Nabire, Katolikana.com—Pemuda Katolik Komisariat Daerah (PK-KOMDA) Papua Tengah memberikan respons keras kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Wakil Presiden yang telah berkunjung ke Nabire dan Timika Provinsi Papua Tengah untuk segera menarik militer non organik dari tanah Papua. Hal ini karena situasi kemanusiaan di wilayah tersebut dari waktu ke waktu semakin memburuk.
Dalam Rapat Kerja Perdana (RAKER) Pemuda Katolik Papua Tengah telah mengklasifikasikan ada delapan daerah yang dibagi menjadi tiga zona keamanan yang patut diketahui bersama untuk menjaga perdamaian bersama. Sesuai dengan pemaparan hasil laporan Pengurus Pemuda Katolik Komisariat Cabang (PK-KOMCAB), dari 8 wilayah tersebut sebanyak tiga kabupaten berada dalam darurat siaga satu atau keadaan keamanan ekstrim, tiga wilayah darurat keamanan sedang dan dua wilayah zona aman-aman meski stabilitas keamanan sosial tinggi.
Terkait laporan kondisi daerah itu, kontributor Katolikana.com pada 24 April 2026 mewawancarai langsung Ketua Pemuda Katolik Komcab Intan Jaya Fransiskus Belau, yang wilayahnya mengalami konflik berkepanjangan, dan banyak mengorbankan warga sipil. Selain situasi sulit yang dialami masyarakat di Intan Jaya, Fransiskus Belau juga menyoroti inisiatif perdamaian dan peran para pekerja gereja yang turut terlibat aktif dalam pelayanan kemanusiaan dalam situasi konflik.
Peran Para Imam di Dekenat Moni Puncak
Fransiskus Belau menyatakan turut memberikan apresiasi kepada para imam yang tidak menghindar dari kondisi konflik yang ada di dalam Keuskupan Timika. Intan Jaya, merupakan bagian dari wilayah gerejawi di Keuskupan Timika.
“Keterlibatan mereka sebagai bapa dan ibu bagi umatnya di saat umatnya mengalami trauma akibat konflik bersenjata,” kata Fransiskus Belau.
“Bagi kami umat bangga dan hormat karena banyak pelayanan mereka yang kami rasakan untuk cinta yang begitu besar kepada kami umatnya,” katanya lagi.

Fransiskus Belau sebagai ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang (PK-KOMCAB) Intan Jaya memberikan respon positif keberadaan imam interdiosesan yang aktif mendampingi umat di saat susah maupun senang.
“Kami apresiasi kepada para imam yang bertugas di Dekenat Moni-Puncak. Fakta yang kami alami di saat persoalan besar, para imam tetap memberikan penguatan, pendampingan untuk melawan kondisi yang ada. Kami menilai mereka tidak saja mewartakan firman di mimbar suci akan tetapi mereka juga ada di lapangan mendampingi umat yang sedang membutuhkan pertolongan dan pendampingan,” kata Fransiskus Belau.
Ia mencontohkan pelayanan para imam dalam peristiwa yang terjadi di Distrik Kemburu- Puncak. Frans mengungkapkan bahwa Pastor Dekan Dekenat Moni-Puncak datang mengunjungi umatnya yang terkena dampak akibat perang di Kabupaten Puncak. Pastor selalu hadir dan memberi spirit bagi umat melalui dukungan moril dan juga materil.
“Di sana pastor hadir sebagai bapa yang memberi kenyamanan bagi umatnya yang sedang menghadapi ketakutan akibat perang, baik di Kabupaten Puncak maupun di Kabupaten Intan Jaya.”
Data yang dihimpun pada April 2026, kata Frans, menunjukkan esklasi konflik meningkat di Kabupaten Puncak dan menewaskan anak-anak, ibu hamil dan orang dewasa. Data yang terkonfirmasi sebanyak 9 orang warga sipil meninggal dunia dan 7 orang lainnya luka berat dan ringan.
Kolaborasi Pemerintah Daerah
Pemuda Katolik juga menekankan kolaborasi antar organisasi untuk memberikan perhatian pada masalah kemanusiaan di daerah konflik di Papua Tengah. Menurutnya, Pemuda Katolik akan menggalang sinergi dengan beragam organisasi pemuda, seperti KNPI, KONI, dan organisasi lintas kepemudaan yang lain.
“Pemuda Katolik terbuka dengan lintas organisasi pemuda untuk berkolaborasi, berkordinasi serta membangun kepercayaan publik termasuk pemerintah daerah untuk menjaga kedamaian tanah kami,” kata Frans.
Ia mengharapkan ada kesempatan untuk bertemu dan beraudiensi dengan Bupati, sehingga bisa membahas berbagai persoalan seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, dan juga nasib berbagai fasilitas sipil yang diambil alih oleh pihak ketiga. Pemerintah Daerah semestinya bisa memperbaiki pelayanan masyarakat yang ada.
“Dari ruang pemuda yang ada ini, berusaha untuk membangun pembaharuan, bersinergi dan berkolaborasi menjaga tanah dan manusia yang ada di tanah kami. Kondisi yang ada menjadikan suatu tantangan yang kita hadapi bersama untuk mencari jalan keluarnya,” kata Frans.

Situasi Keamanan Dari Kaca Mata Pemuda Katolik
Situasi keamanan yang ada di daerah Kabupaten Intan Jaya dari waktu ke waktu sulit dipahami dengan akal yang sehat. Pendropan militer yang masif dan terus meningkat jumlahnya, dan bertambahnya pos-pos militer yang dibangun di pedesaan atau kampung. Ini telah menyulitkan warga setempat untuk berkebun, berternak, dan berburu. Begitu juga dengan kebebasan hidup warga yang semakin tertekan.
“Ribuan tentara kirim ke desa, atau di kampung-kampung, pos dibangun di kampung-kampung, mereka menjaga siapa. Sedangkan warga setempat jumlah populasi manusia lebih sedikit. Pendropan militer yang tidak wajar adanya,” kata Frans.
“Tradisi kehidupan orang gunung, wajib ada rumah laki-laki. Kini kami sudah takut berkumpul malam hari di satu rumah laki-laki yang disebut dengan Nduni. Kami takut karena ada beberapa kasus yang terjadi rumah laki-laki di serang oleh pihak TNI,” kata Frans.
“Di situ orang mati tertembak oleh peluru. Disini kebiasan-kebiasan hidup rukun itu sudah tidak pertahankan karena pra kondisi keamanan yang masif. Orang-orang kumpul di Nduni akan dicurigai oleh pihak aparat melakukan pertemuan-pertemuan bedah ideologi,” kata Frans.
Kasus yang terjadi di Kampung Soanggama, dimana ada sekitar 16 orang di tembak mati dalam satu rumah Nduni. “Peristiwa itu menjadi catatan penting bagi kami untuk memahami pemahaman konflik berdarah-darah dalam kehidupan kami yang sulit dari situasi yang ada ini.”
Fransikus Belau mengungkapkan bahwa sebagai Pemuda Katolik yang berbasis di daerah konflik mengingatkan kepada saudara-saudara seiman yang bertugas di daerah kami bahwa Tuhan Yesus mengajarkan cinta kasih, cinta damai. Dan semua agama mengajarkan cinta damai itu. “Maka stop dan berhenti membunuh manusia yang ada di tanah kami.”
“Bagi saudara seiman ajaran Tuhan Yesus sudah jelas dan tegas jangan membunuh. Membunuh itu dosa berat. Praktik-praktik yang lazim di tempat perang dimana tangan kanan memegang senjata, tangan kiri memegang Rosario. Praktik itu sering kita jumpai disini. Dengan itu, berhenti sejenak perilaku menyimpan dari ajaran-ajaran dari cintah kasih yang sesunggunya,” kata Frans.
Bagi Frans, alam dan manusiaan ciptaan Tuhan harus dijaga dan diselamatkan. Hal ini harus disadari agar bisa mengelola semua ciptaan yang ada secara adil. Seharusnya manusia tidak boleh menguasai atas ciptaan yang lain. “Cukuplah kita ambil dan mengelolah sesuai kebutuhan hidup kita.”
Di sini kami merasa bersyukur karena dengan adanya patung St. Fransiskus Asisi yang dibangun di halaman Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) memberikan inspirasi bagi kita semua. “Kita bisa merefleksikan dari pengalaman hidup St. Fransiskus dimana burung-burung sebagai sahabatnya,” katanya.
Karena itu, adanya rencana penambangan Blok B Wabu di Intan Jaya ditolak oleh Pemuda Katolik. “Sarga menjaga Gunung Bula itu ribuan tahun, menjaga ciptaan alam itu asri adanya. Oleh karena itu sikap kami tetap mendorong aspirasi masyarakat untuk penolakan akan beroperasinya penambangan itu.”

Rekomendasi Pemuda Katolik Intan Jaya
Selanjutnya, Fransiskus Bela, mengungkapkan dengan kondisi keamanan yang ekstrim di wilayah Dekenat Moni- Puncak, maka Pemuda Katolik Komisariat Cabang (PK-KOMCAB) Intan Jaya dengan tegas menolak kehadiran militer non organik karena dianggap kehadirannya meresahkan dan membuat trauma panjang bagi warga sipil. Bahkan, pembukaan pos-pos militer di dekat kompleks Gereja Katolik St. Petrus telah membuat bangunan tersebut mengalami kerusakan ketika daun-daun seng atap gereja rusak akibat angin dari helikopter yang mendarat.
Dengan ini sikap Pemuda Katolik Komisariat Cabang (PK-KOMCAB) Intan Jaya menyatakan bahwa:
1. Pemuda Katolik juga turut berbelasungkawa korban penembakan yang terjadi di Kabupaten Puncak dimana Ibu-Ibu dan anak-anak kecil meninggal dunia.
2. Negara Indonesia segera tarik kembali Militer Non Organik yang ada di Intan Jaya dan TNI Non Organik yang sudah menyebar di seluruh wilayah tanah Papua.
3. Kasus penembakan 16 orang di Puncak dalam wilayah Dekenat Moni-Puncak merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) maka penyelesaian di bawah ke Forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
4. Menolak kehadiran pertambangan Blok B Wabu di Intan Jaya.
Editor: Basilius Triharyanto

Kontributor Katolikana.com di Paniai, Papua. Lahir di Ibumaida, Paniai, tahun 1989. Penulis bekerja di Komisi Keadilan dan Perdamaian Keutuhan Ciptaan Paroki Kristus Sang Gembala (KSG) Wedaumamo, Keuskupan Timika. Ia juga aktif di organisasi Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Kabupaten Paniai.