Natal Polteka Mangunwijaya: Rm. Yupi Tegaskan Kerendahan Hati sebagai Kunci Keselamatan

0 30

Semarang, Katolikana.com—Suasana hangat dan penuh persaudaraan menyelimuti Gedung Kantor Pelayanan Pastoral Keuskupan Agung Semarang (KPP KAS) pada Kamis (15/01/2026).

Hari itu, keluarga besar Politeknik Katolik (Polteka) Mangunwijaya berkumpul untuk merayakan Misa Kudus dan Perayaan Natal bersama, sebuah perayaan iman yang tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga momentum untuk meneguhkan spiritualitas dan memperbarui orientasi hidup sebagai komunitas pendidikan Katolik.

Perayaan dipimpin langsung oleh Direktur Polteka Mangunwijaya, Rm. Yohanes Yupilustanaji A., M.Hum., Pr. (Rm. Yupi).

Sejak awal, nuansa yang dihadirkan bukan sekadar pesta atau hiburan, melainkan perayaan yang menempatkan Ekaristi sebagai pusat: syukur atas karya Allah selama satu tahun, sekaligus doa bersama agar seluruh sivitas akademika semakin peka pada kehendak Tuhan dalam perjalanan pendidikan, pembinaan, dan pelayanan.

Allah hadir untuk menyelamatkan

Natal bersama tahun ini mengangkat tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga Polteka Mangunwijaya.” Tema tersebut menjadi benang merah yang ditarik Rm. Yupi dalam homili: bahwa keselamatan Allah bukan ide abstrak, melainkan pengalaman nyata—namun membutuhkan kesiapan batin manusia untuk menerimanya.

Menurut Rm. Yupi, tema tersebut dapat berubah menjadi slogan tanpa isi bila tidak dihayati dalam sikap hidup sehari-hari. Ia lalu menekankan satu kunci utama: kerendahan hati.

“Kunci untuk diselamatkan adalah memiliki sikap rendah hati,” tegas Rm. Yupi.

Hati yang “tegak” sulit menerima rahmat

Dalam homilinya, Rm. Yupi menyampaikan refleksi yang dekat dengan pengalaman sehari-hari. Ia mengibaratkan hati manusia seperti gelas yang hendak dicuci.

“Sebuah gelas yang akan dicuci tidak bisa langsung dimasukkan ke dalam air dengan posisi tegak lurus. Hanya gelas yang dimiringkan yang bisa terisi oleh air saat dicuci—itu hukum fisika,” ujarnya.

Analogi itu lalu ia tarik ke dalam kehidupan rohani: hati yang “tegak”—penuh rasa mampu, penuh gengsi, atau penuh kesombongan—sering kali tidak menyediakan ruang bagi rahmat Tuhan.

“Begitu pula dengan hati: jika tegak dan penuh dengan kesombongan, bagaimana mungkin rahmat Tuhan bisa masuk?” lanjutnya.

Bagi Rm. Yupi, kerendahan hati bukan sikap minder atau merendahkan diri secara negatif. Justru kerendahan hati adalah keberanian untuk mengakui keterbatasan dan kebutuhan akan Tuhan, serta kesediaan untuk dibentuk.

Ia menegaskan bahwa dalam banyak pengalaman iman, Tuhan kerap menolong orang-orang yang tidak bersandar pada kekuatan diri semata.

“Berkali-kali Tuhan menolong orang-orang yang hidupnya penuh dengan rendah hati—mereka yang tidak menganggap bisa, tetapi sepenuhnya bergantung kepada Tuhan,” kata Rm. Yupi.

Pesan ini, sebagaimana ditangkap sejumlah peserta, menjadi ajakan untuk melihat kembali cara hidup di dunia pendidikan: apakah seseorang bekerja hanya untuk tampil hebat, mengejar pengakuan, atau sungguh bekerja sebagai pelayanan dan panggilan.

Rendah hati sebagai budaya kampus

Rm. Yupi juga menyinggung bahwa kerendahan hati perlu menjadi budaya komunitas, bukan hanya sikap individual. Dalam konteks Polteka, kerendahan hati berarti:

  • mau mendengarkan dan belajar, termasuk dari kritik,
  • membangun kerja sama tanpa merasa paling benar,
  • memandang tugas pendidikan bukan sekadar profesi, tetapi perutusan,
  • menempatkan mahasiswa sebagai pribadi yang harus ditumbuhkan, bukan sekadar “objek layanan akademik.”

Dalam suasana Natal, ia mengajak sivitas akademika untuk menghayati bahwa Tuhan yang hadir menyelamatkan bekerja melalui relasi yang sehat, kerja yang jujur, dan komitmen untuk terus bertumbuh.

Perayaan kebersamaan: dosen, tendik, dan mahasiswa tampil bersama

Setelah Misa Kudus, rangkaian Natal bersama dilanjutkan dengan perayaan kebersamaan yang menampilkan kreativitas sivitas akademika. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dari berbagai unsur kampus tampil dalam sejumlah penampilan, antara lain drama musikal, tarian, serta paduan suara.

Penampilan ini tidak diarahkan sebagai panggung “unjuk kemampuan”, melainkan sebagai ekspresi iman dan syukur. Kolaborasi lintas generasi—dosen dan mahasiswa—menguatkan pesan bahwa Polteka adalah keluarga: saling menopang, bekerja bersama, dan bertumbuh dalam semangat pelayanan.

Para peserta juga merasakan bahwa perayaan Natal ini menjadi ruang perjumpaan: mempertemukan kembali unit-unit kerja, membangun keakraban, dan menghidupkan rasa memiliki sebagai satu komunitas akademik Katolik.

Ketua Yayasan Bernardus: berbenah dimulai dari kerendahan hati

Perayaan semakin lengkap dengan kehadiran Rm. Yuvensius Deny Sulistiawan, Pr., Ketua Yayasan Bernardus.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Yayasan Bernardus saat ini sedang melakukan proses pembenahan organisasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan.

“Kita butuh hati yang rendah untuk berbenah,” ujarnya, “karena penyelenggaraan yang baik dimulai dari kerendahan hati.”

Pesan tersebut sejalan dengan homili Rm. Yupi: bahwa perubahan yang sehat dalam institusi pendidikan—baik pada level tata kelola, pelayanan akademik, maupun pembinaan karakter—menuntut sikap mau dikoreksi, mau belajar, dan mau memperbaiki diri.

Harapan: iman yang nyata dalam tantangan dunia pendidikan

Perayaan Natal bersama ini ditutup dengan harapan agar tema “Allah hadir untuk menyelamatkan Keluarga Polteka Mangunwijaya” sungguh menjadi pengalaman nyata dalam keseharian kampus.

Tantangan di dunia pendidikan tidak pernah selesai—mulai dari tuntutan profesionalisme, perubahan sosial, dinamika generasi muda, hingga pergulatan integritas. Karena itu, Polteka Mangunwijaya diingatkan untuk terus bertumbuh bukan hanya lewat strategi dan program, tetapi juga lewat kedalaman iman.

Dalam konteks itulah pesan kerendahan hati mendapat makna praktis: kerendahan hati sebagai pintu rahmat, sebagai cara membangun kebersamaan, dan sebagai fondasi untuk melayani pendidikan dengan hati yang bersih.

Perayaan Natal Polteka Mangunwijaya di KPP KAS menjadi penegasan bahwa komunitas kampus Katolik dipanggil bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga membangun manusia—dengan iman yang membumi, kerja yang jujur, dan hati yang rendah agar rahmat Tuhan sungguh tinggal dan bekerja. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.