50 Tahun Imamat Kardinal Ignatius Suharyo: Yang Ingin Jadi Uskup Itu Hanya Orang Bodoh

0 32

Oleh St. Sularto

Katolikana.com—“Yang ingin jadi uskup itu hanya orang bodoh,” kata Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta.

Dia katakan secara bergurau ketika menjawab pertanyaan Budiman Tanurejo dalam Ruang Tamu back to bdm, Senin (19/1/2026).

Joke itu dia kutip dari seorang dosennya saat belajar Teologi Biblis di Universitas Urbaniana, Roma tahun 70-an. Romo Suharyo mulai tugas belajar Teologi Biblis tahun 1977, lulus doktor 1981 dengan disertasi tentang Injil Lukas.

Rupanya sang dosen, seorang profesor teologi biblis—bukan uskup—merasa sebal. Ada saja imam yang ingin menjadi uskup.

Bagi Kardinal Suharyo, menjadi imam apalagi  uskup dan ditunjuk sebagai kardinal, bukanlah cita-citanya.

Awalnya ketika kecil ingin jadi polisi, lantas ingin jadi guru, dan ketika selesai ditahbiskan di Kapel Seminari Tinggi Kentungan bersama Romo F. Bardiyanto (alm.), tanggal 26 Januari 1976, ingin menjadi pastor paroki. Melayani langsung di lingkungan umat, seperti keinginan Romo Mangunwijaya (alm.) yang awalnya ingin berkarya di lingkungan umat paroki di pelosok.

Ia bercita-cita menjadi imam. Sangat manusiawi. Tetapi dalam perjalanan hidupnya di kemudian hari, terutama setelah 50 tahun ditahbiskan, ia meyakini dan menghayati cita-cita dan harapan itu adalah perjalanan formasi sebagai imam.

Menjadi imam adalah panggilan. Ketika ditahbiskan, dalam gambar tahbisan seukuran kartu pos yang dibagikan ke umat, dia tulis “Injil itu kekuatan Allah yang menyelamatkan”.  

Ketika ditugaskan belajar lanjut dan studi pribadi, bukan untuk keperluan ujian untuk lulus, ia menemukan pola imamatnya pada pribadi Yesus Kristus. Berbelas kasih pada Allah dan sesama. Solidaritas.

Maka ketika ditahbiskan sebagai uskup, Uskup Keuskupan Agung Semarang (1997-2010), ia mengambil semboyan “Aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati” (Kisah Para Rasul 20:19). Kerendahan hati dia hidupi sebagai keutamaan dasar yang memunculkan keutamaan-keutamaan lain. 

Menjadi uskup, prosesnya serupa seperti pengalaman rekan-rekan imam calon uskup. Romo Suharyo yang setelah tahbisan satu tahun diutus sebagai pastor rekan di Gereja St. Yusuf Bintaran, diutus belajar, kemudian sebagai dosen di Institut Filsafat Teologi St. Paulus Kentungan sebagai formator calon-calon imam, dipanggil ke Kedutaan Vatikan di Jakarta. 

Pronuncio menyampaikan surat dari Vatikan, isinya ia dipilih sebagai uskup KAS. Diminta berdoa di kapel, kemudian bertemu kembali dengan pronuncio, dinasihati, dan diminta kesediaannya. Itu saja. Rupanya memang harus bersedia sebagai bagian kaul ketaatan.

Proses berbeda dengan penunjukannya sebagai kardinal, kardinal ketiga di Indonesia setelah Kardinal Justinus Darmoyuwono (alm.) dan Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ. Ia tidak diminta kesediaannya lebih dulu, tapi langsung ditunjuk.

Kardinal Suharyo ketika menghadiri konklaf di Vatikan. Foto: REUTERS/Murad Sezer (5/5/2025).

Bukan Karier, Tapi Anugerah

Jabatan sebagai uskup itu bukan karier, tetapi panggilan dan anugerah. Bukan jenjang bertingkat setelah sebagai tertasbih lantas uskup.

Menjadi uskup dan kardinal, juga paus adalah anugerah. Seorang imam ditahbiskan sebagai uskup, ditunjuk sebagai kardinal dan dipililih sebagai paus karena dianggap bisa menjalani pelayanan yang lebih luas.

Dua kali sumpah yang dilakukan para kardinal ketika konklaf (proses pemilihan paus), pertama ketika memasuki pintu Kapel Sistina tempat konklaf berlangsung dan kedua ketika memasukkan kartu nama calon paus dalam kotak suara, kalimatnya sama: “saya hanya akan memilih yang dikehendaki Tuhan.” Sumpah kedua dilakukan di depan lukisan pengadilan akhir.  

Lima puluh tahun sebagai imam, uskup agung sejak 1997 di dua keuskupan dan diangkat sebagai kardinal sejak 2019, selain sebagai Uskup Militer sejak 2006, ia rutin-setia berbagi katekese kitab suci lewat online seminggu sekali dengan tajuk Api Karunia Tuhan sejak 2009 yang saat ini sedang memasuki topik tentang doa dalam Gereja.

Ia juga aktif terlibat dalam menyuarakan perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak hanya saat ini di Jakarta – pusat pemerintahan dan pusat kebijakan nasional diputuskan–tetapi juga sejak di Semarang maupun sebagai Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia tahun 2012-2018.

Tata kepemimpinannya yang partisipatif, transformatif dan empowering menguatkan harapan adanya sosok pemimpin (agama maupun politik) yang bukan penguasa.

Seorang penguasa berbeda dengan seorang pemimpin. Naluri penguasa berusaha memperbesar dan melanggengkan kekuasaan dan jabatan. Hati dan jiwa seorang pemimpin, menempatkan jabatan sebagai sarana pelayanan sehingga disegani dan dihormati bukan ditakuti.      

Belakangan ini, sejak awal tahun 2026, bersama sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat, Kardinal Suharyo terlibat dalam Gerakan Nurani Bangsa; gerakan moral yang menyuarakan hati nurani, mengkritik dan memberi masukan terhadap situasi politik dan sosial di Indonesia.

Di antaranya tentang isu-isu krusial wacana perubahan mekanisme Pilkada, etika kepemimpinan, kemerosotan moral yang bersumber pada nafsu serakah.

Uskup Agung Keuskupan Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo mengunjungi tenda ibu-ibu yang berdemo menolak rencana pembangunan pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Demo dilakukan di depan Istana. Foto: Tempo (5/10/2019).

Denyut Kehadiran

Ikut merayakan dan mensyukuri 50 tahun imamat Kardinal Suharyo, 26 Januari 2006, saya kebetulan baca buku tipis Denyut KehadiranMenemukan Kehidupan Rohani dalam Kasih Allah karangan Henri J.M. Nouwen, Kanisius 2025 yang diterjemahkan I. Suharyo tahun 1994. Aslinya berjudul Here and Now: Living in the Spirit.

Kardinal Suharyo memang dikenal sebagai rohaniwan yang membawa nama Henri J.M. Nouwen (alm.) dalam karya-karya reflektifnya ke bahasa Indonesia. Dari sekitar 45 buku yang ditulis Romo Nouwen, seorang imam diosesan kelahiran Belanda, lebih dari 34 buku diterjemahkan oleh I. Suharyo.

Buku-buku Henri Nouwen menarik perhatiannya dan mulai satu persatu dia terjemahkan sejak studi di IFT Kentungan, berlanjut ketika studi di Roma, dan diakuinya memperkaya kehidupan rohani dalam karya pelayanan yang dipercayakan padanya.

Menurut Kardinal Suharyo, Romo Henri Nouwen sangat menekankan pentingnya keheningan batin. Kedalaman hidup seseorang dapat dilihat dari kemampuannya untuk hening. Di situlah Allah bersemayam.

Ini cocok dengan dinamika hidup sejati yang dalam bahasa Jawa terumus neng (meneng, diam), ning (wening, jernih), nung (dunung, hakikat, kesejatian) (St. Sularto & Trias Kuncahyono, Terima KasihBaikLanjutkan, Obor 2016 cet. 1).    

Dalam No. 03 dengan judul “Penderitaan” buku Denyut Kehadiran, Romo Henri menyinggung tokoh Dalai Lama sebagai jalan menyikapi penderitaan. Sebagai pemimpin spiritual dan politik di Tibet, ia diusir dari negerinya dan menyaksikan pembunuhan, penganiayaan, penindasan dan pengusiran rakyatnya yang dilakukan secara terencana.

Tapi wajahnya yang memancarkan kedamaian dan kegembiraan, ramah dan tulus sama sekali tidak menyuarakan kebencian dan kepahitan terhadap orang-orang Cina yang merampas negerinya dan membunuh rakyatnya. Saya kutip, “Mereka adalah manusia yang berjuang untuk memperoleh kebahagiaan dan perlu menjadi sasaran belarasa kita.” (ibid.hlm.61).

Bela rasa (compassion), satu napas dengan semboyan kegembalaan Kardinal Suharyo sebagai uskup di Semarang maupun di Jakarta: Melayani Tuhan dengan rendah hati.

Tiga kata berurutan dan bertautan: “beriman, bersaudara, berbela rasa” yang dihidupinya ibarat mantra yang menggerakkan karya penggembalaan Kardinal Suharyo sebagai uskup yang semakin dirasakannya ketika di Keuskupan Agung Jakarta dibandingkan di KAS, alih-alih ketika sebagai dosen yang lingkupnya lebih sempit sebatas ruang kuliah. Itu pula yang menjadi tema kunjungan almarhum Paus Fransiskus ke Indonesia, 3-6 Septeber 2024: FaithFraternityCompassion.  

Gereja Katolik termasuk KAJ adalah bagian utuh masyarakat dan bangsa Indonesia. Dalam kehidupan politik, pedoman bakunya untuk kebaikan bersama. Dalam kehidupan ekonomi, kesejahteraan menjadi hak setiap orang.

Karena itu ketika ada penyalahgunaan kekuasaan seperti korupsi yang bersumber pada keserakahan, pengrusakan alam dan ketidakadilan, dengan sendirinya Gereja Katolik yang diwakili para Waligereja termasuk Uskup KAJ, tidak bisa diam. Secara etis-moral menyatakan keberpihakannya pada yang miskin, tertinggal dan tersingki sekaligus melakukan kritik untuk perbaikan.   

Kardinal Suharyo ingat ketika di tahun 1998 Surat Gembala KWI menyuarakan terjadinya kemerosotan moral yang merasuki seluruh kehidupan bangsa Indonesia, sekaligus menegaskan tentang adanya harapan.

Di tahun 2000 Surat Gembala KWI menyuarakan kondisi yang sama, sekaligus menyuarakan terus tegak dan teguhnya berpengharapan. Hari-hari ini di tengah kebisingan yang terjadi, terus diserukan Gereja Berpengharapan yang diupayakan secara damai-sinodal sejalan seruan Paus Leo XIV bersama seluruh warga bangsa dan masyarakat Indonesia.

Kalau begitu, mungkin benar juga sang dosen 45 tahun lalu, “yang ingin jadi uskup itu hanya orang bodoh”. Karena kerendahan hati yang menyatu dalam dirinya, Kardinal Suharyo sebagai Uskup KAJ kurang senang disapa dengan sebutan monsinyur atau tuan, lebih welcome disapa bapak uskup, romo uskup, atau uskup saja. Baginya istilah memangku jabatan lebih tepat daripada menduduki jabatan.

Kita bersyukur, berterima kasih dan berdoa untuk anugerah 50 tahun imamat Kardinal Ignatius Suharyo. Dirayakan dengan misa syukur, berlanjut pentas ketoprak rohani “Raja Airlangga Mandita” di Katedral Jakarta, sore ini!

Sugeng makaryo! (*)

Penulis: St. Sularto, Wartawan Senior

Leave A Reply

Your email address will not be published.