Deli Serdang, Katolikana.com—Jantung saya berdebar ketika pertama kali naik mimbar sebagai pemazmur. Teks mazmur sudah saya hafal, tetapi yang membuat saya gugup justru bukan bacaan, melainkan kesadaran sederhana: ini kali pertama saya sungguh hadir di tengah umat—bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pelayan.
Saya takut salah, takut canggung, takut dinilai. Namun kekhawatiran itu pelan-pelan luruh ketika saya melihat senyum-senyum yang menyambut, sapaan yang hangat, dan cara umat menerima kami seperti keluarga.
Weekend Pastoral ini adalah pengalaman pertama saya berpastoral. Sebelum masuk STP, saya belum pernah terlibat langsung dalam pelayanan pastoral. Karena itu, perutusan ini terasa istimewa sekaligus menantang.
Saya belajar bahwa pastoral bukan sekadar menjalankan tugas. Pastoral adalah keberanian untuk hadir: membuka diri, belajar mendengarkan, dan membiarkan hati disentuh oleh kehidupan orang lain—dalam hal-hal yang sering tampak kecil, tetapi justru paling bermakna.
Diutus dan Diterima
Pada Sabtu (24/2/2024), saya bersama empat rekan diutus ke Kuasi Paroki St. Paskalis Diski Deli Serdang, dengan bimbingan RP. Konstantinus Lakat, CMF.
Perutusan ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah latihan meninggalkan “zona nyaman” untuk bertemu Gereja yang hidup—Gereja yang hadir melalui wajah-wajah umat, percakapan sederhana, dan kisah harian yang kadang jauh dari romantika buku teks.
Hari-hari awal terasa canggung. Saya masih menyesuaikan diri dengan ritme paroki, cara umat berinteraksi, dan dinamika pelayanan. Tetapi saya segera belajar satu hal: kepercayaan tidak lahir dari program yang megah. Kepercayaan lahir dari kesediaan tulus untuk hadir dan belajar.
Pengalaman ini mengingatkan saya pada seruan Paus Fransiskus tentang Gereja yang “keluar”—Gereja yang tidak menunggu umat datang, tetapi berani melangkah mendekat, menyapa, dan berjalan bersama.
Dalam praktiknya, “keluar” sering berarti hal yang sangat sederhana: duduk bersama, mendengar tanpa menghakimi, dan hadir tanpa banyak gaya. Di sanalah pewartaan iman terasa paling jujur.
Mengenal Kuasi Paroki St. Paskalis Diski
Kuasi Paroki St. Paskalis Diski diresmikan pada Selasa (4/12/2018) sebagai pemekaran dari Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai. Lokasinya berada di Jalan Medan–Binjai Km. 14,5, Diski, Paya Geli, Kabupaten Deli Serdang.
Pelayanan pastoralnya dipercayakan kepada imam-imam CMF yang mendampingi umat dalam konteks masyarakat yang majemuk.
Berdasarkan data Biduk per Senin (5/2/2024), kuasi paroki ini menaungi sekitar 694 kepala keluarga atau 2.613 jiwa, dengan latar suku, budaya, dan pekerjaan yang beragam.
Umat Katolik hidup berdampingan dengan masyarakat mayoritas Muslim. Bagi saya, situasi ini bukan “kendala”, tetapi kesempatan: ruang untuk menumbuhkan persaudaraan, dialog, dan kesaksian hidup yang nyata.
Sejarah Gereja Katolik di Diski berawal dari kerinduan 25 kepala keluarga yang ingin memiliki tempat ibadah sendiri. Pada masa awal, umat bahkan sempat beribadah di gereja Protestan. Ibadat kemudian dilakukan dari rumah ke rumah, hingga pada 1963 umat memperoleh lahan di Jl. Medan–Binjai dan membangun gereja darurat.
Dua tahun kemudian, gereja direnovasi menjadi permanen dan mulai melayani sakramen-sakramen. Pada 1980, Stasi Diski resmi menjadi bagian Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai. Lalu pada 1983, Santo Paskalis ditetapkan sebagai pelindung.
Gereja di Diski bertumbuh menjadi 13 lingkungan, dilengkapi menara, taman, dan Gua Maria. Dalam perkembangan itu, saya menangkap satu pesan: Gereja bukan pertama-tama bangunan. Gereja adalah umat yang bertahan, merawat iman, dan terus berjalan meski dalam keterbatasan.
Melangkah Lebih Dekat di Stasi Sei Mencirim
Perjalanan pastoral kami tidak berhenti di pusat kuasi paroki. Saya bersama seorang rekan ditempatkan di Stasi St. Yohanes Pembaptis Sei Mencirim selama enam minggu. Di sinilah makna “hadir” diuji sekaligus diperdalam.
Umat di stasi ini—sekitar 200 jiwa—tinggal tersebar dan jarak ke gereja bagi sebagian orang tidak dekat. Aktivitas harian yang padat membuat ritme perjumpaan tidak selalu mudah. Tetapi saya menemukan umat yang sederhana, terbuka, dan sungguh rindu akan perhatian Gereja.
Salah satu momen yang membekas adalah ketika saya mengunjungi seorang nenek yang tinggal sendiri. Percakapan kami singkat—tentang doa, kesehatan, dan keseharian—tetapi senyum yang muncul setelahnya membuat saya sadar: pastoral kadang bukan tentang “banyaknya” yang kita lakukan, melainkan tentang “ketepatan” kita hadir pada waktu yang dibutuhkan.
Di stasi, peran Ketua Dewan Stasi dan para ketua lingkungan terasa sangat vital. Mereka memimpin ibadat, mengatur kegiatan, dan menjadi penghubung antara umat dan pelayanan Gereja. Dari mereka saya belajar bahwa Gereja bisa tetap hidup bahkan ketika fasilitas terbatas, selama umat awam memberi diri dengan setia.

Liturgi yang Menghidupkan, Pelayanan yang Dilatih
Selama Weekend Pastoral, saya terlibat dalam pelayanan liturgi sebagai pemazmur, lektor, pendoa umat, organis, dan kolektan. Saya semakin mengerti bahwa liturgi bukan sekadar rangkaian bacaan dan gerak. Liturgi adalah ruang perjumpaan umat dengan Allah, sekaligus ruang pembentukan iman.
Di lapangan, saya melihat tantangan yang nyata: belum semua umat berani terlibat, sehingga tugas liturgi sering dijalankan oleh orang yang sama. Situasi ini mengingatkan saya bahwa partisipasi umat bukan sesuatu yang otomatis. Ia perlu pendampingan yang sabar, penguatan yang konsisten, dan suasana yang membuat umat merasa aman untuk belajar.
Katekese Anak: Iman Bertumbuh dari Relasi
Pengalaman yang paling hangat bagi saya justru datang dari pendampingan anak-anak melalui BIA dan SEKAMI. Aktivitas sederhana—Minggu Gembira, pengajaran tanda salib, pengenalan Injil—ternyata menyimpan daya yang besar.
Yang paling berkesan bukan hanya “materi”, melainkan relasi. Tawa anak-anak, antusiasme mereka menjawab, dan cara mereka menunjukkan kepercayaan membuat saya mengerti: iman anak-anak tumbuh terutama lewat cinta yang nyata.
Pernah suatu kali seorang anak memanggil saya “Om” sambil memperagakan doa yang baru ia pelajari. Momen kecil itu terasa seperti pengingat: pendampingan iman bukan produksi pengetahuan, melainkan penanaman rasa aman dan kasih.
Hadir dan Mendengarkan: Pastoral Umat yang Paling Nyata
Semakin lama tinggal bersama umat, saya semakin mengerti bahwa pastoral paling sering terjadi di ruang-ruang yang tidak terdokumentasi: mengunjungi yang sakit, duduk di teras rumah, mendengar keluh-kesah, berbagi cerita keluarga, dan mendoakan harapan-harapan yang sederhana.
Suatu hari saya menemani seorang bapak tua membaca doa di rumahnya. Kami duduk di bangku kayu, berbincang ringan tentang keluarga dan harapannya, lalu menutup dengan doa bersama. Tidak ada acara besar. Tidak ada panggung. Tetapi saya pulang dengan keyakinan baru: kehadiran, sekecil apa pun, bisa menjadi cara Gereja mewartakan kasih Allah secara nyata.
Dalam terang Injil tentang Gembala yang Baik, saya belajar bahwa mendampingi umat bukan hanya soal “mengatur kegiatan”, melainkan soal mengenal, berjalan bersama, dan tetap tinggal—meski sebentar—di sisi mereka.
Pulang dengan Pengalaman yang Mengubah
Weekend Pastoral ini bukan hanya bagian dari pendidikan, melainkan perjalanan batin yang mengubah cara saya memandang pelayanan. Keterbatasan di lapangan tidak mematikan semangat, justru membuka ruang pertumbuhan: belajar peka, belajar sabar, belajar menata diri, dan belajar menjadi pelayan yang tidak sibuk “tampil”, tetapi sungguh hadir.
Pengalaman di Kuasi Paroki St. Paskalis Diski dan Stasi St. Yohanes Pembaptis Sei Mencirim menegaskan satu hal: pastoral bukan tentang banyaknya yang dikerjakan, melainkan tentang ketulusan untuk hadir. Dari sana saya pulang dengan hati yang diperkaya, iman yang diteguhkan, dan panggilan pastoral yang terasa lebih matang. (*)

Mahasiswa STP St. Bonaventura KAM