Jalan Salib Lingkungan Santo Athanasius Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta, jadikan rumah sebagai stase perhentian dalam Doa Jalan Salib
Surakarta, Katolikana.com– Jalan Salib adalah devosi Katolik yang merenungkan 14 peristiwa sengsara Yesus, dari dijatuhi hukuman mati hingga dimakamkan. Ibadat ini, yang sering dilakukan pada masa Prapaskah dan Jumat Agung, bertujuan mengenang pengorbanan Yesus di Golgota, dengan urutan perhentian yang berfokus pada perjalanan fisik dan penderitaan-Nya.
Bagaimana jalan salib itu dihayati bersama dalam keluarga? Bagaimana devosi ini menjadi bentuk “pengorbanan” yang menjadi cara berjalan bersama orang tua dan anak dalam menghadapi persoalan iman dan perjuangan hidup bersama dalam keluarga?
Inilah yang menjadi latar belakang keluarga-keluarga di Lingkungan Santo Athanasius Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta mengadakan jalan salib lingkungan.
Stase perhentian tidak dilakukan seperti dalam gereja, berjalan berkeliling dan memandang peristiwa ornamen gambar, patung, relief yang dipasang di dinding atau tiang gereja tetapi di rumah 14 umat di lingkungan.
Umat berhenti, merenungkan peristiwa pertama di rumah satu umat. Lalu melanjutkan berjalan ke perhentian berikutnya di rumah umat yang lain. Begitu seterusnya hingga perhentian ke-14.

Diawali dengan doa Angelus
Umat Lingkungan Athanasius Purbayan Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta pada Minggu, 15 Maret 2026, pukul 06.00 WIB hingga 09.00 mengadakan Jalan Salib Lingkungan. Diawali dengan Doa Angelus umat bersama-sama mengikuti jalan salib dari rumah ke rumah.
Sedikitnya 70 orang umat yang terdiri dari anak-anak, orang muda, dewasa dan lansia mengikuti kegiatan ini.

Refleksi Jalan Salib
Menghidupkan kembali tradisi yang pernah dilakukan oleh dua lingkungan St. Athanasius dan St. Stefanus yang pernah terakhir kali dilakukan pada tanggal 18 Maret 2018, merupakan tujuan kegiatan ini.
Karena Pandemi Covid tahun 2019, hingga 7 tahun kegiatan ini tidak dilaksanakan.
Maka lingkungan St. Athanasius menghidupkan Kembali dan terlaksana pada Minggu, 15 Maret 2026.
Jalan Salib pada masa Pra-Paskah bukan sekadar ritual, tetapi latihan rohani untuk semakin dekat dengan Yesus Kristus, memahami kasih-Nya, dan memperbarui kehidupan iman menjelang Paskah.
Bentuk permenungan iman atas penderitaan dan wafat Yesus Kristus, mengenang sengsara Yesus dalam Jalan Salib dengan 14 perhentian ingin dihayati dari perjalanan Yesus dijatuhi hukuman mati hingga wafat di salib.
Umat diajak “mengikuti” langkah-Nya secara batin untuk memahami kasih dan pengorbanan-Nya bagi manusia. Menghayati makna penebusan dosa dalam iman Katolik.
Penderitaan dan wafat Yesus adalah bentuk penebusan dosa umat manusia. Dengan Jalan Salib, umat merenungkan bahwa keselamatan diperoleh melalui pengorbanan tersebut.
Sarana pertobatan
Selain itu jalan salib menjadi sarana pertobatan selama masa Pra-Paskah. Masa Pra-Paskah adalah waktu khusus untuk refleksi, pertobatan, dan pembaruan hidup.
Jalan Salib membantu umat menyadari dosa, menyesal, dan terdorong untuk hidup lebih baik. Meneladani kesabaran dan ketaatan Yesus.
Melalui setiap stase perhentian, umat belajar tentang kerendahan hati, kesabaran dalam penderitaan, serta ketaatan kepada kehendak Allah.
Selain itu juga menjadi sarana menguatkan iman dalam menghadapi penderitaan termasuk yang dialami dalam hidup rumah tangga.
Jalan Salib juga relevan dengan kehidupan sehari-hari. Umat diajak melihat bahwa penderitaan manusia memiliki makna bila dijalani bersama Kristus.
Usai kegiatan jalan salib, umat menyantap sarapan bersama dan pembagian doorprize barang-barang yang digunakan dalam keseharian rumah tangga.

Rumah sebagai stase perhentian
Perhentian I: Yesus dijatuhi hukuman mati. (Rumah keluarga Febryan Gigih Wibowo)
Perhentian II: Yesus memanggul salib. (Rumah keluarga RC Retno W)
Perhentian III: Yesus jatuh untuk pertama kalinya. (Rumah keluarga Paulus Yohanes Maria Edi Mulyanto)
Perhentian IV: Yesus berjumpa dengan ibu-Nya. (Rumah keluarga YE Sungkono)
Perhentian V: Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene. (Rumah keluarga Joseph Kresno Wibowo)
Perhentian VI: Wajah Yesus diusap oleh Veronika. (Rumah keluarga Thomas Susatya)
Perhentian VII: Yesus jatuh untuk kedua kalinya. (Rumah keluarga Setyo Haryanto)
Perhentian VIII: Yesus menghibur perempuan – perempuan yang menangisi-Nya. (Rumah keluarga T.Bagyo Purwanto)
Perhentian IX: Yesus jatuh untuk ketiga kalinya. (Rumah keluarga Cicilia Hasrini Sri Mulyanti)
Perhentian X: Pakaian Yesus ditanggalkan. (Rumah keluarga Marsih)
Perhentian XI: Yesus disalibkan. (Rumah keluarga D Okto Wijayadi)
Perhentian XII: Yesus wafat di salib. (Rumah keluarga SB.Rudiyanto)
Perhentian XIII: Yesus diturunkan dari salib. (Rumah keluarga YV Yudha Samodra)
Perhentian XIV: Yesus dimakamkan. (Rumah keluarga Yosef Efy Dwi Mawarto).

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta