Kutipan testamen rohani Venerebilis Yohanes Berthier, MS tertanggal 8 September 1907 tentang Keluarga Kudus.
Surakarta, Katolikana.com – Perayaan Ekaristi Syukur 100 Tahun Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) berkarya di Indonesia (1926–2026) yang dirayakan Provinsi Jawa diselenggarakan di Gereja Santo Paulus Paroki Kleco Surakarta, pada Selasa (24/2/2026).
Mengapa dirayakan pada 24 Februari 2026 tidak dirayakan pada 27 Februari 2026 bertepatan dengan sejarah pertama para misionaris MSF memulai karya misi di Indonesia?
Jawaban atas pertanyaan ini disampaikan oleh Provinsial MSF Propinsi Jawa Romo Yohanes Risdiyanto, MSF. Pertama tanggal 27 Februari 2026 jatuh hari Jumat. Hari Jumat merupakan hari pantang. Kedua tanggal 24 Februari peringatan hari kelahiran Pater Jean Berthier pendiri MSF. Sehingga 24 Februari 2026 dipilih sebagai Hari Perayaan 100 Tahun MSF Berkarya di Indonesia sekaligus memohon doa Pater Berthier untuk meneguhkan harapan lahirnya imam-imam baru MSF.

Refleksi karya MSF
Tulisan ini merupakan refleksi yang dibacakan pra Misa 24 Februari 2026.
Seratus tahun mengingatkan kehadiran dan karya MSF bukan sekadar “pernah ada”, tetapi sungguh nyata, berakar, dan memberi warna khas dalam penziarahan Gereja Katolik di Indonesia.
Syukur dihunjukkan terutama karena karya Allah yang menyertai para Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan setiap pribadi yang berjalan bersama para Misionaris itu selama 100 tahun ini di tanah air tercinta, Indonesia.
Tiga puluh satu tahun setelah kongregasi MSF didirikan dan 18 tahun setelah wafat pendiri MSF Venerabilis Yohanes Berthier, 3 misionaris MSF, yaitu: Pater Friederich Groot, MSF, Pater J. van der Linden, MSF dan Bruder Egidius Stoffels, MSF, pada tanggal 27 Februari 1926 menjejakkan kaki di Laham, sebuah daerah pedalaman di pinggir sungai Mahakam, Kalimantan Timur, yang menjadi lahan pertama mereka untuk mewartakan Injil Tuhan di Indonesia.
Peristiwa sejarah itulah yang akan disyukuri. Kehadiran mereka menjadi tonggak bagi karya Allah melalui kongregasi MSF di Indonesia. Kegigihan dan pengorbanan mereka telah membantu menaburkan dan mengembangkan benih Sabda di Nusantara.
Secara konkret, buah pelayanan itu dapat dilihat dari kepercayaan Gereja yang menyerahkan wilayah-wilayah misi penting, terutama di Kalimantan.
Saat ini ada beberapa keuskupan dipimpin para uskup dari MSF—sebuah tanda bahwa benih pelayanan itu tumbuh menjadi pohon yang menaungi banyak jiwa.
Di tengah kehidupan Gereja Indonesia, jejak pelayanan para gembala MSF juga dikenal memiliki arah yang khas: menguatkan kehidupan keluarga.
Dalam naungan Keluarga Kudus Nazareth dan dalam perlindungan Bunda Maria La Salette para Misionaris Keluarga Kudus telah berkembang, hingga saat ini berkarya di 11 keuskupan di Indonesia.
Bahkan dari rahim tanah air Indonesia telah diutus sebagai anggota Misionaris Keluarga Kudus ke Filipina, Italia, Prancis, Jerman, Amerika Serikat, Chile dan Argentina.
Lebih jauh lagi, peran MSF melampaui batas Gereja lokal. Di tingkat Gereja universal, saat ini Superior Jenderal MSF berasal dari Indonesia, dan di Indonesia sendiri MSF bertumbuh dengan dinamika yang indah melalui dua provinsi: Provinsi Jawa dan Provinsi Kalimantan.
Tantangan yang makin kompleks
Berakar pada spiritualitas Keluarga Kudus Nazaret, MSF secara konsisten menaruh perhatian pada pastoral keluarga dan penguatan keluarga sebagai “Gereja kecil.” Namun kita pun sadar: tantangan keluarga zaman ini makin kompleks, terlebih di era digital yang masuk sampai ruang paling privat kehidupan keluarga.
Karena itu, perayaan 100 tahun ini bukan hanya momentum syukur, tetapi juga saat refleksi untuk menatap masa depan dengan iman yang dewasa dan semangat yang baru.
“Dalam perayaan Ekaristi ini, kami para anggota Misionaris Keluarga Kudus, ingin pula mengucapkan syukur kepada Allah untuk Anda semua, yang berjalan bersama dengan kami untuk mendengarkan, mencerna, melaksanakan dan mencintai Sabda Kristus di bumi Indonesia ini. Tanpa Anda semua sebagai tanah subur bagi bertumbuhnya Sabda, karya Misionaris Keluarga Kudus tidak akan ada artinya”, kata Romo Stefanus Krisna Bayu Sulistyo, MSF membacakan refleksi.
Inspirasi Pater Berthier
Tahun 24 Februari, 186 tahun yang lalu Venerabilis Yohanes Berthier, MS, bapa Pendiri MSF dilahirkan di Chatonnay, Prancis Selatan. Maka patut pula hari ini kita bersyukur atas hidupnya, atas inspirasi kudus yang diterimanya sehingga mendirikan kongregasi Misionaris Keluarga Kudus.
Alangkah baik, bila sebelum memulai Ekaristi Kudus ini kita mendengar kutipan testamen rohaninya, tertanggal 8 September 1907:
“O… Keluarga Kudus, di bawah perlindunganmulah kutempatkan karya kecil ini sejak semula. Kepadamulah kupercayakan Kongregasi ini kala aku meninggalkannya. Karena engkaulah, segala yang baik telah terjadi di rumah ini, juga di atas mereka yang tidak bertahan di rumah ini; karena engkualah keluarga ini berkembang dalam damai dan semangat yang luhur.
Berkenanlah melindunginya senantiasa. Tumbuhkanlah keutamaan-keutamaan yang kami usahakan agar mereka hayati di bawah teladanmu; jauhkanlah semangat duniawi, ambisi, kesombongan, nafsu menjadi kaya dan interes dunia.
Aku tidak mempunyai suatu ikrar, selain ingin melihat sebelum meninggal, keluarga ini berkembang dalam semangatmu, dan dijiwai oleh semangat itu juga bertambah besar jumlahnya, demi kebaikan mereka kemudian hari dan juga bagi mereka yang akan memasukinya, dan yang akan mereka bina dengan contoh mereka sendiri”.
Setelah membacakan refleksi Romo Stefanus Krisna Bayu Sulistyo, MSF mengajak umat mempersiapkan hati untuk mengikuti perayaan Ekaristi.
Hymne Keluarga Kudus
Lirik : Rm. Purwa MSF
Lagu : Rm. Trisna MSF
Arr : Rm. Triatmoko MSF
Re-Arr. : Ika Noviana Prasetyo
Lihat betapa rukun dan damai
Kluarga di Nasareth
Hidup penuh cinta dan kasih
Satu di dalam bakti
Yesus Maria dan Yosep
Sungguh pribadi murni
Ajar cinta kasih pada kami
Ikut teladan suci
Kami umatmu beriman
Dalam kluarga ini
Mohon kedamaian yang sejati
Tentram untuk slamanya

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta