Belajar Menjadi Guru Lewat Macro Teaching di SMA St. Antonius Bangun Mulia Medan

0 15

Pengalaman mengikuti macro teaching di SMA St. Antonius Bangun Mulia Medan menjadi ruang belajar yang nyata bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral (STP) St. Bonaventura Keuskupan Agung Medan (KAM). Febriola Sitinjak, membagikan refleksi dan pengalamannya menjalani macro teaching di SMA St. Antonius Bangun Mulia Medan.

Medan, Katolikana.com—Kegiatan praktik mengajar ini bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan proses pembentukan diri yang mengajarkan arti hadir di tengah peserta didik, melatih kesabaran, sekaligus meneguhkan panggilan sebagai pendidik.

Kegiatan macro teaching tersebut dilaksanakan dalam rentang 15 Juli–30 Agustus 2024, dengan pelaksanaan efektif mulai Senin (22/7/2024). Praktik mengajar berlangsung Senin hingga Sabtu pada pukul 07.30–13.35 WIB, dengan total 12 pertemuan, di SMA St. Antonius Bangun Mulia, Medan.

Macro teaching bukan sekadar kewajiban akademik. Pengalaman ini menumbuhkan kesadaran bahwa menjadi guru berarti hadir di tengah peserta didik, belajar bersama mereka, dan bertumbuh bersama dalam proses pendidikan.

Gugup di pertemuan pertama

Memasuki kelas untuk pertama kalinya, saya mengalami gugup dan cemas. Walau telah mempelajari teori-teori mengajar selama perkuliahan, situasi nyata di ruang kelas menghadirkan tantangan berbeda: dinamika peserta didik, ritme pembelajaran, serta berbagai situasi yang tidak selalu bisa diprediksi.

Di titik ini saya menyadari bahwa mengajar tidak berhenti pada penguasaan materi, melainkan juga kesiapan mental dan keluwesan menghadapi kondisi kelas. Setiap pertemuan kemudian menjadi laboratorium pembelajaran: peserta didik belajar, calon guru pun ikut belajar.

Persiapan materi dan latihan percaya diri

Dalam proses persiapan mengajar, saya menyiapkan materi secara cermat dan menyusunnya dalam bentuk presentasi agar lebih mudah dipahami peserta didik. Saya juga memperkaya bahan ajar dari berbagai sumber sebagai upaya untuk tidak terpaku pada buku teks semata.

Selain materi, kegiatan macro teaching juga membentuk keterampilan komunikasi. Saya berlatih menyampaikan materi dengan bahasa sederhana, memilih diksi yang tepat, serta menyesuaikan cara berbicara sesuai situasi kelas. Untuk membangun rasa percaya diri, ia bahkan melatih penyampaian materi di depan cermin sebelum masuk kelas.

Latihan-latihan kecil itu, menurutnya, perlahan mengubah rasa takut menjadi kesiapan, dan kesiapan menjadi kepercayaan diri.

Belajar beradaptasi dengan peserta didik

Mengajar di lingkungan baru menuntut kemampuan adaptasi. Saya tidak hanya perlu menyesuaikan diri dengan budaya sekolah dan ritme pembelajaran, tetapi juga dengan karakter peserta didik yang beragam.

Saya menyadari, setiap peserta didik membawa latar belakang dan kepribadian berbeda, sehingga pendekatan pembelajaran tidak bisa diseragamkan. Dalam proses ini, saya belajar menjadi lebih peka, membangun komunikasi yang baik, dan menciptakan kedekatan yang sehat sehingga suasana kelas menjadi lebih nyaman, terbuka, dan bersahabat.

Kesabaran: pelajaran terbesar dalam pendidikan

Salah satu pelajaran yang paling kuat saya rasakan adalah kesabaran. Menghadapi peserta didik dengan beragam dinamika menuntut pemahaman, ketulusan, dan pengendalian diri. Kesabaran, baginya, bukan tanda kelemahan, tetapi justru kekuatan penting yang harus dimiliki pendidik.

Proses tersebut tidak dijalani sendirian. Dukungan dari dosen, kepala sekolah, guru pamong, rekan, orang tua peserta didik, hingga keluarga menjadi sumber motivasi yang menguatkan selama praktik mengajar berlangsung.

Pendidikan sebagai panggilan Gereja

Gravissimum Educationis (1965) menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan manusia secara utuh—bukan hanya intelektual, tetapi juga moral dan rohani. Pendidikan tidak berhenti pada penguasaan materi, melainkan membentuk pribadi yang beriman, bertanggung jawab, dan hidup dalam kasih.

Gaudium et Spes (1965) menekankan bahwa manusia berkembang melalui relasi dengan sesama dan dengan Allah. Dalam konteks pendidikan, guru hadir sebagai pendamping yang membantu peserta didik bertumbuh melalui hubungan yang manusiawi, penuh perhatian, dan memanusiakan.

Pengalaman macro teaching menegaskan bahwa tugas guru tidak bisa dilepaskan dari dimensi panggilan dan pelayanan.

Mahasiswa STP St. Bonaventura menjalani macro teaching di SMA St. Antonius Bangun Mulia Medan.

Mengajar sekaligus menginspirasi

Sebagai calon guru Agama Katolik, saya menyadari bahwa perannya kelak bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membimbing peserta didik berkembang secara utuh—dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun iman.

Refleksi ini diperkaya oleh spiritualitas pendidikan Santo Yohanes Bosco yang menekankan bahwa “pendidikan adalah urusan hati.” Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan bertumpu pada kasih, kesabaran, dan kehadiran guru—bukan semata pada metode.

Mengajar dengan hati berarti membangun relasi yang dilandasi cinta, kepercayaan, dan perhatian. Tantangan selama macro teaching saya pandang sebagai kesempatan untuk bertumbuh menjadi pendidik yang bijaksana dan penuh kasih, seraya menimba inspirasi dari teladan para rasul yang setia mewartakan kasih dan kebenaran Kristus.

Syukur dan harapan

Macro teaching menjadi pengalaman berharga yang membentuknya menjadi lebih percaya diri, kreatif, sabar, dan peka terhadap kondisi kelas. Saya bersyukur atas penyertaan Tuhan dalam seluruh proses itu.

Ke depan, saya berharap kegiatan macro teaching dapat dipersiapkan lebih matang dengan pembekalan metode dan teknik mengajar yang lebih bervariasi, sehingga mahasiswa calon pendidik semakin siap menghadapi tantangan di kelas.

Santo Yohanes Bosco mengatakan: “Tanpa kasih, tidak ada kepercayaan; tanpa kepercayaan, tidak ada pendidikan.” Pesan itu, mengingatkan bahwa mendidik berarti hadir dengan hati, membimbing dengan kesabaran, dan menumbuhkan harapan dalam diri peserta didik. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.