Kado Toleransi Hewan Kurban Uskup Labuan Bajo untuk Masjid Besar Al Munawwarah Terang

0 17

Labuan Bajo, Katolikana.com  — Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus mengunjungi Masjid Besar Al Munawwarah Terang dan memberikan ‘kado toleransi’ hewan kurban seekor sapi menjelang perayaan Idul Adha 1447 Hijriah pada Sabtu (23/5/2026).

Dalam suasana kehangatan dan persaudaraan, Uskup Labuan Bajo menyerahkan hewan kurban kepada komunitas Muslim di Masjid Al Munawwarah Terang. Ini menjadi bagian tanda persaudaraan antar umat beriman bersama komunitas Muslim di kawasan Teran, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat.

Kunjungan pastoral Mgr. Maksi ini dilakukan bersama dengan para pimpinan Keuskupan Labuan Bajo, yakni Vikaris Jenderal Rm. Rikard, Sekretaris Jenderal Rm. Frans Nala, Ekonom Keuskupan Rm. Martin Wilian, Vikaris Episkopal Labuan Bajo Rm. Yuvens Rugi, Pastor Paroki Lando Rm. Sony Selatan, dan perwakilan Pusat Pastoral Rm. Lian Angkur.

Mgr. Maksi mendapatkan sambutan secara adat Manggarai dari masyarakat Muslim Al Munawwarah Terang. Foto: Vinsen Patno/Katolikana.

Kedatangan rombongan disambut hangat oleh keluarga besar Muslim Terang. Prosesi penerimaan diawali dengan pengalungan selendang dan kepok adat Manggarai sebagai simbol penghormatan dan penerimaan persaudaraan. Suasana akrab dan penuh sukacita tampak mewarnai seluruh rangkaian perjumpaan tersebut.

Acara tersebut juga dihadiri Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Boleng Hasanudin, Imam Masjid Besar Al Munawwarah Terang, Ruslin. Lalu Ketua Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Besar Al Munawwarah Terang, Sulaimana, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Boleng Tajuddin,  Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Boleng Ismail Kanis, dan dihadiri juga para tokoh agama dan masyarakat Muslim setempat.

Dalam sambutannya, Imam Masjid Besar Al Munawwarah Terang, Ruslin, menyampaikan rasa syukur dan kegembiraan atas kunjungan perdana Uskup Labuan Bajo ke komunitas Muslim Terang.

Temu silahturami jelang Hari Raya Idul Adha dilakukan Uskup Labuan Bajo dan jajaranya dengan para tokoh Muslim di Terang, Boneng, Manggarai Barat. Foto: Vinsen Patno/Katolikana.

“Kami sangat senang menyambut kehadiran Bapa Uskup Labuan Bajo di tengah kami. Memang kami sudah mendengar bahwa sudah ada Uskup Labuan Bajo, tetapi baru kali ini kami dapat berjumpa langsung,” kata Ruslin.

“Bapa Uskup tidak hanya datang mengunjungi kami, tetapi juga membawa oleh-oleh berupa hewan kurban. Ini sungguh luar biasa. Kehadiran Bapa Uskup meneguhkan kami umat Muslim yang akan melaksanakan upacara kurban, sekaligus meneguhkan kebersamaan kami dengan keluarga-keluarga Katolik yang sudah lama hidup berdampingan secara harmonis di sini. Kami berharap akan ada perjumpaan-perjumpaan berikutnya,” ungkapnya.

Dalam sapaan persaudaraannya, Mgr. Maksimus Regus menegaskan pentingnya membangun silaturahmi lintas iman sebagai fondasi kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk.

“Perjumpaan ini sangat istimewa karena berlangsung di halaman Masjid Besar Al Munawwarah, simbol persekutuan umat Muslim di tempat ini. Hari ini persaudaraan itu diperluas, tidak hanya dengan sesama umat Muslim, tetapi juga dengan kami umat Katolik yang ada di paroki ini dan Keuskupan Labuan Bajo,” kata Mgr. Maksi.

“Kita perlu terus menjalin silaturahmi dan persaudaraan, sebab sesungguhnya kita berasal dari sumber yang sama. Hanya cara kita memaknai dan menghayati hidup dari sumber yang sama itu yang berbeda,” kata Mgr. Maksi, menambahkan.

Lebih lanjut, Mgr. Maksi menegaskan bahwa penyerahan hewan kurban tersebut merupakan tanda kasih persaudaraan dan dukungan Gereja Katolik kepada umat Muslim yang akan merayakan Idul Adha 1447 Hijriah.

“Pada hari ini kami membawa kado berupa hewan kurban sebagai tanda persaudaraan dan dukungan bagi keluarga-keluarga Muslim di sini yang akan merayakan Idul Adha. Semoga perayaan ini membawa berkat berlimpah dan damai sejahtera bagi kita semua,” lanjutnya.

Tokoh agama Katolik dan Muslim menjalin persaudaraan dalam momentum jelang Idul Adha di Masjid Al Munawwarah Terang. Foto: Vinsen Patno/Katolikana.

Sementara itu, Pastor Paroki Lando, Rm. Sony Selatan, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Uskup Labuan Bajo di tengah keluarga besar Muslim Terang. Menurutnya, kunjungan tersebut semakin meneguhkan relasi persaudaraan yang telah lama terbangun di wilayah tersebut.

“Kehadiran Bapa Uskup sungguh meneguhkan kebersamaan dan persaudaraan kami yang sejak lama terbina di sini. Semoga kami terus memelihara dan merawat persaudaraan ini dalam kehidupan bersama selanjutnya,” ujarnya.

Kunjungan persaudaraan ini juga ditandai dengan penanaman beberapa jenis pohon secara simbolis sebagai tanda komitmen bersama untuk merawat alam dan melestarikan lingkungan hidup. Aksi tersebut menjadi simbol bahwa menjaga ciptaan merupakan panggilan bersama setiap agama dan seluruh umat manusia.

Aksi ini juga mengejawantahkan secara konkret harapan yang terkandung dalam moto kegembalaan Mgr. Maksi, “supaya semua diselamatkan oleh-Nya”. Bahwasannya, semua manusia bersama segenap ciptaan mesti bergandengan tangan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan keselamatan. Dalam konteks ini, perjumpaan lintas agama ini memberi warna bagi tahun “Persekutuan Sinergis” yang menjadi fokus pastoral Keuskupan Labuan Bajo 2026.

Imam Besar Masjid Al Munawwarah Terang, Rusli menanam pohon yang diberikan oleh Keuskupan Labuan Bajo. Foto: Vinsen Patno/Katolikana.

Selama ini, Keuskupan Labuan Bajo secara konsisten memberikan perhatian kepada keluarga-keluarga Muslim yang merayakan upacara keagamaan, secara khusus Idul Adha, melalui penyerahan hewan kurban. Tradisi ini menjadi wujud nyata toleransi, sikap saling menghormati, dan penghargaan antarumat beragama yang hidup berdampingan di wilayah Keuskupan Labuan Bajo.

Komitmen tersebut akan terus diwujudkan melalui dialog lintas iman, karya sosial-karitatif, pelayanan kemanusiaan, serta gerakan ekologis bersama demi memperkuat kohesi sosial dan harmoni dalam kemajemukan masyarakat.

Masyarakat yang hadir pun menyambut momen ini dengan penuh haru. Di tengah berbagai tantangan sosial dan isu perpecahan yang kerap muncul, kebersamaan lintas agama di Labuan Bajo menjadi contoh bahwa perdamaian dapat tumbuh melalui tindakan nyata dan saling menghormati.

Momentum penyerahan hewan kurban ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh kesamaan, melainkan oleh kemampuan untuk saling menerima dalam perbedaan. Dari Labuan Bajo, pesan tentang persaudaraan dan toleransi kembali digaungkan untuk Indonesia.

Dengan semangat gotong royong dan kasih antarumat beragama, masyarakat berharap nilai-nilai kebhinekaan seperti ini terus diwariskan kepada generasi muda demi menjaga persatuan bangsa.

Editor: Basilius Triharyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.