Murid Sejati Melalui Tindakan, Bukan Sekadar Keterkaitan Persaudaraan

0 27

Refleksi bacaan Selasa (27/1/2026) Romo Albert Herwanta, O.Carm.

Katolikana.com – Hari ini, Injil Markus mewartakan tentang Yesus yang mengajar banyak orang.

Saat itu orang memberitahu bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya telah datang dan berada di luar. Mereka ingin bertemu. Alih-alih berhenti, Ia menggunakan momen itu untuk menyampaikan pelajaran yang mendalam.

Ia bertanya kepada orang banyak, “Siapakah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku?”

Kemudian, sambil menunjuk kepada mereka yang mendengarkan-Nya, Ia menyatakan, “Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku” (Markus 3:33-35).

Pelajaran ilahi kehidupan
Percakapan singkat ini mengungkapkan dua pelajaran penting dan mendasar bagi siapa pun yang ingin mengikut Yesus. Apa itu?

Pertama, Yesus adalah Guru Agung. Ia secara cerdas memanfaatkan peristiwa sehari-hari sebagai kesempatan mengajar, mengubah kunjungan keluarga-Nya menjadi kebenaran rohani yang abadi.

Metode-Nya menunjukkan bahwa pelajaran ilahi terjalin dalam kehidupan kita sehari-hari yang menunggu untuk diterangi oleh hikmat-Nya.

Kedua, dan yang paling penting, Yesus mendefinisikan murid sejati melalui tindakan, bukan sekadar keterkaitan. Ia mengalihkan fokus dari ikatan biologis atau pendengaran yang pasif kepada ketaatan yang aktif. Keluarga-Nya—saudara laki-laki, saudara perempuan, dan ibu-Nya yang sejati—adalah mereka yang melakukan kehendak Allah.

Apakah kehendak Allah itu? Yesus telah meringkas kehendak itu dalam perintah utama, yakni mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Keanggotaan keluarga rohani
Oleh karena itu, keanggotaan dalam keluarga rohani Yesus bukanlah otomatis; hal itu bergantung pada pilihan kita untuk menghidupi perintah kasih ganda ini.

Keluarga ini melampaui segala batasan manusia—suku, sosial, atau ekonomi—menyatukan semua yang menaati kehendak Allah menjadi satu rumah tangga.

Perikop Injil hari ini menantang kita: Apakah kita ini hanya sekadar pendengar, menyimak ajaran Yesus, ataukah kita pelaksana aktif yang menghayati kehendak Allah melalui kasih dan pelayanan yang praktis dan nyata?

Tempat kita dalam keluarga kekal Kristus ditentukan bukan oleh apa yang kita dengar, tetapi oleh bagaimana kita taat menanggapi dan menghayatinya.

Kekerabatan sejati dengan Tuhan Yesus ditempa dalam praktik sehari-hari.

Konkretnya, dengan mengasihi Allah dan mengasihi sesama.

Apakah kita telah mewujudkannya dalam hidup kita?

Selasa, 27 Januari 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.