Film “Pesta Babi”: Bolehkah Menggelar Pesta Babi dalam Kecemasan?

0 53

Sebuah komentar tentang film “Pesta Babi: Kolonialisme di zaman kita”

“Pesta Babi, Kolonialisme di zaman kita” (2026) adalah sebuah film dokumenter yang menyoroti perjuangan rakyat Papua, baru saja diputar di berbagai kota dan kampung di Papua maupun di luar Papua. Film ini mengajak kita melihat bagaimana masyarakat Papua berani melawan kebijakan pembangunan ekonomi yang memengaruhi tanah mereka.

Berlatarkan tiga kabupaten di bagian selatan Papua, Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale (sutradara) dalam filem “Pesta Babi” memperlihatkan perlawanan dari orang Marind dan orang Auyu terhadap proyek nasional yang memasuki wilayah adat mereka. Salib Merah pun menjadi simbol kekuatan dan semangat perlawanan mereka. Produksi film ini didukung oleh Yayasan Bentala Pusaka, Jubi.id, Greenpeace, Watch Doc dan Ekspedisi Indonesia Baru.

Kalau menggunakan metode thematic analysis dalam menganalisis film ini, maka kita mendapatkan tiga tema utama yang dihadirkan dalam film “Pesta Babi” ini, yakni kolonialisme, pembangunan ekonomi pemerintah Indonesia, dan perlawanan masyarakat adat Papua. Sutradara (Dandhy dan Dale) mencoba menjahit “pembangunan” dalam proyek strategi nasional sebagai representasi kolonialisme Indonesia di Papua Selatan, dan karena itu terjadi perlawanan Salib Merah.

Dan kalau kita gunakan metode framing analysis, film “Pesta Babi” itu meletakkan pembangunan sebagai upaya mengontrol orang asli Papua. Berdampingan dengan mengontrol, ada upaya untuk menyingkirkan orang asli Papua. Ini jadi alasan gerakan perlawanan Salib Merah. Framing yang kuat pada critical thinking tentang relasi kolonialisme Indonesia dalam atau melalui pembangunan di Papua itu bukan tanpa dasar. Cypri Paju Dale, seorang peneliti Indonesia lulusan Bern University, dalam beberapa tahun terakhir ini meletakkan kajiannya pada kolonialisme di Papua, dan Dandhy Laksono, seorang jurnalis dan pembuat film yang kritis terhadap situasi hak asasi manusia di Papua. Inilah yang memengaruhi kuatnya framing pada kolonialisme.

Film “Pesta Babi” ini sangat diterima publik. Karena sejalan dengan agenda antikolonialisme, gerakan lingkungan, dan hak asasi manusia untuk Papua. Papua kuat dengan tiga tema ini dalam wacana publik.

Adakah sesuatu yang terlupakan?

Film “Pesta Babi” ini tampaknya melupakan konteks etnografi dan filosofi dari perlawanan masyarakat Papua di Papua Selatan. Akibatnya, lensa Marind dan Auyu tidak terlalu kuat terepresentasi dalam film itu. Mereka, warga Marind dan Auyu, berjuang melalui gerakan Salib Merah sebagai upaya kolektif melawan proyek strategi nasional. Artinya, film “Pesta Babi” ini meletakkan warga Marind dan Auyu secara face-to-face berhadapan dengan proyek strategis  nasional. Sehingga pesan yang diperoleh adalah mereka anti-pembangunan (proyek strategis nasional) dan kolonialisme. Hal inilah yang diperjuangkan oleh gerakan masyarakat sipil yang sedang mengadvokasi isu-isu lingkungan dan hak asasi manusia di Papua Selatan. Artinya, film ini cenderung terbawa dalam semangat perjuangan itu.

Akibatnya, konteks-konteks etnografi dan filosofi orang asli Papua, termasuk falsafa Nakali, Nakalu dan Iham dalam kebudayaan Marind terlupakan. Misalnya, Basik (babi) dalam relasi sebagai iham (totem) manusia Marind tidak dimunculkan. Basik (babi) dan manusia itu yang membedakan hanyalah mean (mayan) atau bahasa, tetapi Wi (jiwa) sama tidak diceritakan. Basik (babi) adalah kerabat, bukan seekor hewan yang berdiri terpisah dari manusia itu dihilangkan. Dalam film “Pesta Babi”, tak terdengar ucapan orang Marind: “Amay ay, ehesay ankahe naham ehe, ahan hahe/haze kake nok dakum kamonai idih”, atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “Moyang, kami yang datang ke sini adalah cucu-cucumu sendiri, perhatikan tali pusar kami.”

Apakah ada hal-hal lain yang juga dilupakan dalam film “Pesta Babi”?

Film “Pesta Babi” itu juga melupakan keterlibatan Gereja Katolik (sebelum Uskup Mandagi) dalam gerakan Salib di Papua Selatan. Gerakan Salib itu bukan sesuatu yang lahir di akhir tahun 2024, tetapi sesuatu yang telah tumbuh sekian puluh tahun lalu di Papua Selatan. Pada 2010, melalui gerakan Pastor Nico Rumbayan MSC dan klan Mahuze Besar di Muting melakukan gerakan penanaman Salib dan Sasi. Agus Dayo Mahuze dan Max Mahuze adalah dua tokoh kunci yang ikut menggerakkan gerakan tanam salib. Gerakan penanaman Salib itu mendapat dukungan dari Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke. Selain itu, ada gerakan Sasi Mayan dari komunitas Malind Maklew anim (anum) di distrik Tubang. Gerakan itu didukung oleh promotor Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) dari para Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC).

Konteks etnografi masyarakat Marind dan Auyu menjadi semakin kabur ketika perspektif dari komunitas masyarakat adat Muyu “dipaksakan” masuk dalam film “Pesta Babi.” Sehingga, memunculkan pemaknaan multitafsir terhadap Salib Merah. Misalnya, pihak pro-pemerintah melihat gerakan Salib Merah sebagai sebuah gerakan sigo-sigo (cargo cult). Sementara pihak pendukung Gerakan Salib Merah juga punya tafsir beragam, paling tidak ada dua, yaitu: pertama, Salib Merah yang ditafsirkan sebagai Salib Tuhan Yesus. Merah melambangkan darah Tuhan Yesus, dan kedua Salib Merah adalah sebuah peringatan keras Orang Marind (Malind) terhadap penyerobotan tanah adat mereka. Warna merah adalah simbol peringatan keras.

Awon Atatbon Tak Dibuat dalam Kecemasan

Dalam berbagai kajian terhadap film-film tentang Papua, orang Muyu adalah salah satu komunitas orang asli Papua yang jarang sekali muncul dalam film jika dibandingkan dengan orang Asmat, Marind, Korowai dan Hubula/Huwula. Salah satu film (video) yang menceritakan orang Muyu adalah film yang diproduksi oleh pihak militer Indonesia, termasuk film Kunjungan Kepala Suku Muyu, Distrik Kombut, Boven Digoel, Papua Selatan, Emanuel Wopon (Manu) di Jakarta (2025), dan film Kuali Merah Putih 03: Keadilan Tidak Ada di sini! Merautih Suku Muyu, Boven Digoel (2024). Kedua film itu adalah propaganda militer Indonesia untuk kepentingan nasionalisme Indonesia, sehingga kisah orang Muyu hanyalah penguat propaganda tersebut.

Film “Pesta Babi” ini adalah cara yang sama dalam menceritakan Papua dari sisi yang berlawanan. Kisah orang Muyu dengan Awon Atatbon (pesta babi) menjadi penguat advokasi komunitas masyarakat sipil.

Dalam film “Pesta Babi” ini, kisah Awon Atatbon (pesta babi) orang Muyu dianyam ke dalam gerakan Salib Merah dalam komunitas Marind dan Auyu yang jauh di pesisir sungai Digoel. Ini, sekali lagi, memunculkan kesan pesta babi yang dipaksakan. Akibatnya, ada kecenderungan bias tafsir. Penonton diberi ruang untuk menafsirkan  “Salib Merah” sebagai representasi “Awon Atatbon” (pesta babi). Di sinilah titik lemah yang melahirkan perdebatan etis dari film “Pesta Babi” ini. Mengapa? Orang Muyu yang hidup di hulu daerah aliran sungai Digoel dikonstruksikan sebagai pihak yang terlibat dalam gerakan Salib Merah. Ini sangat tersirat dari pilihan judul “Pesta Babi”. 

Kemudian, kampung Kurinbin itu terlalu jauh dari Merauke, sehingga orang Muyu yang melakukan “Awon Atatbon” (pesta babi) di sana berupaya untuk memahami itu sebagai kolonialisme melalui pembangunan di Kabupaten Merauke. Mereka yang mencoba mengerti itu berada dalam kecemasan. Oleh karena itu, film “Pesta Babi” ini mengajak kita untuk berefleksi: bolehkah orang Muyu yang sedang cemas dengan apa yang sedang dialami oleh saudara Marind dan Auyu melakukan Awon Atatbon (pesta babi)? 

Dalam kecemasan itu, orang Muyu biasanya tidak melakukan Awon Atatbon (pesta babi). Awon Atatbon (pesta babi) adalah suatu peristiwa pesta yang digelar dengan tarian Ketmon di mana beberapa orang bergotong-royong membunuh babi-babi yang mereka pelihara dan menjual dagingnya untuk Ot  (uang) kepada kerabat yang mereka undang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.