Uskup Maksimus Regus dan Sabina Ndiung Dikukuhkan Guru Besar Unika St. Paulus Ruteng

0 26

Ruteng, Katolikana.com – Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng (Unika St. Paulus Ruteng) kembali mencatat sejarah akademik melalui pengukuhan dua guru besar, yakni Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si dan Prof. Dr. Sabina Ndiung, M.Pd dalam sidang terbuka luar biasa senat universitas yang digelar pada Jumat, 8 Mei 2026 di Aula Gedung Utama Timur (GUT) Lantai 5.

Pengukuhan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat tradisi akademik sekaligus menegaskan posisi Unika St. Paulus Ruteng sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Pengangkatan kedua guru besar tersebut didasarkan pada Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1767/M/KPT.KP/2026 untuk Prof. Dr. Maksimus Regus dan Nomor 1766/M/KPT.KP/2026 untuk Prof. Dr. Sabina Ndiung.

Dalam keputusan tersebut ditegaskan bahwa keduanya memenuhi syarat akademik dan kompetensi untuk diangkat sebagai Profesor/Guru Besar, terhitung mulai 1 Januari 2026.

Prof. Dr. Maksimus Regus dikukuhkan dalam bidang Sosiologi Agama dan Multikulturalisme, sementara Prof. Dr. Sabina Ndiung dalam bidang Pendidikan Matematika, khususnya Asesmen Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar.

Sidang Senang Universitas Unika St. Paulus Ruteng mengukuhkan dua guru besarnya Prof. Maksimus Regus dan Prof. Sabina Ndiung pada Jumat (8/5/2026). Foto: Vinsensius Patno/Katolikana

Panggilan Intelektual dan Spiritual

Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. Theol Rektor Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng untuk pengukuhan Guru Besar dalam sambutannya menyampaikan bahwa hari ini adalah hari rahmat, hari sukacita akademik, sekaligus hari pengharapan.

“Kita berkumpul bukan hanya untuk merayakan pencapaian pribadi, tetapi untuk meneguhkan sebuah panggilan intelektual dan spiritual: panggilan menjadi terang di tengah dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian,” kata Agustinus Manfred.

Pengukuhan Prof. Mgr. Maksimus Regus, S. Fil., MM, PhD, pakar sosiologi agama dan multikulturalisme, dan Prof. Dr. Sabina Ndiung, M.Pd, pakar pembelajaran matematika SD dan asesmen pembelajaran matematika SD, merupakan tanda bahwa Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng terus bertumbuh sebagai komunitas akademis yang hidup, reflektif, dan transformatif.

Agustinus Manfred mengatakan bahwa tema hari ini, “Menavigasi Ketidakpastian”, sangat kontekstual. Kita hidup di zaman yang ditandai oleh perubahan cepat: disrupsi teknologi, polarisasi sosial, krisis ekologis, dan kegamangan nilai. Ketidakpastian bukan lagi pengecualian. Ia telah menjadi habitat kehidupan manusia modern. Namun, justru di dalam ketidakpastian itu, kita menemukan panggilan. Ketidakpastian bukan hanya ancaman, tetapi juga ruang kreativitas, ruang iman, dan ruang penemuan makna.

“Di sinilah peran ilmu pengetahuan dan iman menjadi sangat penting bukan untuk menghapus ketidakpastian, tetapi untuk menavigasinya dengan bijaksana dan penuh harapan. Kita patut bersyukur karena hari ini kita menyaksikan dua disiplin ilmu yang tampak berbeda namun sesungguhnya saling melengkapi berjumpa dalam satu panggung akademik,” katanya.

Di satu sisi, Prof. Maksimus Regus menghadirkan kedalaman refleksi tentang bagaimana agama hidup dalam masyarakat majemuk, bagaimana iman tidak menjadi sumber konflik, melainkan energi transformasi sosial yang inklusif dan dialogis.

Di sisi lain, Prof. Sabina Ndiung menunjukkan bahwa kecerdasan logis melalui matematika bukan sekadar kemampuan berhitung, tetapi cara berpikir yang jernih, sistematis, dan kritis; sebuah fondasi penting untuk membentuk generasi yang mampu mengambil keputusan secara bijak.

Jika kita renungkan secara lebih dalam, katanya, iman tanpa kejernihan berpikir dapat menjadi rapuh, sementara kecerdasan logis tanpa nilai iman dapat menjadi kering dan kehilangan arah. Karena itu, integrasi keduanya bukan pilihan, melainkan keharusan. Dan lebih dari itu integrasi ini, sebagaimana tema kita katakan, harus menggembirakan.

Kata “menggembirakan” dalam tema ini sangat penting. Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak boleh menjadi beban, melainkan pengalaman yang menghidupkan. Iman yang sejati melahirkan sukacita. Ilmu pengetahuan yang otentik juga menumbuhkan kegembiraan-kegembiraan karena menemukan, memahami, dan berbagi.

Kita membutuhkan para guru besar yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu menularkan kegembiraan intelektual dan spiritual kepada generasi muda. Dan saya percaya, kedua profesor yang kita kukuhkan hari ini telah dan akan terus menjadi sumber inspirasi kegembiraan itu.

Menjadi guru besar bukanlah titik akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Guru besar adalah penjaga nalar publik, penafsir realitas sosial, dan penuntun arah peradaban. Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh perbedaan, kita membutuhkan suara akademik yang jernih, yang mampu menjembatani iman dan rasio, tradisi dan inovasi, lokalitas dan globalitas.

Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng menaruh harapan besar bahwa Prof. Maksimus Regus akan terus berkontribusi dalam membangun harmoni sosial berbasis iman yang dialogis, dan Prof. Sabina Ndiung akan terus memperkuat fondasi pendidikan matematika yang humanis dan transformatif. Semoga gelar guru besar ini semakin meneguhkan komitmen untuk melayani kebenaran, membangun peradaban kasih, dan menghadirkan harapan di tengah dunia yang tidak pasti.

Mgr. Maksimus Regus, Uskup Labuan Bajo, yang dikukuhkan sebagai guru besar Unika St. Paulus Ruteng menyampaikan pidato orasi ilmiahnya. Foto: Vinsensius Patno/Katolikana

Prof. Maksimus Regus: Agama dan Krisis Peradaban Global

Dalam orasi ilmiah yang sudah disiapkan oleh Prof. Dr. Maksimus Regus yang berjudul “Meneropong Agama di Era Post-Antroposen: Menuju Kajian Trans-Sosiologis” menyoroti krisis global yang tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga menyentuh dimensi moral dan peradaban manusia.

Pada Naskah itu, ia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan merupakan refleksi dari krisis nilai dan relasi manusia dengan alam.

“Krisis ekologis bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi krisis peradaban yang menyentuh dimensi moral, sosial, dan spiritual manusia” kata Maksimus.

Lebih lanjut, ia menempatkan agama sebagai kekuatan reflektif dan moral yang mampu memberi arah dalam menghadapi ketidakpastian global.

“Agama hadir sebagai sistem makna yang dinamis dan kekuatan moral dalam menghadapi ketidakpastian planet” tegasnya.

Ia juga memperkenalkan pendekatan trans-sosiologis, yakni integrasi lintas disiplin ilmu dalam memahami peran agama di tengah perubahan global.

Prof. Sabina Ndiung dan Prof. Maksimus Regus bersama keluarga, Rektor Unika St. Paulus, dan Gubernur NTT. Foto: Vinsensius Patno/Katolikana

Prof. Sabina Ndiung: Inovasi Pembelajaran Matematika Berbasis Proyek

Sementara itu, dalam orasi ilmiah, Prof. Dr. Sabina Ndiung mengangkat tema inovasi pembelajaran matematika melalui pendekatan Project-Based Learning (PjBL) yang berorientasi pada Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Ia menekankan bahwa pembelajaran matematika tidak boleh hanya berfokus pada hafalan, tetapi harus mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah nyata.

“Pembelajaran matematika harus memberi ruang bagi siswa untuk mengonstruksi pengetahuan melalui pengalaman nyata dan pemecahan masalah kontekstual” tulis Sabina Ndiung.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penerapan PjBL secara signifikan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, dengan capaian rata-rata tinggi pada kelas eksperimen dibandingkan metode konvensional.

Prof. Sabina Ndiung mengedepankan tentang Pendekatan yang telah terbukti seperti meningkatkan kemampuan analisis, evaluasi, dan kreasi (HOTS), mendorong kolaborasi dan kemandirian belajar, menghubungkan konsep abstrak matematika dengan kehidupan nyata siswa.

Prof. Sabina Ndiung merupakan salah satu profesor perempuan pertama di Unika St. Paulus Ruteng dan telah mencatat sejarah Unika St. Paulus Ruteng sebagai pasangan suami isteri pertama yang kedua-duanya menyandang gelar professor. Suami dari Professor Sabina Ndiung adalah Prof. Dr. Sebastian Menggo, yang tercatat sebagai Professor kedua di Unika St. Paulus Ruteng.

Pengukuhan dua guru besar ini menjadi simbol penguatan kapasitas akademik Unika St. Paulus Ruteng dalam menjawab tantangan zaman.

Di satu sisi, pemikiran Prof. Maksimus Regus memperkaya kajian sosial-keagamaan dalam konteks krisis global. Di sisi lain, inovasi Prof. Sabina Ndiung menghadirkan solusi konkret dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran matematika di tingkat dasar.

Momentum ini menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat refleksi kritis, inovasi, dan transformasi sosial.

Editor: Basilius Triharyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.