Perpisahan yang Mendewasakan

0 17

Kisah Para Rasul 16:22-34; Yohanes 16:5-11

Katolikana.com – Proses mendewasakan sering terjadi lewat perpisahan. Anak-anak balita dipisahkan dari ibunya setelah masa menyusui berakhir. Mereka mesti siap mengonsumsi asupan yang lebih keras. Sebagian masyarakat menuntut anak-anak berusia 17 tahun ke atas untuk keluar dari rumah dan berdiri sendiri.

Dua proses itu tidak dimaksudkan untuk memisahkan anak dari orang tuanya. Namun memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi lebih tangguh.

Pergi untuk mendewasakan
Injil yang kita baca hari ini bisa dipahami dalam sudut pandang itu. Yesus bersabda, “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur tidak akan datang kepadamu; sebaliknya jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (Yohanes 16:7).

Kepergian Yesus bukan perpisahan, melainkan pintu atau kesempatan bagi-Nya untuk hadir secara baru sekaligus untuk mendewasakan para murid-Nya. Dia hadir secara baru dan lebih leluasa. Kehadiran-Nya secara rohani tidak dibatasi lagi oleh ruang dan waktu.

Pengalaman Paulus dan Silas yang dibebaskan dari penjara merupakan salah satu kehadiran Roh Penghibur atau Penolong itu. Mereka tidak hanya dibebaskan, tetapi juga berhasil membaptis kepala penjara dan keluarganya. Artinya, Paulus dan Silas membebaskan mereka dari dosa dan kematian.

Dipisahkan dari kenyamanan rohani
Banyak pengalaman rohani lain mengikuti pola yang sama. Orang dipisahkan dari kenikmatan atau kenyamanan rohaninya untuk membuatnya lebih dewasa. Contohnya, Tuhan mengambil rasa nyaman atau penghiburan yang selama ini orang alami dalam doanya demi melepaskan diri darinya untuk masuk ke dalam tingkat rohani yang lebih tinggi.

Ketika mengalaminya, orang mengeluh bahwa doanya terasa kering dan tanpa hiburan lagi. Waktu itu, Tuhan tidak meninggalkannya, tetapi hendak membawanya ke tingkat kedewasaan rohani yang lebih tinggi dan kuat. Bagai atlit yang harus naik peringkat dituntut meninggalkan prestasi yang telah diraihnya.

Hidup baru
Tuhan hadir dan memberikan bantuan secara baru pula. Orang yang dibimbing perlu membuka diri dan mengakomodasi pertolongan yang baru itu. Itu tampak dalam hidup Paulus setelah bertobat. Dia tidak lagi mengandalkan dirinya sendiri, melainkan setia dan taat mengikuti bimbingan Tuhan.

Demikian hidup beriman dan hidup rohani itu bertumbuh lewat pelbagai proses perpisahan yang mendewasakan. Orang dipisahkan dari “susu” yang selama ini dinikmati untuk bisa mengonsumsi makanan yang lebih keras dan menguatkan.

Apakah kita siap melepaskan segala kenikmatan rohani demi masuk ke tingkat rohani yang lebih tinggi?

Selasa, 12 Mei 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.