekanan dari Wakil Presiden II WUJA periode 2026–2030 George Pramadono. Bagi George, resolusi tersebut penting karena menegaskan bahwa identitas alumni Jesuit harus diwujudkan dalam tanggung jawab dan tindakan nyata. WUJA, menurut dia, tidak cukup hanya menjadi jejaring yang mempertemukan alumni dari berbagai negara setiap beberapa tahun sekali.

“Kita perlu membangun komunitas global yang lebih terhubung, saling belajar, dan mampu bekerja bersama,” kata George.
Karena itu, menurut George, resolusi tersebut mencakup hal-hal yang sangat konkret, mulai dari penguatan organisasi dan jejaring alumni, kolaborasi yang lebih erat dengan Serikat Jesus dan institusi pendidikan Jesuit, pengembangan kepemimpinan alumni muda dan formasi Ignasian, hingga kepedulian terhadap lingkungan, etika di era digital, kepemimpinan yang berintegritas, perdamaian, dan inovasi sosial.

Sebagai bagian dari kepemimpinan WUJA periode 2026–2030, George melihat Yogyakarta bukan sebagai akhir dari sebuah Kongres, melainkan sebagai awal dari pekerjaan yang lebih besar.
“Tantangan kita sekarang adalah memastikan bahwa seluruh komitmen tersebut tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi diterjemahkan menjadi program, kolaborasi, dan hasil yang dapat dirasakan di berbagai negara,” ujarnya.
Menurut George, WUJA harus mampu menghubungkan kekuatan alumni, organisasi alumni, institusi pendidikan Jesuit, dan para Jesuit dalam satu ekosistem yang saling memperkuat.
“Jika itu dapat kita lakukan secara konsisten, saya berharap Yogyakarta akan dikenang sebagai momentum ketika WUJA mulai bergerak lebih nyata sebagai komunitas alumni Jesuit dunia yang hadir, relevan, dan memberikan kontribusi bagi kebaikan bersama,” kata George.

Yogyakarta Commitment: Memastikan Resolusi Dijalankan
Komitmen kesepuluh menjadi bagian penting karena memastikan seluruh resolusi tidak berhenti sebagai dokumen. Dalam waktu dua belas bulan setelah Kongres, Dewan WUJA akan menyusun rencana aksi yang jelas dan terukur untuk melaksanakan dan memantau resolusi.

Setiap organisasi anggota juga diminta menyusun rencana yang sesuai dengan konteks masing-masing, lengkap dengan prioritas, penanggung jawab, jadwal, sumber daya, dan indikator kemajuan. Para alumni harus memiliki cara konkret untuk berpartisipasi, menyumbangkan keahlian, membangun relasi, dan melayani.
Dewan WUJA akan meninjau perkembangan setiap tahun dan melaporkannya kepada General Assembly. Laporan konsolidasi untuk periode 2026–2030 akan disampaikan pada Kongres Dunia berikutnya.

Pelaksanaan resolusi juga berpegang pada prinsip belonging and participation. WUJA ingin membangun komunitas yang memungkinkan alumni dari berbagai negara, generasi, budaya, bahasa, dan tradisi iman mengalami rasa memiliki serta berpartisipasi secara bermakna.
Partisipasi berarti didengar, berbagi tanggung jawab, dan terlibat dalam perencanaan serta pengambilan keputusan, terutama bagi alumni muda dan kelompok yang selama ini kurang terwakili.

Perayaan Ekaristi Pembuka dalam rangkaian Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) XI 2026 di Yogyakarta diadakan di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Bantul, Yogyakarta, pada tanggal 29 Juli 2026 pukup 16.00 WIB.

Dari Yogyakarta Menuju Tindakan
Yogyakarta Resolution pada akhirnya membawa WUJA dari refleksi menuju agenda tindakan. Sepuluh komitmen yang ditetapkan mencakup penguatan organisasi sekaligus respons terhadap persoalan dunia—mulai dari ekologi dan teknologi hingga perdamaian, keadilan sosial, dan kepemimpinan.
Dalam deklarasi penutup, para delegasi menegaskan bahwa dunia membutuhkan komunitas yang tidak hanya menyatakan nilai-nilai yang mereka yakini, tetapi sungguh-sungguh menghidupinya.
Pengalaman Yogyakarta juga menjadi pengingat bahwa keberagaman dapat berkembang dalam harmoni, jejaring tumbuh melalui perjumpaan dan persahabatan, dialog membangun persaudaraan, dan kepemimpinan autentik berakar pada pelayanan yang rendah hati.
Resolusi tersebut diadopsi di Yogyakarta pada 2 Agustus 2026 sebagai komitmen bersama dan mandat para pengurus organisasi anggota WUJA.

World Union of Jesuit Alumni menerima tanggung jawab untuk membawanya ke dalam pelaksanaan melalui Governing Council dan semua anggota organisasi alumni serta komunitas alumni Jesuit global sepanjang periode 2026–2030.
Menurut Adhi, proses tersebut tidak berhenti pada lahirnya dua dokumen. “Manifesto Yogyakarta adalah kompasnya. Resolusi Kongres adalah petanya. Dan perjalanan untuk mewujudkannya adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Dengan demikian, tantangan setelah Kongres WUJA XI bukan lagi merumuskan arah, melainkan menghidupkan resolusi tersebut dalam keputusan, program, kepemimpinan, relasi, dan pelayanan para alumni di berbagai penjuru dunia.
Semangat itu dirangkum dalam seruan penutup Yogyakarta Resolution: United in Spirit. Leading with Purpose. Sent Forth to Transform the World. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.