Dari Kampung Sekru, Fakfak, Mata Air Misi Katolik Mengalir di Tanah Papua

0 6

Fakfak, Katolikana.com – Dalam  catatan sejarah misi Katolik di Tanah Papua, nama Sekru selalu disebut-sebut dalam perintisan awal. Dan sungguh tidak masuk di akal apabila nama tersebut dilupakan dalam lembaran sejarah misi Katolik di tanah ini.

Sekru, memang berhubungan dengan nama tempat. Sebuah tempat dimana Allah memilih untuk hadir pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik di Tanah Papua. Tetapi setiap kali membaca dan mendengar kata Sekru ini, sa (saya) selalu bertanya dalam hati: “Sekru itu sebenarnya ada di mana?”

Ketika mengingat itu, rasa penasaran tra (tidak) pernah padam. Ketika belum mengetahui baik, rasa ingin tahu tra pernah surut. Kala semakin mencari tahu, rasa mo tau tra (mau tahu tidak) pernah berhenti.

Saya mulai membaca lebih banyak buku, jurnal dan lainnya untuk mengetahui titik koordinatnya. Saya juga terus berusaha lebih banyak mendengar dari orang-orang yang tahu lebih banyak. Sampai akhirnya saya tahu bahwa Sekru itu sebuah kampung di Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Setelah tahu, tahun 2023, saya putuskan untuk pergi sendiri melihat tempat itu. Dari Wamena saya turun ke Jayapura. Dari sana saya naik pesawat ke Sorong. Setelah itu lanjut lagi menuju Fakfak dan tiba di Bandar Udara Torea, Pariwari, Fakfak, Papua Barat.

Begitu saya turun dari pesawat Wings Air di Torea, pertanyaan pertama yang saya pikirkan adalah, “Sekru itu ada di bagian mana?”

Tapi saya sengaja tidak bertanya kepada siapa-siapa. Pertanyaan itu saya simpan sendiri. Sampai akhirnya Pastor Alex Fabianus Pr datang jemput saya dan membawa saya ke Pastoran Paroki Santo Yosep Fakfak.

Istirahat dan makan siang bersama di pastoran. Habis itu menuju ke kampung Hambriangkendik. Di sana saya tinggal dengan Bapak Diakon Didimus Temongmere. Keesokan harinya, ia yang antar saya pergi ke Sekru.

Sepanjang perjalanan, saya membayangkan tempat itu pasti besar. Penuh bangunan tua peninggalan misi. Mungkin ada gereja batu tua atau tanda-tanda besar sejarah Katolik pertama di Papua. Tapi waktu tiba di sana, saya justru terdiam.

Ternyata Sekru adalah kampung sederhana di pinggir pantai. Basis masyarakat Muslim. Rumah penduduk lokal yang dibuat dari bahan lokal dikelilingi pohon pala dan pohon-pohon tua, hijau, dan indah.

Katanya dulu tempat itu menjadi gudang pala. Kebun pala milik masyarakat adat itu tumbuh di tanah berbatu. Tanah yang keras, penuh karang, tetapi berakar kuat dalam celah bebatuan. Tanaman pala itu tumbuh baik. Berbuah pun banyak.

Pala bukan sekedar komoditas unggulan penduduk lokal dalam sistem perdagangan ekonomi tradisional. Bukan pula sebatas julukan bagi kota tua satu ini. Lebih dari pada itu, ini soal filosofi hidup.

Filosofi itu membentuk karakter dan mentalitas orang lokal seperti akar pala yang berakar kokoh dan hidup di celah-celah batu, telah memberi inspirasi hidup selama berabad-abad lamanya.

Di pinggir pantai itu juga pernah berdiri kediaman Kapitan dari klan Patiran. Ada pula pemilik hak adat dari klan Samai, yang yang rukun dengan klan marga dari Diapruga, dan Serkenasa. Mereka adalah penjaga tanah itu sejak dahulu hingga Allah memilih dalam misteri keilahian.

Bertemu dengan warga di Kampung Sekru dalam kunjungan persiapan perayaan Misi Katolik di Tanah Papua. Foto: Soleman Itlay

Rupanya Sekru Diambil dari Bahasa Latin

Setelah dengar-dengar cerita dari masyarakat setempat, ternyata Sekru bukanlah nama asli. Nama aslinya adalah Mondo Gendik. Sekru muncul seiring deng kehadiran misionaris Katolik pertama pada 22 Mei 1894.

Pastor masuk dengan sebuah kapal layar. Pada saat yang sama masyarakat dong lihat perahu satu datang dari laut. Semakin mendekat ke arah pantai. Dong kira pedang rempah-rempah yang masuk untuk cari pala. Ternyata tidak. Kapal ini bawa masuk orang asing satu ini. Dia berdiri di atas perahu. Muda sekali. Wajahnya putih. Badan besar. Tinggi dan kekar.

Beda bahasa. Beda rupa. Beda keyakinan. Tetapi masyarakat dong tra usir de (tak usir dia). Tidak curigai de juga. Mereka lihat de dengan seksama. Bakal melihatnya deng kasat mata manusia yang sangat manusiawi.

Sebelum turun dari perahu, de berbicara dalam bahasa Latin, yang tra dimengerti oleh warga setempat. Katanya demikian: “Secru… Secolarum.” Arti sederhana menurut masyarakat adalah “syukur atau bersyukur.”

Rupanya pastor bersyukur karna bisa tiba selamat sampai di tempat tujuan. Rasa syukur itu juga de sampaikan sebagai langkah awal sebelum sapa, berjabat tangan, bersalaman dan berpelukan–memulai karya misi Allah.

Masyarakat mendengar itu dengan baik. Dan melihat orang asing satu ini bersikap baik. Karna itu dong terima dengan hati terbuka. Sebagai bentuk penerimaan, kontak awal dan penghormatan kehendak baiknya, masyarakat dong kasih nama kampung itu Sekru.

Setelah salam-salaman, orang itu bercakap-cakap deng penduduk lokal yang Muslim. Dong bicara cara soal tujuan kehadiran pace bule itu. Ketika masyarakat dong tanya tujuan, de bilang de datang membawa kabar baik.

Peragakan tanda Salib pun dilakukan di hadapan orang Muslim. De katakan bahwa de bawa agama Romos. Agama Katolik yang berbasis di Tahta Suci Vatikan, Roma, Italy.

Bersilaturahmi, kunjungan di rumah warga Muslim di Kampung Sekru, Pariwari, Fakfak menjelang persiapan perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua. Foto: Soleman Itlay

Benih Misi Katolik itu tumbuh dari dalam rahim kaum Muslimin lokal

Luar biasanya adalah orang Muslim di situ tra merasa terganggu. Dong berusaha mendengar dan menangkap maksud kehadirannya. Lalu dong bilang: dong su (dia sudah ) ada agama “Slam”, yang artinya agama Islam.

Jadi, dong sarankan pace asing itu naik ke arah gunung, Torea. Sebuah kampung berbasis lokal. Belum beragama. Masih terikat dengan agama suku.

Tapi selama beberapa hari, de tinggal dengan penduduk Muslim. Masyarakat dong kas (kasih) tempat tinggal untuk de tinggal. Juga dong kas de makan dan minum.

Selama sepuluh hari, de permandikan 73 orang. Baptisan ini menjadi tanda kehadiran Allah. Sejak itu pula Sekru maupun Torea menjadi tempat bersejarah bagi gereja Katolik di Tanah Papua.

Setelah melihat Sekru dari dekat, sa pikir-pikir dalam hati: “ternyata di sini ya, Sekru itu?

Allah memilih dua tempat ini: satu di pemukiman mayoritas Muslim dan satunya lagi di tengah penduduk beragama suku untuk memulai karya misi keselamatan Allah.

Sa berusa bergeser ke pantai. Lumayan berdiri lama di pantai Sekru. Tempat yang kini menjadi lokasi perayaan misi (132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua). Tidak jauh dari tempat yang sebenarnya orang asing Belanda berdarah Prancis itu masuk. Jaraknya sekitar 50-100 meter.

Sa trus (terus) berusaha melihat laut yang tenang dan pohon pala yang bergoyang pelan. Dalam hati sa bilang, “ternyata sejarah besar kadang lahir dari kampung kecil yang orang sering lupa lihat.”

Dari Sekru, sa belajar satu hal penting: misi pertama di Tanah Papua tidak lahir dari kebencian, tetapi dari keterbukaan, persaudaraan, dan hati manusia yang mau menerima sesama.

Bagaimana pun juga Sekru menjadi rahim bagi perintisan misi Katolik di Tanah Papua. Dalam konteks Papua, benih misi itu mula-mula tumbuh dari dalam rahim kaum Muslimin lokal.

Sekru bukan sekedar pintu masuk bagi misi Katolik di Tanah Papua, melainkan juga menjadi mata air bagi misi itu sendiri. Dari sinilah benih Injil Pala, Sagu dan Hepuru itu tersebar di seluruh Tanah Leluhur Papua.

Editor: Basilius Triharyanto

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.