Banjarmasin, Katolikana.com – Minggu Palma adalah awal Pekan Suci, mengajak umat merenungkan gambaran kontras antara seruan “Hosana” dan tuntutan “Salibkan Dia”, serta menunjukkan pengorbanan Yesus Penebus yang penuh kasih.
Perayaan Minggu Palma diawali perarakan Yesus masuk ke Yerusalem naik keledai sebagai tanda Raja Damai, disambut orang banyak yang menghamparkan pakaian dan ranting pohon sambil berseru “Hosana bagi Putra Daud”.
Perayaan berubah menjadi renungan mendalam saat kisah sengsara dibacakan.
Umat diajak merenungkan kisah pengkhianatan, penghakiman tidak adil, hingga penyaliban-Nya
Minggu Palma bukan sekadar mengenang kejayaan, melainkan merenungkan wujud cinta kasih Allah melalui penderitaan Kristus untuk menyelamatkan umat manusia.

Saat sukacita dan memanggul salib
Minggu palma, menegaskan Dia sebagai Raja yang melayani. Minggu Palma mengajak umat menerima Yesus sebagai Raja dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat sukacita, tetapi juga dalam memikul salib kehidupan sehari-hari.
Perayaan Minggu Palma di Gereja Katedral Keluarga Kudus Keuskupan Banjarmasin Kalimantan Selatan pada Sabtu 28 Maret 2026, pukul 18.00 – 20.00 WITA dipimpin Kepala Paroki Ignasius Tari, MSF.
Umat memenuhi halaman gereja dan memasuki gereja dalam prosesi perarakan setelah pemberkatan daun palem.
Refleksi dalam terang iman
Perayaan Ekaristi berlangsung khidmad. Umat mengikuti liturgi sabda dengan bacaan I Yesaya 50:4-7, Mazmur 22, Bacaan II Filipi 2:6-11, Pengantar Injil Filipi 2:8-9 serta Bacaan Injil Tahun A Kisah Sengsara Tuhan – Mateus 26:14-27:66.
Romo Ignasius Tari, MSF dalam homili mengajak umat merefleksikan dalam terang iman sengsara Yesus Kristus.
Minggu Palma pada minggu Prapaskah yang ke- enam, umat diajak merenungkan masuknya Yesus ke Yerusalam hingga kematian-Nya. Merenungkan kisah ini harapannya umat diajak menghasilkan buah-buah pertobatan dan perdamaian.
Keikutsertaan umat dalam peristiwa Minggu Palma dan merenungkan kisah sengsara Yesus, dalam terang firman berupaya menjadi murid-murid Kristus dan mewujudkan dalam hidup sehari-hari.
Merenungkan kisah penderitaan
Menggabungkan kisah-kisah Yesus dan merenungkan kisah Yesus sebagai Raja, penderitaan Yesus hingga kematian menjadi permenungan.
Bacaan pertama dari Yesaya mengajak merenungkan kesetiaan dan ketaatan sebagai murid. Meskipun dinodai dan diludahi tetap meneguhkan diri dan tidak bersembunyi karena Tuhan Sang Penolong dan gunung batu pertolongan.
Bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi mengajak umat mengenali siapa Yesus itu. Yesus adalah teladan kerendahan hati, taat sampai mati di kayu salib.
Berikutnya merenungkan bacaan Injil.
“Apa yang mau direnungkan? Kita diajak melakukan sikap memposisikan batin melalui tokoh-tokoh dalam bacaan kisah sengsara Tuhan kita”, kata Romo Ignasius Tari, MSF.
Romo Ignasius Tari, MSF mengajak umat melakukan disposisi batin dengan menghayati Kisah Sengsara Yesus.
Disposisi batin
Disposisi batin adalah sikap hati atau suasana batiniah seseorang dalam menerima rahmat, melakukan doa, atau menjalankan tindakan spiritual terutama kesiapan batin untuk menyambut misteri Paskah.
Keikutsertaan dalam Pekan Suci yang diawali Minggu Palma dengan kerinduan hati untuk terlibat dalam terang iman, bukan sekadar kehadiran fisik namun penuh penghayatan.
Disposisi batin dilakukan dengan merenungkan ketokohan Kisah Sengsara dari Taman Getsemani, Penangkapan Yesus hingga kematian.
Disposisi batin mengikuti Minggu Palma menyambut Kristus sebagai Raja Damai dalam suka cita dan kesiapan hati untuk memasuki pekan sengsara-Nya.
Disposisi batin harus beralih dari sorak-sorai “Hosana” menuju permenungan kisah sengsara-Nya sekaligus melakukan refleksi diri menengarai sikap pemuja menjadi penghujat dan berupaya menemukan pintu pertobatan.
“Bagaimana sikap batinku dan refleksiku menghayati peristiwa yang dilakukan para tokoh kisah sengsara Kristus?”. Demikian Romo Ignasius Tari, MSF menyampaikan ajakan reflektif.
Para murid yang tidak berjaga dan tidur saat diajak berdoa di Getsemani.
Petrus melakukan pertobatan. Ia menyangkal Yesus tiga kali, menangis dan bertobat.
Yudas Iskariot menerima “sapaan keselamatan” dari Yesus sebagai bentuk teguran kesalahan pada Yudas Iskariot : “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Yudas Iskariot melakukan pengkianatan namun tidak melakukan pertobatan.
Orang-orang yang tidak memiliki integritas dan terombang-ambing pemikiriannya yang semula bersorak “Hosana” menjadi “Salibkan Dia”
Pilatus “cuci tangan” meskipun diingatkan istrinya untuk tidak mencampuri perkara orang benar namun tidak mengindahkan.
Para prajurit yang menuruti perintah menjaga makam agar jenasah Yesus tidak dicuri para murid.
Tokoh prajurit yang memukul Yesus dan memberikan kesaksian : “Sungguh ini Anak Allah”
Para wanita yang mengikuti jalan Salib Kristus dari kejauhan: Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus dan Yusuf dan Maria Ibu Anak-anak Zebedeus.
Barabas orang yang melakukan kejahatan.
Dua orang yang disalib bersama Yesus, yang satu menyadari kesalahan dan satunya ikut mencemooh Yesus.
Yusuf dari Arimatea orang yang peduli terhadap Yesus.
Maria Bunda Yesus yang menyertai hingga wafat putranya.
Serta tokoh-tokoh yang lain.

Meneladan ketaatan dan kesetiaan
“Melalui refleksi dan disposisi batin pada Minggu Palma, kita diajak untuk menyatukan penderitaan pribadi dengan sengsara Kristus, berjalan dari kemegahan duniawi menuju kemuliaan sejati di dalam Tuhan, belajar dari keteladanan Kristus yang rendah hati, setia berkorban melalui jalan salib, taat, hormat pada Allah dan membangun semangat pertobatan,” ungkap Romo Ignasius Tari, MSF mengakhiri homilinya.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta