Merayakan Pentakosta di Paroki Pacar Manggarai Barat, Uskup Labuan Bajo Serukan Persatuan dan Kasih

0 17

Manggarai Barat, Katolikana.com – Pada Minggu (24/05/2026) dalam suasana penuh sukacita Hari Raya Pentakosta, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, memimpin perayaan Ekaristi di Paroki Santu Nikolaus Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Dalam kunjungan ini Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus didampingi oleh Romo Martin William, Pr (Ekonom keuskupan), Romo Didimus Mbembo, Pr Vikep Pacar sekaligus  Pastor Paroki Santu Nikolaus Pacar, dan didampingi pastor kapelan Herman Saup Yustin, SVD

Perayaan ini dihadiri oleh umat dari berbagai stasi yang datang dengan antusias untuk merayakan turunnya Roh Kudus, yang menjadi momen penting dalam kehidupan Gereja. Liturgi berlangsung khidmat dan penuh makna, dengan nyanyian dan doa yang mengungkapkan iman serta pengharapan umat akan karya Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam homilinya, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus mengingatkan kembali janji Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga. Kepada para murid yang dipenuhi ketakutan dan kecemasan, Yesus berkata bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka sendirian. Ia akan mengutus Roh Penghibur. Janji itu menunjukkan bahwa sekalipun Yesus meninggalkan para murid secara fisik, Ia tetap hadir dengan cara yang baru, yakni melalui Roh Kudus yang hidup di tengah Gereja dan dalam hati setiap orang beriman.

“Roh Penghibur itu sangat kita butuhkan ketika hidup terasa berat, ketika kita mengalami kegagalan, kesedihan, kecemasan, dan pergumulan,” ungkapnya.

Karena itu, kehidupan orang beriman tidak pernah dijanjikan bebas dari kesulitan, tetapi Tuhan menjanjikan penyertaan-Nya. Dalam kehidupan keluarga pun, semangat saling menolong menjadi tanda nyata kehadiran Roh Kudus seperti ketika ayah mengalami kesulitan ibu menolong; ketika ibu mengalami beban ayah mendampingi.

Mengacu pada bacaan pertama, Mgr Maksi menjelaskan bahwa Roh Kudus turun dalam rupa lidah-lidah api. Api menjadi simbol yang sangat kaya makna. Selain itu api juga dapat menerangi, membakar semangat yang mulai padam, menghanguskan kejahatan dan dosa, serta menyalakan kembali cinta yang mulai pudar dalam hidup manusia.  Roh Kudus hadir untuk membangkitkan kembali keberanian umat beriman agar tetap teguh bersaksi tentang Kristus di tengah dunia.

“Api Roh Kudus bukan api yang kosong. Api itu menyalakan kembali iman, harapan, dan cinta dalam hati orang-orang yang percaya kepada Yesus, Roh Kudus memberi kekuatan kepada para murid sehingga mereka mampu memahami sabda Tuhan dan mewartakannya kepada banyak orang dengan keberanian baru” tegasnya.

Para petugas Ekaristi Paroki Pacar bersama Uskup Labuan Bajo sesudah pelayanan perayaan Pentakosta pada Minggu (24/5/2026). Foto: Vinsen/Katolikana

Lebih lanjut, dalam refleksi atas bacaan kedua, Mgr Maksi menekankan bahwa setiap orang yang telah dibaptis menerima karunia Roh Kudus. Karunia itu bukan hanya milik orang-orang tertentu, tetapi diberikan kepada semua umat beriman. Ada yang memiliki karunia untuk menggembirakan sesama, memimpin, menghibur, melayani, membangun persaudaraan, ataupun mengampuni mereka yang bersalah.

“Setiap orang memiliki karunia yang unik, tetapi semuanya diberikan untuk membangun Tubuh Kristus, membangun Gereja dan komunitas,” katanya. Karena itu, umat dipanggil untuk tidak hidup egois, melainkan memakai karunia yang diterima demi kebaikan bersama.

Dalam bacaan Injil, Mgr. Maksi menggarisbawahi pengalaman para murid yang awalnya hidup dalam ketakutan dan bersembunyi di dalam ruangan yang terkunci. Namun ketika Yesus datang dan menghembusi mereka dengan Roh Kudus, ketakutan itu berubah menjadi keberanian. Roh Kudus melahirkan damai sejahtera dan kekuatan untuk keluar mewartakan Injil.

Salah satu tanda paling nyata dari kehadiran Roh Kudus ialah kemampuan untuk mengampuni. Yesus tidak hanya memberikan damai sejahtera kepada para murid, tetapi juga kuasa untuk mengampuni dosa. Dalam tradisi Gereja Katolik, anugerah itu dihadirkan secara nyata melalui Sakramen Tobat.

“Kalau seseorang tidak mampu mengampuni, itu berarti ia belum sungguh membuka diri terhadap karya Roh Kudus. Sebaliknya, orang yang dipenuhi Roh Kudus akan menjadi pembawa damai, pembangun persaudaraan, dan sumber sukacita bagi sesame”.

Menutup homilinya, Uskup mengajak seluruh umat untuk menjadikan Pentekosta sebagai momentum pembaruan hidup beriman. Ia mengajak umat untuk berjalan bersama sebagai satu Gereja, memupuk damai dan sukacita dalam keluarga maupun komunitas, serta belajar mengampuni sesama yang pernah melukai dan menyakiti.

“Roh Kudus adalah harta terindah yang diberikan Tuhan kepada Gereja. Karena itu, marilah kita membuka hati agar Roh Kudus terus menyalakan iman, keberanian, cinta, dan damai dalam hidup kita,” pungkasnya.

Dalam suasana penuh sukacita Pentakosta, umat Paroki Santu Nikolaus Pacar menyambut sang gembala dengan antusias dan semangat kebersamaan. Kehadiran Mgr. Maksimus Regus di tengah umat memperlihatkan kedekatan seorang uskup dengan umat basis, sekaligus memperkuat semangat Gereja lokal yang terus bertumbuh di Keuskupan Labuan Bajo.

Mgr. Maksimus menyapa umat sesudah ekaristi selesai. Foto: Vinsen/Katolikana

Dalam sambutannya, Romo Didimus Mbembo, Pr Vikep Pacar sekaligus  pastor paroki Paroki Santu Nikolaus Pacar mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan seluruh umat Paroki atas perayaan iman yang istimewa ini, terlebih karena dipimpin langsung oleh Bapak Uskup sebagai gembala utama Keuskupan Labuan Bajo.

“Kami menyampaikan selamat datang dan terima kasih yang tulus kepada Bapak Uskup yang berkenan hadir dan memimpin perayaan Ekaristi Hari Raya Pentekosta bersama kami. Kehadiran Bapak Uskup menjadi sukacita dan penguatan iman bagi seluruh umat Paroki Santo Nikolaus Pacar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perayaan Pentakosta menjadi momentum penting bagi umat untuk memperbarui iman akan karya Roh Kudus yang terus hidup dalam Gereja. Ia juga mengajak umat untuk membuka hati terhadap tuntunan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari.

Romo Didimus turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat, petugas liturgi, koor, dan panitia yang telah bekerja dengan penuh dedikasi demi terselenggaranya perayaan ini dengan baik dan khidmat.

“Keterlibatan dan kebersamaan kita hari ini adalah tanda nyata bahwa Roh Kudus bekerja di tengah-tengah kita, mempersatukan kita dalam kasih dan pelayanan,” tambahnya.

Perayaan ini juga menjadi momentum penguatan iman bagi umat Paroki Pacar. Kehadiran Uskup di tengah umat dinilai sebagai bentuk perhatian dan kedekatan gembala dengan umatnya, sekaligus mempererat persaudaraan dalam kehidupan menggereja.

Dengan semangat Pentakosta, umat diharapkan semakin diteguhkan untuk terus berjalan bersama sebagai Gereja yang hidup, misioner, dan penuh kasih di tengah masyarakat.

Editor: Basilius Triharyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.