Sambut Tahun Akademik Baru 2026/2027, UKM Misa Kampus UGM  Gelar Misa Syukur
Mahasiswa Katolik Diajak Menjadi Sumber Sukacita, Inspirasi, dan Berkat

0 99

Sleman, Katolikana.comKeluarga Mahasiswa Katolik Universitas Gadjah Mada (UGM) mengawali Tahun Akademik 2026/2027 dengan Perayaan Misa Syukur di Gereja St. Athanasius, kompleks Fasilitas Kerohanian UGM, Sleman, Sabtu (12/9/2026).

Misa Syukur tahun ini mengusung tema “Called to Be a Source of Joy, Inspiration, and Blessing” atau Dipanggil Menjadi Sumber Sukacita, Inspirasi, dan Berkat, dengan tagline “Be the Joy, Be the Light, Be the Bless.”

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Vikaris Episkopalis Yogyakarta Timur Keuskupan Agung Semarang, Rm. Marcellinus Tanto, Pr., didampingi sejumlah imam konselebran, yakni Rm. Agustinus Daryanto, SJ, Rm. A. Pabendon, Pr., Rm. P. Sugiarto, SCJ, dan Rm. Y. Rianghepat, SSCC.

Misa diikuti mahasiswa Katolik dari berbagai fakultas di UGM, dosen, tenaga kependidikan, purnakarya, alumni, orang tua mahasiswa, serta umat Katolik di sekitar kampus.

Tahun ini menjadi kali pertama Misa Syukur pembukaan tahun akademik dilaksanakan di Gereja St. Athanasius UGM.

Ketua Pengurus Gereja Santo Athanasius UGM Prof. Dr. Drg. Regina TC Tandelilin MSc
Gereja sebagai Rumah Kedua Mahasiswa

Ketua Pengurus Gereja St. Athanasius UGM, Prof. Dr. drg. Regina TC Tandelilin, M.Sc., mengatakan gereja tersebut telah menjadi rumah kedua bagi banyak mahasiswa Katolik UGM.

Di tempat itu, mahasiswa tidak hanya mengikuti perayaan liturgi, tetapi juga bertumbuh dalam iman, membangun relasi, dan memperkuat persaudaraan selama menjalani kehidupan kampus.

Menurut Regina, tema Misa Syukur tahun ini mengajak mahasiswa menyadari bahwa keberadaan mereka di UGM bukan semata-mata untuk belajar dan meraih keberhasilan akademik.

Mahasiswa juga dipanggil untuk menghadirkan sukacita, menjadi inspirasi, dan membawa kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.

Memasuki tahun akademik baru, ia berharap mahasiswa Katolik terus bertumbuh dalam pengetahuan sekaligus semakin mampu menghadirkan kebaikan dalam kehidupan kampus maupun masyarakat.

Setiap tahun, sekitar 500–600 mahasiswa Katolik diterima di UGM. Kehadiran mereka membentuk komunitas yang tersebar dalam berbagai Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) di lingkungan fakultas dan sekolah.

Pendampingan untuk 20 Kelompok KMK

Romo mahasiswa Daerah Istimewa Yogyakarta, Rm. Agustinus Daryanto, SJ, dalam kesempatan tersebut juga memperkenalkan para frater yang akan mendampingi mahasiswa Katolik UGM.

Sebanyak 20 frater pendamping berasal dari sejumlah komunitas dan rumah formasi, antara lain Skolastikat SCJ, Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, komunitas OMI, Skolastikat SSCC, Seminari Tinggi Anging Mammiri, serta MSF.

Para frater tersebut akan mendampingi sekitar 20 kelompok KMK UGM dalam kegiatan pembinaan iman dan kehidupan komunitas mahasiswa.

Pendampingan itu menjadi bagian dari pelayanan pastoral mahasiswa Katolik, sehingga kehidupan akademik mahasiswa tetap berjalan beriringan dengan pembinaan spiritual dan kehidupan bersama.

Gereja St. Athanasius juga menyediakan jadwal misa rutin bagi mahasiswa dan umat. Misa harian dilaksanakan setiap Rabu pukul 12.15 WIB dan Jumat pukul 11.30 WIB, sementara misa juga dilaksanakan pada Jumat pertama dan Sabtu sore pukul 17.00 WIB.

 

Iman dan Ilmu Pengetahuan

Sekretaris Direktorat Kemahasiswaan UGM Dr. Drs. Mustofa Anshori Lidinillah, M.Hum. mengatakan nuansa religius tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan akademik UGM.

Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan perlu disertai pijakan nilai keagamaan agar ilmu yang dikembangkan benar-benar berpihak kepada kemanusiaan dan kesejahteraan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa kehidupan keberagamaan di UGM dibangun dalam suasana inklusif.

Perbedaan iman, katanya, tidak seharusnya menjadi sekat yang memisahkan warga kampus. Sebaliknya, iman dapat menjadi dasar bagi tumbuhnya penghargaan terhadap sesama dan kemanusiaan.

“Inklusivitas dijunjung tinggi di UGM. Semua memperoleh kesempatan beribadah yang sama dan mendapatkan fasilitas yang sama,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kepedulian UGM terhadap kehidupan beragama juga berkaitan dengan semangat pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, fasilitas kerohanian di lingkungan UGM tidak hanya dimanfaatkan oleh sivitas akademika, tetapi juga terbuka bagi masyarakat sekitar.

Mustofa menyebut tahun akademik baru sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk menghadirkan versi terbaik dari dirinya.

Ia mengajak mahasiswa memasuki tahun akademik dengan cara yang lebih bermakna: bertumbuh dalam iman, peduli kepada sesama, sekaligus terus mengembangkan kemampuan akademik.

“Jadikan iman sebagai sumber energi untuk berprestasi dan membangun persaudaraan,” katanya.

 

Pengampunan Bukan Matematika

Dalam homilinya, Rm. Marcellinus Tanto mengajak umat merefleksikan pengampunan di tengah situasi kehidupan yang tidak selalu mudah dan sering kali membuat manusia sulit berdamai satu sama lain.

Menurutnya, kesalahan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Namun, Yesus mengajarkan cara pandang yang berbeda dari perhitungan manusia ketika berbicara tentang pengampunan.

“Pengampunan bukan matematika ataupun sistem poin yang memiliki limit atau kuota. Pengampunan tidak terbatas,” katanya.

Rm. Tanto mengingatkan bahwa kesulitan mengampuni terkadang bukan disebabkan manusia tidak mampu melakukannya, melainkan karena tidak mau.

Seseorang sering menggunakan dirinya sendiri sebagai ukuran ketika menilai kesalahan orang lain.

Ia merujuk kisah seorang raja yang menghapus utang hambanya. Hamba yang telah menerima belas kasih itu justru tidak menunjukkan kemurahan serupa ketika berhadapan dengan temannya sendiri.

“Pengampunan adalah tindakan ilahi,” katanya.

Ia mengakui bahwa mengampuni memang tidak mudah. Kesulitan tersebut tidak hanya muncul dalam relasi dengan orang lain, tetapi juga ketika seseorang harus mengampuni dan berdamai dengan dirinya sendiri.

Karena itu, bacaan dalam perayaan tersebut, menurutnya, dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk mengawali langkah baru dalam tahun akademik.

Ia mengajak umat membawa luka-luka mereka dalam doa, memohon rahmat Allah agar mampu menerima luka tersebut, dan perlahan melepaskan beban yang selama ini dipikul.

Dengan demikian, seseorang dapat melangkah lebih ringan dalam menjalani perjalanan baru.

Romo dan pengurus Gereja Athanasius UGM.
Mengawali Tahun dengan Syukur

Ketua Panitia Misa Syukur 2026, Fransisca Xaveria Nimas Darani Azalea, menjelaskan Misa Syukur merupakan agenda tahunan bagi mahasiswa Katolik UGM untuk menyambut dimulainya tahun akademik baru.

Perayaan tersebut diharapkan menjadi sarana pembinaan rohani, penguatan iman, sekaligus ruang perjumpaan dan persaudaraan antarmahasiswa Katolik dari berbagai fakultas.

Rangkaian Misa Syukur telah dimulai melalui kegiatan pre-event pada 23 Agustus 2026 di kompleks Fasilitas Kerohanian UGM.

Kegiatan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut, sarapan bersama, serta sejumlah lomba interaktif yang diikuti sekitar 150 peserta dari sivitas akademika UGM dan masyarakat sekitar.

Setelah Perayaan Ekaristi pada 12 September, kegiatan dilanjutkan dengan perjumpaan bersama di halaman Fasilitas Kerohanian UGM.

Sejumlah anjungan menampilkan aktivitas Keluarga Mahasiswa Katolik dari berbagai fakultas di UGM, disertai pertunjukan musik akustik mahasiswa.

Melalui Misa Syukur 2026, mahasiswa Katolik UGM diajak mengawali tahun akademik tidak hanya dengan target pencapaian akademik, tetapi juga dengan komitmen untuk bertumbuh dalam iman, membangun persaudaraan, serta menghadirkan sukacita, inspirasi, dan berkat bagi sesama. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.