Magelang, Katolikana.com – Senin (8/6/2026) siswa-siswi Kelas 6 SD Kanisius Kenalan Magelang merayakan kelulusan Tahun Pelajaran 2025/2026 dengan cara unik. Memasak jenang Bing-Bing yakni jenang Bingah-Bingah dan disantap bersama. Bingah- Bingah artinya Senang-Senang atau “Bersuka Cita.”
Republik Anak Kenalan
SD Kanisius Kenalan terletak di perbukitan Menoreh, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sekolah ini dikenal dengan nama Republik Anak Kenalan yang letaknya berdekatan dengan destinasi wisata Candi Borobudur.
Suasana pedesaan dengan ciri khas bercocok tanam dan berternak, hidup kemasyarakatan dengan gotong royong dan kesederhanaan menjadi warisan pendidikan yang dikemas dalam kurikulum kontekstual.
Menanam berbagai tanaman pangan, berternak kambing, kenduri, kerja bakti memainkan musik band dengan peralatan dapur, melakukan kegiatan OSIS dengan model tata pemerintahan (layaknya negara sungguhan di mana siswa berperan sebagai rakyat, dan mereka memilih Presiden, Wakil Presiden, hingga jajaran kabinet)
serta berkolaborasi dengan masyarakat merawat budaya dan kesenian yang melingkupinya.
Sebagai sekolah Katolik milik Yayasan Kanisius, siswa-siswi di SD Kanisius Kenalan diajarkan pengetahuan iman, penghayatan iman dan perwujudan iman dalam ragam kegiatan ibadat, devosional, perayaan, ziarah dengan balutan tata laksana “ala” pedesaan serta menjaga lingkungan.
Jenang dan peristiwa penting hidup
Dalam budaya Jawa, jenang (bubur) bukan sekadar makanan, melainkan simbol doa, harapan, dan bentuk rasa syukur yang selalu hadir dalam peristiwa penting daur hidup manusia.
Berbagai momen kehidupan seringkali ditandai dengan jenis jenang yang spesifik, antara lain saat :
Kelahiran
Ditandai dengan Jenang Sengkolo (jenang merah dan putih), yang menjadi simbol pengharapan agar anak dan keluarga terhindar dari mara bahaya atau nasib buruk.
Jenang Sumsum
Jenang Sumsum sering disajikan saat mengakhiri rangkaian acara, sebagai simbol untuk mengembalikan tenaga dan menyatukan energi serta pikiran setelah bergotong-royong.
Peringatan Keagamaan
Jenang Suran atau Jenang Suro disajikan pada bulan Suro (tahun baru Islam) untuk memperingati peristiwa sejarah dan memohon keselamatan.
Jenang Lemu
Bubur gurih lembut yang biasa disajikan dengan opor ayam. Maknanya adalah harapan agar manusia tidak berhati lemah dan selalu bersemangat dalam membangun lembaran atau kehidupan baru.
Jenang Grendul (Krasikan/Cemplon)
Bubur dengan bola-bola kenyal dari tepung ketan dan kuah gula merah kental. Maknanya melambangkan kebersamaan dan persatuan masyarakat, di mana segala perbedaan disatukan menjadi keselarasan yang manis.
Jenang Majemukan
Campuran berbagai jenis jenang dalam satu wadah. Maknanya merepresentasikan manusia sebagai makhluk sosial yang hidup dalam keberagaman, sehingga penting untuk saling menghargai.
Jenang Procot
Jenang dengan tekstur lembut dan licin. Maknanya adalah doa dan harapan agar proses persalinan seorang ibu yang sedang hamil dapat berjalan lancar dan mudah (“procot” atau cepat lahir).
Sumsuman SD Kanisius Kenalan
Redaksi Katolikana.com menerima Video Jenang Bing-Bing SD Kanisius Kenalan dari Simus Maryono Kepala SD Kanisius Kenalan. Video ini berisi ungkapan sukacita, “Bingah-Bingah” karena para siswa telah berjuang menempuh ujian dan merayakan kegembiraan lulus dengan memasak Jenang Sumsum Bing-Bing dan menyantapnya dalam kemasan “pincuk” daun pisang (*)

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta