Mama-mama di Zanegi, Merauke dan Jalan Sunyi Laudato Si’

0 59

Jalan Tanah

Sebulan di Zanegi, banyak tambang kisah kehidupan perempuan Zanegi didulang.

Kala itu, 2014, saya melakukan riset lapangan untuk penulisan tesis tentang dampak MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) terhadap ekonomi keluarga di Zanegi.

Di Zanegi,  ada tiga orang guru, satu bidan kampung dibantu 3 asisten mama Zanegi. Ada bangunan sekolah tiga ruangan, satu pustu (puskesmas pembantu), satu bangunan gereja yang mampu menampung kurang lebih 100 jiwa. Posisi Kampung Zanegi berbentuk salib. Ada jalan melintang lurus dari pintu masuk kampung, serta jalan lain membentuk palang di tengah jalan itu. Pepohonan tidak padat. Ada sedikit pohon kelapa, nangka, pisang, rambutan, durian, dan di ujung kampung ada sehalaman kebun, dan sepetak sawah.

Kampung itu unik. Sungguh membekas dalam jiwa saya.

Hampir setiap hari ada mama dan anak yang sakit dan dirawat di pustu. Bidan tak lagi punya waktu untuk kembali ke kota Merauke. Untuk belanja kebutuhan rumah tangga dan jualan di kiosnya, sang suami yang lakukan itu.

Kisah siang ini masih terus menggema.

Angin berhembus teduh menghempas panas yang mengeringkan Zanegi.

Duduk bersamaan dengan sejumlah mama Zanegi di para-para depan rumah bidan. Kami berkisah tentang Zanegi tempoe doeloe, kala misionaris MSC Belanda menginjakkan kakinya di sini. Lalu diganti para misionaris pribumi (Indonesia). Datang silih berganti. Ada misionari yang  bermalam 3 hari, ada pula yang sekedar lewat karena harus mengunjungi kampung tetangga di Baad, Wayau, Tamulik, hingga turun ke Ivimaad lalu kembali ke Kumbe. Kisah para misionaris itu mengharukan, namun juga meneguhkan iman, pengharapan dan kasih.

Tertutur pula dari mulut mama-mama Zanegi kisah tentang tanah, pohon, kali, rawa, sungai, ikan, rusa, babi, daun nipa, pohon bus, dan masih banyak lagi ekosistem endemik yang rahasianya terkuak di situ.

Ada kisah tentang MIFEE di sana. Apa itu? Nyaris tak ada kata yang tuntas membahasakan wajah bengis itu menyusup masuk ke ruang hidup mama-mama di Zanegi.

Zanegi adalah salah satu kampung di tepian zona kali Mbian Merauke. Dalam kewilayahan keuskupan, Zanegi adalah stasi dari Paroki Kumbe, Keuskupan Agung Merauke. Perjalanan dengan sepeda motor dari Kumbe ke Zanegi, dengan kondisi jalan berbadan tanah tanpa aspal, lebar sekitar 8 meter, dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam.

Saya terkagum dalam hening, sambil menghitung denyut jantung yang terasa fluktuatif. Ia tidak sakit, hanya gelisah: naik, turun, lalu menetap sebentar. Seperti ada sesuatu yang merasuk masuk. Bukan suara keras, bukan perintah, melainkan bisikan yang pelan namun tegas. Mungkin begini cara wahyu bekerja: hadir tanpa gegap gempita, tetapi cukup kuat untuk membuat kita berhenti dan mendengar.

Dan, di titik inilah esai ini berangkat. Bukan dari kemarahan, bukan dari tudingan, melainkan dari keinginan untuk memahami bagaimana ‘Mama Zanegi’ membaca Laudato Si’

Tampak di raut: matanya terbelalak, jidatnya mengerut, jiwanya menggelora, nafasnya mendesah tanda niat yang  membara ingin memahami isi Laudato Si’.  Semuanya dilakukan dengan balutan genangan air mata di pipi.

Jiwa itu Bernama Laudato Si’

Ia lahir bukan dari ruang hening yang steril, melainkan dari dunia yang gaduh oleh krisis. Disahkan Paus Fransiskus pada  2015 dan dirilis sebulan kemudian, ensiklik ini sengaja dihadirkan menjelang COP21 Paris – sebuah isyarat bahwa Gereja memilih masuk ke jantung perdebatan global, bukan berdiri di pinggir altar. Judulnya dipinjam dari nyanyian Santo Fransiskus dari Assisi, suatu pujian yang lembut, namun diarahkan pada bumi yang merintih. Pada perempuan yang pertama menangis.

Pusat nalar Laudato Si’ sederhana namun radikal: krisis lingkungan bukan krisis teknis semata, melainkan krisis moral (paradigmatik). Paus menolak pemisahan palsu antara kerusakan alam dan penderitaan manusia. “Kita tidak menghadapi dua krisis  yang terpisah, melainkan satu krisis sosio-lingkungan,” tulisnya. Di sini, ekologi integral bekerja sebagai lensa: ekonomi, budaya, politik, dan iman saling kawin mawin (dengan mas kawin iman). Bumi bukan objek, manusia bukan penguasa tunggal. Keduanya berada dalam relasi yang menuntut tanggung jawab.

Di sini, bonum commune – kebaikan bersama – mendapatkan ukurannya. Tidak berhenti di pertumbuhan, juga bukan angka, apalagi janji. Kebaikan bersama diuji pada siapa yang menanggung beban paling berat dari pembangunan, dan siapa yang diberi kuasa oleh otoritas untuk mengajar. Laudato Si’ menegaskan bahwa dampak krisis ekologis paling parah menimpa mereka yang paling miskin dan paling rentan, yaitu perempuan dan anak. Karena itu, otoritas yang  mendorong pembangunan yang merusak rumah bersama pertanda sedang berada di titik tengah perjalanan.

Paus Fransiskus juga menohok “budaya sekali pakai”, suatu logika konsumsi yang memperlakukan alam – dan manusia – sebagai barang habis pakai. Di sinilah ensiklik ini menjadi cermin yang tak nyaman. Politik global dinilai lamban, kepentingan ekonomi terlalu sering mengalahkan tanggung jawab etis. Gereja lalu mengambil peran bukan sebagai teknokrat melainkan sebagai penuntut nurani yang mendengar. Seruannya jelas: pertobatan ekologis. Perubahan gaya hidup. Perpindahan titik pijak. Keputusan kolektif yang cepat dan terpadu. Bersama dengan mereka yang paling pertama terdampak.

Dibaca dari tanah-tanah yang terluka, Laudato Si’ menuntut lebih dari sebatas kutipan (mentereng). Ia meminta pembacaan yang jujur dan niat batin yang menggerakan keputusan dan kebijakan. Apakah pembangunan sungguh diarahkan pada kebaikan bersama, misalnya untuk keselamatan perempuan dan anak kini, atau berhenti pada bungkusan narasi bernama kesejahteraan? Apakah relasi dengan tanah menghormati sejarah dan martabat, atau mengulang pola ekstraksi lama dengan istilah baru (MIFFE beranak PSN)?

Di titik ini, Laodato Si’ bertemu Gaudium et Spes tentang destinasi universal harta benda. Tanah memiliki fungsi sosial – bukan untuk dimonopoli, tetapi untuk menghidupi. Hak ulayat diakui bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai penopang ekologi integral. Pembangunan yang mengabaikan prinsip ini mungkin sah (administratif dan politik pembangunan) tetapi rapuh secara moral.

Ensiklik ini historis karena keberaniannya: ia ditujukan kepada semua orang, bukan hanya umat Katolik. Sejujurnya, ini keberanian gereja yang keterlaluan. Namun patut dicatat bahwa di sini Ia mengajak dialog universal tentang masa depan bumi, seraya mengingatkan bahwa iman tanpa tanggung jawab sosial adalah devosi yang timpang. Dalam bahasa yang tenang, Paus Fransiskus mengembalikan etika ke pusat kebijakan.

Laudato Si’ mengajak kita berhenti sejenak. Mendengar teriakan bumi dan teriakan orang miskin, teriakan mama-mama di Zanegi, Wanam, Tagaepe, Nakias, dan sebagainya. Menimbang keputusan bukan hanya dari hasil, tetapi dari niat. Niat yang timbul dari perjumpaan yang mendengarkan.

Anak-anak usia sekolah harus mengikuti orang tuanya yang sedang mencari makanan di tepi kali Bian, yang letaknya  jauh dari kampung Zanegi, tepatnya di Tamulik. Mereka melakukan itu karena hutan dan rawa di sekitar kampungnya sudah dibabat dan ditimbun untuk hutan tanaman industri (HTI). Foto: Laurens Minipko

‘Mama Zanegi’ dengan Kamboti di Kepala

‘Mama Zanegi’ bukan istilah romantik. Ia bukan metafora yang lahir dari seminar. Ia bukan tubuh yang dikontemplasikan di ruang doa. Ia adalah tubuh nyata yang menanggung beban paling awal ketika tanah dibuka, hutan ditebang, janji kesejahteran yang dimimpikan, dan proyek diberi nama “Mama MIFFE”, dan kini hadir sebagai “anak kandungnya” yang dikenal dengan Proyek Strategis Nasional (PSN).

‘Mama Zanegi’ adalah  perempuan yang hidup di simpul paling rapuh dari struktur sosial orang Papua Selatan: rentan karena jenis kelamin, disingkirkan oleh pembagian peran adat dan negara sekaligus. Mereka memikul kerja reproduktif tanpa upah (tanpa jenjang pendidikan dan gelar akademik), dan kehilangan akses paling dasar terhadap pangan, tanah, dan hutan – ruang hidup yang sejak lama dirawat tanpa sertifikat.

Ketika hutan ditebang hari ini,  mama Zanegi tidak menunggu kajian AMDAL (analisis dampak lingkungan). Besok pagi ia sudah berhadapan dengan piring kosong, anak-anak lapar, dan beban kerja yang berlipat. Janji kesejahteraan selalu datang belakangan: dua tahun, lima tahun, entah kapan – sementara hidup menuntut jawaban hari ini. Bahkan hidup hari ini tidak menuntut khotbah.

Di sinilah, Laudato Si’ dibaca bukan sebagai dokumen gereja berlabel ensiklik, melainkan sebagai kesaksian sunyi: bahwa merawat bumi berarti bergantung padanya. Mama-mama di Zanegi memahami itu tanpa perlu istilah yang rumit, karena tubuhnya sendiri telah lama menjadi arsip kerusakan dan ketabahan yang dipikulnya di dalam kamboti di kepalanya.

Kejujuran adalah Jiwa Hukum

Jika hukum hendak jujur pada nuraninya sendiri, ia mesti berani memeriksa mens rea dari kebijakan: niat yang tahu betul akibatnya, namun tetap berjalan. Di tanah yang ditebang hari ini, kelaparan datang esok pagi, sementara janji kesejahteraan ditunda menjadi masa depan. Di situlah mama Zanegi, dengan tubuh yang bekerja dan iman yang merawat, ‘membaca’ Laudato Si’ tanpa buku: bahwa ciptaan bukan komoditas, dan keadilan ekologis tidak boleh menunggu dalam kata janji.

Maka seperti kata Sambanem Bonevasius Gebze, seorang tokoh umat di Zanegi bahwa perkara ini bukan soal siapa menang di meja sidang, melainkan apakah hati bersedia bersaksi. Sebab hukum tanpa niat baik hanyalah palu. Dan, palu yang dipukul berulang, pada akhirnya selalu tahu apa yang ia hancurkan. (*)

Editor: Basilius Triharyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.