Di Depan Kelas, Saya Belajar Menjadi Guru

0 37

Macro teaching adalah praktik mengajar langsung di kelas nyata yang melatih calon guru menerapkan teori pedagogi, mengelola dinamika peserta didik, dan merefleksikan kehadiran serta profesionalitasnya sebagai pendidik.

Oleh Elia Gita Br. Ginting

Delitua, Katolikana.com—Hari pertama berdiri di depan kelas bukan sekadar “menguji” kesiapan mengajar. Ia seperti cermin yang tiba-tiba diletakkan tepat di wajah: memperlihatkan gugup, ragu, dan keterbatasan—tetapi sekaligus membuka jalan bagi sesuatu yang lebih dalam.

Di sanalah saya mulai mengerti bahwa mengajar tidak pertama-tama soal seberapa rapi materi disusun, melainkan soal seberapa utuh seorang guru hadir di hadapan anak-anak yang nyata.

Di bangku kuliah di STP Santo Bonaventura Medan, saya belajar teori pedagogi, perencanaan pembelajaran, strategi, metode, dan evaluasi.

Namun ketika pintu kelas terbuka, teori itu berjumpa dengan realitas yang bergerak: peserta didik dengan karakter yang beragam—yang antusias, yang pendiam, yang mudah terdistraksi, juga yang perlu lebih banyak waktu untuk percaya. Sejak momen itu, saya mulai memahami: kelas bukan ruang demonstrasi kemampuan, melainkan ruang perjumpaan.

Ketika Teori Berjumpa dengan Realitas Kelas

Macro teaching mengajarkan satu hal yang sederhana namun menentukan: guru tidak bisa “mengajar dari jauh.” Guru mesti hadir—dengan perhatian, kesabaran, dan ketegasan yang manusiawi.

Rasa gugup, takut salah, dan cemas tidak hilang begitu saja. Tetapi justru karena itu saya belajar berjalan pelan-pelan: menata napas, memulai dengan yang paling mungkin, dan membangun kepercayaan diri lewat pengalaman yang berulang.

Saya belajar bahwa profesionalitas dalam mengajar tidak lahir dari kesempurnaan metode, melainkan dari kesiapan untuk bertumbuh: mengakui kekurangan, menerima masukan, dan memperbaiki diri. Macro teaching menjadi ruang latihan yang menyatukan tiga hal sekaligus—teori, praktik, dan refleksi—secara konkret, bukan sekadar konsep.

Kesadaran ini sejalan dengan roh Gravissimum Educationis (1965), yang menegaskan pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan pembentukan pribadi manusia secara utuh: jasmani, moral, dan intelektual.

Maka, hadir di kelas bukan aktivitas teknis belaka. Ia menyentuh wilayah pembentukan manusia—dan itu berarti menuntut hati, bukan hanya kepala.

Belajar Menjadi Guru di SD Negeri 101800 Delitua

Kesempatan macro teaching di SD Negeri 101800 Delitua menjadi pengalaman yang sangat berarti. Sekolah ini bukan hanya lokasi praktik, melainkan ruang pertama tempat saya sungguh belajar menjalani peran sebagai guru.

Selama Senin (15/7/2024) hingga Sabtu (24/8/2024), saya menjalani dua belas kali pertemuan mengajar yang perlahan membentuk cara pandang saya tentang dunia pendidikan.

Di sana saya menyadari bahwa perencanaan pembelajaran—modul ajar, rancangan aktivitas, media, dan evaluasi—tidak cukup berhenti sebagai kelengkapan administratif.

Rencana yang rapi sering kali perlu disesuaikan dengan suasana kelas, kondisi emosional peserta didik, dan dinamika yang tidak selalu bisa diprediksi. Dari pengalaman itu, saya belajar: guru bukan hanya pengajar materi, tetapi pembaca situasi—yang perlu lentur tanpa kehilangan arah.

Ajakan Paus Fransiskus dalam Global Compact on Education (2020) terasa relevan: pendidikan perlu berani keluar dari pola-pola kaku dan menanggapi realitas konkret kehidupan peserta didik. Bagi saya, fleksibilitas dan kepekaan bukan tanda kelemahan. Justru di situlah “kekuatan pastoral” seorang pendidik bekerja: mengajar sambil merawat manusia.

Antara Rencana dan Kenyataan di Ruang Kelas

Dalam masa macro teaching, saya dipercaya mengajar Pendidikan Agama Katolik secara tatap muka di kelas I dan kelas III, mengikuti Kurikulum Merdeka yang menekankan partisipasi aktif dan pendekatan kontekstual. Tidak semua berjalan sesuai rencana. Ada kalanya metode yang saya siapkan kurang efektif; ada saat peserta didik sulit fokus; ada momen saya sendiri perlu menata ulang ritme.

Di titik-titik seperti itu, saya menemukan pelajaran yang paling mendasar: pembelajaran yang bermakna kerap lahir bukan dari teknik yang sempurna, melainkan dari relasi yang terbangun. Dialog sederhana, apresiasi kecil, perhatian personal—semuanya membuka pintu keterlibatan. Anak-anak merasa dilihat, bukan sekadar dinilai.

Pengalaman ini mengingatkan saya pada semangat pendidikan Santo Yohanes Bosco: pendidikan yang menyentuh hati. Bukan berarti intelektualitas dikesampingkan, melainkan ditempatkan dalam bingkai yang lebih manusiawi—bahwa pengetahuan bertumbuh lebih subur ketika anak merasa aman dan dihargai.

Pendidikan sebagai Kerja Bersama

Lingkungan SD Negeri 101800 Delitua juga menegaskan bahwa pendidikan bukan proyek individual. Suasana sekolah yang bersih dan asri membantu terciptanya ruang belajar yang nyaman. Lebih dari itu, relasi antara guru, peserta didik, dan orang tua menunjukkan bahwa pembelajaran bertumbuh melalui kerja sama.

Saya merasakan betapa pentingnya dukungan kepala sekolah, bimbingan guru pamong, keterlibatan orang tua, dan suasana komunitas sekolah yang saling menopang. Di sini, peran guru menjadi jelas: bukan pusat segala hal, melainkan bagian dari jaringan yang bergerak bersama demi pertumbuhan anak-anak.

Gereja juga mengingatkan dalam Evangelii Gaudium (2013) bahwa pewartaan iman—yang tak terpisah dari pendidikan—bersifat komunal: tumbuh lewat relasi, dialog, dan keterlibatan banyak pihak. Pendidikan yang hidup selalu lahir dari kebersamaan.

Bertumbuh di Tengah Keterbatasan

Selama macro teaching, saya juga berhadapan dengan keterbatasan: minimnya buku ajar, penggunaan ruang belajar bersama, serta jumlah peserta didik Katolik yang relatif sedikit. Keterbatasan itu menuntut kreativitas dan refleksi: bagaimana membuat pembelajaran tetap relevan, tetap menyala, dan tetap menyentuh.

Dalam proses evaluasi berkala dan bimbingan yang terus-menerus, saya belajar menyusun apersepsi yang lebih tepat, memperbaiki cara menyampaikan materi, serta menyesuaikan metode dengan kondisi kelas. Tantangan ini mengajar saya satu hal penting: menjadi guru berarti terus belajar, berani beradaptasi, dan tidak cepat menyerah.

Di sini saya teringat teladan Santa Teresa dari Kalkuta: kesetiaan dalam pelayanan sering kali lebih menentukan daripada ukuran keberhasilan yang terlihat. Keterbatasan bukan selalu tanda kegagalan; kadang ia justru ruang pemurnian—tempat ketekunan dibentuk.

Mengajar sebagai Kesaksian Hidup

Bagi saya, panggilan menjadi guru Pendidikan Agama Katolik melampaui tugas mengajar. Mengajar adalah menemani—mendampingi peserta didik dalam pertumbuhan rohani, membangun kepekaan hati, dan menuntun mereka mengenal kasih Allah dalam keseharian. Maka, pewartaan iman tidak berhenti pada kata-kata. Ia hadir lewat sikap, kesabaran, cara menegur, cara mendengar, dan keteladanan yang konsisten.

Macro teaching membuat saya memahami bahwa kualitas kehadiran jauh lebih bermakna daripada lamanya waktu mengajar. Di ruang kelas, saya belajar bahwa saya tidak hanya “menyampaikan,” tetapi juga “membawa diri”—membawa iman, membawa nilai, membawa niat untuk melayani.

Dalam semangat Santo Agustinus, seorang pendidik dapat berbicara kepada telinga, tetapi hanya Tuhan yang menyentuh hati. Kesadaran itu menolong saya menjaga kerendahan hati: tugas saya adalah menabur dengan setia—dan mempercayakan pertumbuhan pada Tuhan yang bekerja dalam proses yang pelan, tetapi nyata. (*)

Kontributor: Elia Gita Br. Ginting, Mahasiswi Sekolah Tinggi Pastoral Santo Bonaventura Keuskupan Agung Medan


Referensi
Fransiskus, Paus. (2020). Global Compact on Education.
Paulus VI. (1965). Gravissimum Educationis.
Fransiskus, Paus. (2013). Evangelii Gaudium.

Leave A Reply

Your email address will not be published.