Paus Leo XIV: Belajar Keramahan dari Santo Yusuf dan Keluarga Kudus

0 30

Paus Leo XIV saat berpidato di hadapan peserta “Keramahtamahan Katedral” di Vatikan menyatakan :”Saya mendorong Anda untuk menjadi pendidik dalam hal keramahan.”

Vatican, Katolikana.com – Paus Leo XIV menyerukan kepada umat untuk meneladan Keluarga Kudus dari Nazaret agar menemukan kembali panggilan mereka dalam menyambut orang lain dan belajar menempuh jalan pelayanan.

“Saya mendorong Anda untuk menjadi pendidik dalam hal keramahan,” kata Paus Leo XIV pada hari Kamis (12/3/2025) saat berpidato di hadapan peserta “Keramahtamahan Katedral”, di Vatikan dalam sebuah acara budaya dan pendidikan yang kini memasuki edisi keempat, yang diadakan di Sacrofano, sebuah kota di utara Roma.

Melansir dari Vatican News, Kamis (12/3/2026), Keramahtamahan Katedral diselenggarakan oleh berbagai kelompok dan organisasi Sektor Ketiga bekerja sama dengan Universitas Kepausan Lateran Roma.

(Organisasi sektor ketiga Vatikan merupakan entitas nirlaba, yayasan, lembaga amal, dan organisasi kemanusiaan yang didukung oleh Takhta Suci Vatikan, yang beroperasi di luar struktur pemerintahan (sektor publik) dan bisnis komersial (sektor privat). Fokus utama organisasi ini adalah pada pelayanan sosial, kemanusiaan, pendidikan, dan kesehatan).

Acara ini menyediakan ruang untuk dialog dan refleksi tentang isu-isu terkini. Tahun 2026, temanya adalah “Pemuda dan Gereja: Keramahtamahan yang menumbuhkan rasa memiliki.”

Bapa Suci dalam sambutannya, menyampaikan refleksi tentang tema yang diangkat oleh “Cathedra.”

Paus mengakui bahwa hari-hari refleksi ini dijiwai oleh kesadaran bahwa panggilan Kristen berorientasi pada penciptaan persekutuan di antara sesama manusia.

Mengingat hal ini, Paus mengungkapkan bahwa persekutuan muncul dari kemampuan untuk menyambut orang lain dengan mendengarkan, keramahan, dan menawarkan bantuan.

Rahmat Perjumpaan

Paus Leo XIV mengatakan bahwa di jantung setiap sambutan yang autentik, terdapat hubungan yang lahir dari rahmat perjumpaan. Beliau menjelaskan bahwa justru dalam dinamika perjumpaan inilah keputusan untuk mendedikasikan edisi keempat “Cathedra” kepada kaum muda berada.

“Di masa yang ditandai dengan transformasi budaya dan sosial yang mendalam,” kata Paus, “kaum muda, yang secara alami merupakan masa depan masyarakat dan Gereja, sudah menjadi masa kini yang hidup dan produktif.”

Bapa Suci mencatat bahwa pertanyaan dan keprihatinan mereka mengajak kita untuk memperbarui gaya hubungan kita.

Menyambut kaum muda berarti, pertama-tama,” kata Paus Leo XIV, “mendengarkan suara mereka, menatap mata mereka, dan menyadari bahwa, dalam kehidupan dan bahasa mereka, Roh Kudus terus bertindak dan menyarankan jalan-jalan baru untuk kehadiran dan kepedulian.”

Kehadiran dan perhatian
Paus mengatakan bahwa ia ingin membahas dua kata, yaitu “kehadiran” dan “perhatian,” yang membantu menjelaskan makna keramahan dalam ajaran Kristen.

Setiap dari kita, sejak saat pertama kehidupan,” tegasnya, “tumbuh dalam realitas sosial,” merujuk pada keluarga, paroki, sekolah, universitas, dan tempat kerja.

Masing-masing, lanjutnya, mewakili model masyarakat di mana berbagai dimensi psikologis, hukum, moral, pedagogis, dan budaya beririsan, dan “merupakan ruang pembentukan identitas yang tugas utamanya ditentukan justru oleh kehadiran.”

Paus Leo XIV menekankan “Kehadiran dalam kehidupan orang lain berarti berbagi waktu, pengalaman, dan makna serta menawarkan titik acuan yang mendasar, di mana orang lain dapat mengenali diri mereka sendiri dan bertumbuh.”

“Dengan meneladani Keluarga Kudus Nazareth,” kata Paus, “setiap komunitas yang ramah dapat menemukan kembali panggilannya sendiri dan belajar untuk mengarahkan diri di sepanjang jalan pelayanan.”

Ilustrasi Yusuf dan Maria mencari Yesus (Gambar iStock)

Pengalaman Keluarga Kudus
Paus Leo XIV mengutip kisah Injil saat Maria dan Yusuf tidak dapat menemukan Yesus, dan dalam kesedihan menemukan-Nya kembali setelah tiga hari di Bait Suci, mengajarkan bahwa kehadiran orang lain bukanlah sesuatu yang otomatis tetapi merupakan hasil dari pencarian yang terus-menerus.

“Kita semua pernah mengalami hal ini,” ujar Paus, “kehilangan seseorang atau sesuatu yang sangat kita sayangi. Pada saat itu kita menyadari betapa berharganya kehadiran itu.”

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan iman, kata Paus “Kita sering menganggap remeh kehadiran Yesus dalam hidup kita sampai tiba-tiba kita merasa Dia tidak lagi berada di tempat, meninggalkan kita.”

Dipanggil untuk mencari Yesus
“Kita merasakan kehilangan,” kata Paus. “Sebenarnya, bukan Dia yang hilang, tetapi kitalah yang telah menjauh.”

Ketika ini terjadi, Paus Leo XIV menjelaskan, kita dipanggil untuk mencari Dia dengan penuh kepercayaan dan keberanian untuk menempuh jalan yang belum dijelajahi, memandang dunia dengan mata baru yang penuh harapan.

“Dengan cara ini,” katanya, “kita akan berhenti mencari Tuhan yang dibuat sesuai ukuran kita sendiri dan sebaliknya bertemu dengan Dia di tempat Dia berdiam.”

Mencari Yesus, tambah Paus Leo XIV, berarti beralih dari keamanan keyakinan kita kepada tanggung jawab perjumpaan, belajar untuk melihat dan menyambut kehadiran Tuhan yang selalu “melampaui segalanya.”

Keluarga Kudus Nazaret (Foto Ist.)

Teladan kuat Santo Yusuf
“Inilah tepatnya yang dilakukan Santo Yusuf dalam menjaga keluarga yang dipercayakan kepadanya oleh Tuhan,” kata Paus Leo XIV

“Peduli,” kata Paus Leo, “berarti berdiri di samping orang lain dengan penuh perhatian, menghormati pilihan mereka, dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut.”

Sikap ini, katanya, pertama-tama adalah milik Tuhan, yang ditunjukkan dalam Alkitab sebagai pelindung umat-Nya. Ia menjelaskan bahwa keluarga manusia pun dipanggil untuk menjaga apa yang telah dipercayakan kepadanya.

Selanjutnya Paus Leo XIV mengungkapkan : “Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kehadiran dan kepedulian adalah dimensi yang tak terpisahkan: seseorang tidak dapat melindungi tanpa hadir, dan seseorang tidak benar-benar hadir tanpa memikul tanggung jawab atas orang lain.”

Menuju kekudusan
Dengan perhatian ini , Paus Leo XIV menyarankan bahwa kehadiran dan kepedulian dapat mewakili dua lentera di sepanjang jalan menuju bentuk keramahan yang mampu membuka jalan menuju kekudusan.

Paus Leo XIV menyampaikan terima kasih kepada mereka yang hadir dengan komitmen mengikuti acara secara tenang dan penuh perhatian. Paus Leo XIV mendorong mereka untuk menjadi pendidik dalam keramahan dan untuk terus bersama-sama “menciptakan lingkungan yang mampu mempromosikan kebaikan dan persaudaraan dalam komunitas Kristen dan dalam masyarakat.”

Leave A Reply

Your email address will not be published.