RD Albertus Widya Rahmadi: Baptisan Bukan Garis Finish

0 18

Mojokerto, Katolikana.com – Suasana hangat dan penuh refleksi menyelimuti Balai Paroki Gereja Katolik Santo Yosef Mojokerto pada Minggu (24/5). Sebanyak 15 baptisan baru (neofit) yang menerima Sakramen Tobat dan Baptis pada Malam Paskah 2026 lalu, kembali berkumpul. Kali ini, didampingi keluarga dan para pembina, mereka mengikuti pertemuan Mistagogi sebuah fase krusial dalam tradisi Katolik untuk memperdalam misteri iman setelah resmi menjadi anggota jemaat.

Hadir sebagai narasumber utama, RD. Albertus Widya Rahmadi membedah esensi perjalanan iman pasca-baptisan. Mengangkat tema dari Injil Yohanes 15:16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap…”, Romo Widya mengajak para neofit melihat kembali komitmen spiritual mereka.

Dalam paparan materinya, Romo Widya menekankan bahwa baptisan bukanlah sekadar keputusan emosional atau pilihan manusiawi semata. Sebaliknya, hal itu merupakan jawaban atas undangan kasih Allah yang murni.

“Sebelum Anda mendaftar kelas katekumenat, Tuhan sudah mengenal dan mengasihi Anda,” ujar Romo Widya di hadapan para peserta.

Ia menjelaskan bahwa kegelisahan, pencarian spiritual, hingga kerinduan hati yang dialami seseorang sebelum dibaptis, sering kali merupakan cara Tuhan “mengetuk pintu” kehidupan manusia. Momen-momen di titik terendah hidup seperti saat didera sakit, kegagalan bisnis, atau patah hati yang kemudian menggerakkan langkah kaki masuk ke dalam gereja dan menemukan kedamaian, bukanlah sebuah kebetulan.

Para Baptisan Baru berkumpul di Balai Paroki Gereja Katolik Santo Yosef Mojokerto pada Minggu (24/5/2026). Foto: Yohanes Don Bosco Lobo/Katolikana

“Itu adalah momen konkret di mana Kristus sedang menarik Anda mendekat dan memilih Anda,” lanjutnya.

Melalui simbol kain putih dan lilin baptis, para neofit diingatkan akan identitas baru mereka yang berharga, dikuduskan, dan dilindungi. Status baru ini juga membuka akses penuh pada sakramen-sakramen Gereja, khususnya Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi (Tobat) sebagai “nutrisi” utama agar iman tidak layu di tengah jalan.

Tantangan nyata seorang Katolik justru dimulai setelah ritual baptisan selesai. Romo Widya mengingatkan bahwa baptisan bukanlah garis finish, melainkan garis start untuk diutus ke tengah masyarakat. Hal ini selaras dengan pengutusan di akhir perayaan Ekaristi: Ite Missa Est yang berarti “Pergilah, kamu diutus!”.

Utusan tersebut tidak diwujudkan melalui perdebatan kusir atau kemarahan saat iman mereka diuji oleh lingkungan sekitar, melainkan melalui perubahan karakter yang nyata. Di tempat kerja, buah iman itu berwujud integritas—seperti menolak budaya korupsi kecil-kecilan atau pemalsuan nota. Sementara di dalam keluarga, buah itu mewujud pada keberanian untuk meminta maaf secara tulus dan mengampuni luka masa lalu.

Untuk membantu para neofit mengidentifikasi perubahan tersebut, pertemuan ini juga membedah Sembilan Buah Roh berdasarkan Kitab Galatia 5:22-23, yang meliputi:

  • Pertama, Kasih dan Sukacita yakni Mengutamakan kebaikan orang lain dan menjaga kegembiraan batin meski rencana hidup berantakan.
  • Kedua,Damai Sejahtera dan Kesabaran artinya Menjadi penengah dalam konflik keluarga serta mampu menahan diri, misalnya saat terjebak kemacetan di jalan raya.
  • Ketiga, Kemurahan dan Kebaikan yaituSikap ramah kepada petugas kebersihan atau kejujuran mengembalikan kelebihan uang kembalian di toko.
  • Keempat, Kesetiaan, Kelemahlembutan, dan Penguasaan Diri yaitu Menjaga waktu doa di tengah kelelahan, menegur sesama tanpa bentakan, serta menahan ego saat emosi memuncak.

Di penghujung acara, para baptisan baru diajak untuk merefleksikan dua pertanyaan mendasar: perubahan konkret atau “buah roh” apa yang paling dirasakan sejak dibaptis, serta apa tantangan terbesar dalam membagikan kasih Kristus di lingkungan mereka saat ini.

Pertemuan Mistagogi di Paroki St. Yosef Mojokerto ini menjadi ruang refleksi yang teduh bagi para neofit. Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, 15 baptisan baru kini pulang membawa bekal baru yakni kesadaran bahwa mereka dipilih bukan karena telah sempurna, melainkan karena ada rencana khusus yang harus mereka hidupi di tengah dunia.

Editor: Basilius Triharyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.