Katolikana.com – Merenungkan Sabda, konteks zaman sekarang tidak hanya mendengarkan dari pewartaan Sabda di mimbar.
“Fiat Voluntas Tua” (bahasa Latin) artinya “Jadilah kehendak-Mu”. Kalimat ini berasal dari doa Bapa Kami (Matius 6:10) dan merupakan ungkapan penyerahan diri total kepada kehendak Allah, seperti yang diucapkan oleh Bunda Maria “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu” setelah menerima warta sukacita dari Malaikat Gabriel.
Frasa ini sering digunakan untuk melambangkan ketaatan, kepercayaan, dan sukacita dalam mengikuti rencana Tuhan, bahkan dalam situasi sulit.
Frasa ini dalam beberapa konteks, juga banyak ditemukan sebagai tema perenungan, lagu, atau motto hidup rohani. Di Gereja Santo Paulus Paroki Kleco Surakarta, frasa “Fiat Voluntas Tua” tertulis di ambo atau mimbar yang berada di panti imam.
Warta Sabda selain diwartakan di mimbar, juga dilakukan dalam perjumpaan, katekese, sarasehan, sekolah iman, rekoleksi, retret dan melalui media sosial.
Merenungkan dan menghayati Sabda dapat dilakukan tidak hanya setelah mendengar pewartaan di mimbar gereja, namun dapat dilakukan saat dan setelah perjumpaan personal, katekese, kegiatan rohani dan menggunakan media sosial.
Refleksi dan merenungkan Sabda menjadi upaya menghayati Sabda yang pada akhirnya menangkap apa yang menjadi kehendak Allah.
Pewartaan Sabda era digital
Media sosial adalah sarana efektif dan strategis untuk pewartaan Sabda (Injil) di era digital, memungkinkan penyebaran nilai-nilai kebaikan, katekese, dan ajaran iman melintasi batas geografis, ruang dan waktu.
Gereja memanfaatkan platform seperti YouTube, Instagram, dan WhatsApp sebagai ruang digital untuk evangelisasi, katekese, dan pembinaan iman.
Mimbar dalam Gereja Katolik secara liturgis disebut Ambo. Ambo merupakan tempat yang ditinggikan di panti imam khusus untuk pewartaan Firman Tuhan (Liturgi Sabda), seperti pembacaan Kitab Suci, Mazmur, dan homili. Di era digital pewartaan Sabda di mimbar didukung dengan pewartaan lewat media sosial.

Merenungkan Sabda
Merenungkan Sabda tidak terbatas pada saat liturgi, ibadah dan perayaan Ekaristi. Kutipan Sabda “diwartakan di mimbar-mimbar lain”. Audio dan video serta media sosial memuat kutipan Sabda selain teks di cetakan kertas dan buku-buku doa.
Ruang dan waktu dalam berbagai konteks memungkinkan orang beriman mencercap Sabda.
Mirêngaké Sabda, Nyêcêp Sabda, Nindakaké Sabda atau Mendengarkan Sabda Tuhan, Mencercap Sabda dan Melaksanakan Sabda menjadi hal yang sangat dekat dengan hidup rohani orang beriman.
Renungan banyak ditulis, disajikan lewat media komunikasi. Cetakan bacaan harian dan renungan banyak diterbitkan. Konten-konten visualisasi kutipan sabda banyak dibuat dan tersaji di media sosial.
Pembatinan, penghayatan Sabda tersedia teks dan konteks dalam rentang waktu 24 jam dalam sehari. Sabda (Tuhan) tidak jauh dari hidup orang beriman.
Busana keseharian
“Agama ageman aji” filosofi Jawa yang memaknai agama sebagai pakaian yang mulia (ageman) dan bernilai tinggi (aji/ageng) menjadi pengingat jika dikaitkan dengan Sabda. Seperti halnya ageman atau busana dalam keseharian, Sabda menjadi pemantas diri dalam hidup keseharian. Refleksi, permenungan menjadi sarana memantas diri, memantas hati.
Pewartaan tidak hanya dekat di telinga, di mata namun bisa juga dekat di hati. Sisi ini menjadi bagian rasa syukur atas pewartaan Sabda yang bisa direnungkan dari pewartaan lewat media sosial.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta