Mgr. Kornelius Sipayung Buka Sinode Diosesan VII KAM

0 50

Tekankan Sinode sebagai Peristiwa Roh Kudus

Medan, Katolikana.com—Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, secara resmi membuka Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan (KAM) dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Medan, Jumat (9/1/2026).

Pembukaan sinode ditandai dengan penyalakan dan pemberkatan Lilin Sinode, serta pemukulan gong sebagai tanda dimulainya rangkaian sidang sinode tahun 2026.

Dalam kata pembuka, Mgr. Kornelius menegaskan Gereja sebagai persekutuan umat Allah dipanggil untuk berjalan bersama—mendengarkan umat, meneguhkan yang lemah, dan mewartakan kabar gembira.

Ia menyebut KAM sedang memasuki “masa rahmat” yang mengundang seluruh umat untuk memperdalam cara mendengarkan, berdialog, dan mengambil bagian dalam misi Gereja secara bertanggung jawab dan berdaya guna.

“Dalam kesatuan dengan Gereja universal, dengan hati penuh syukur dan hormat, kita membuka Sinode Diosesan VII 2026 Keuskupan Agung Medan sebagai langkah bersama untuk memperkuat persaudaraan, memurnikan komitmen iman, serta memperteguh semangat mewartakan Injil di tengah dunia yang terus berubah,” ujar Mgr. Kornelius.

Sinode sebagai jalan pertobatan, bukan sekadar rapat

Dalam homilinya, Mgr. Kornelius mengingatkan bahwa tanpa keyakinan akan kehadiran Kristus, sinode bisa jatuh menjadi sekadar rapat: lengkap dengan agenda, laporan, bahkan perdebatan. Namun, ketika Kristus sungguh dihadirkan dan dipercayai, sinode berubah menjadi peristiwa Roh Kudus.

“Allah tidak jauh dari sinode kita. Ia tidak bersembunyi di balik teori atau konsep besar. Firman-Nya dekat, hidup, dan menunggu untuk ditaati,” tegasnya.

Mgr. Kornelius juga menekankan bahwa sinode bukan pertama-tama ruang mencari ide baru, melainkan ruang pembedaan (discernment): bertanya dengan jujur apa yang sungguh dikehendaki Tuhan bagi Gereja KAM.

Karena itu, sinode tidak boleh menjadi ruang yang melelahkan jiwa atau penuh kecurigaan. Jika Roh Kudus diberi ruang, sinode justru menjadi tempat penyegaran rohani, termasuk ruang untuk mengakui luka-luka Gereja.

Ia mengajak seluruh peserta sinode menempatkan kepentingan Gereja di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Tanpa kerendahan hati, kata Mgr. Kornelius, sinode mudah berubah menjadi “politik gerejawi”; tetapi dengan kerendahan hati, sinode menjadi jalan pertobatan.

“Kehadiran Kristus tidak tergantung pada jumlah kekuatan atau keseragaman pendapat, melainkan pada cara kita berkumpul dalam nama-Nya,” ujarnya.

Berkumpul dalam nama Yesus, lanjutnya, berarti menjadikan Kristus pusat, bukan menjadikan kepentingan sebagai pusat. Setiap suara didengar bukan untuk dikalahkan, melainkan untuk membantu pembedaan. Perbedaan tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kemungkinan Roh Kudus berbicara dengan cara yang tak terduga.

Mgr. Kornelius juga menegaskan tema sinode “mendengarkan, meneguhkan, dan mewartakan” bukan tiga tahap administratif, melainkan satu gerak Roh.

“Kita mendengarkan karena percaya Kristus hadir. Kita meneguhkan karena Roh Kudus menghibur dan menyembuhkan Gereja. Kita mewartakan karena Injil yang kita dengar tidak boleh berhenti di ruang sidang, tetapi harus menjelma menjadi hidup umat, terutama mereka yang kecil, terluka, dan terpinggirkan,” katanya.

Anggota kanonis dilantik, pohon sinode diberkati

Usai homili, Kanselarius (Sekretaris) KAM, RP. Adrianus Sembiring, OFMCap, membacakan rumusan kepengurusan para anggota kanonis Sinode Diosesan VII KAM yang akan dilantik oleh Uskup Agung Medan.

Setelah perayaan Ekaristi ditutup, Mgr. Kornelius memukul gong sebagai tanda resmi pembukaan sinode. Ia kemudian memberkati Pohon Sinode (Pohon Kalpataru) yang selanjutnya dibawa para pastor vikep untuk ditanam di wilayah kevikepan masing-masing sebagai simbol komitmen bersama dalam perjalanan sinodal.

Talk show: “berbagi sukacita dan mengakui luka”

Rangkaian pembukaan sinode dilanjutkan dengan talk show di Wisma Katedral lantai 2. Talk show mengusung tema “Berbagi Sukacita dan Mengakui Luka Dalam Gereja KAM yang Mendengarkan, Meneguhkan dan Mewartakan.”

Panitia menegaskan forum ini bukan sekadar dialog, melainkan tindakan gerejawi: ruang aman untuk mendengarkan suara iman sekaligus cerita luka umat, agar Gereja semakin dewasa, rendah hati, dan setia pada perutusannya.

Panorama sinode disampaikan oleh Sekretariat Sinode Diosesan VII, RP. Serafin Dani Sanusi, OSC. Ia menyebut Sinode Diosesan VII bertepatan dengan tahun ke-7 tahkta episkopal Mgr. Kornelius Sipayung. Menurutnya, angka tujuh tidak dipahami secara mistik, tetapi sebagai simbol kesempurnaan perjalanan.

“Diharapkan Sinode Diosesan VII dan juga tahun ke-7 tahkta episkopal ini merupakan sebuah sinergi yang selaras. Ada namanya pertobatan pastoral. Seperti yang disampaikan Bapa Uskup, sinode pertama-tama bukan urusan administrasi,” ujar RP. Serafin.

Ia menegaskan sinode bukan hanya untuk menghasilkan dokumen, tetapi perubahan sikap, cara berpikir, dan cara bertindak. Jika setelah sinode Gereja tetap “begini-begini saja”, maka sinode hanya menghasilkan dokumen tanpa pembaruan.

RP. Serafin juga menekankan tidak ada satu suara pun yang boleh diabaikan dalam proses sinodal—termasuk kritik dan “suara sumbang”—karena justru bisa menjadi jalan saling meneguhkan dan memunculkan cara pewartaan yang berbeda.

Dalam talk show, setiap narasumber diminta memberi kesaksian dengan empat penekanan: sukacita iman, pengakuan luka, penyembuhan yang dibutuhkan, dan usulan langkah pastoral yang konkret.

Talk show dipandu RP. Moses Elias Situmorang, OFMCap, dengan narasumber: Teti Dwi Putri Marlin Sinaga (kaum muda), Fransiskus Sitohang (keluarga), Job Rahmat Purba (penyelamat lingkungan hidup), Iptu Rostati Sihombing, S.Psi., M.Psi., CHT (aparat penegak hukum), dan Jintamin Saragih (tokoh masyarakat). (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.