SD Kanisius Kenalan Magelang : Tampen dan Brokohan

0 52

Magelang, Katolikana.com – Memiliki anggota keluarga baru tentu menjadi sumber sukacita yang sungguh tak ternilai. Pada Jumat Kliwon, 17 Juli 2026, semua anggota keluarga besar SD Kanisius Kenalan bersama orang tua murid fase A menyambut sebanyak 6 murid baru dan ditandai dengan sebuah prosesi “Tampen”.

Penyematan caping sebagai simbol melindungi siswa dalam pendidikan di sekolah SD Kanisius Kenalan Magelang

Tampen menerima secara utuh
Tampen berasal dari kata dasar Bahasa Jawa “tampa” yang berarti menerima.

Menerima anggota keluarga baru bukan hanya secara fisik, melainkan menerima mereka secara utuh sebagai pribadi yang bertumbuh. Orang tua, guru, dan masyarakat setidaknya mengenal, memahami dan menerima setiap keunikan dan karakter anak. Dari sanalah pendidikan dimulai.

Pers release diterima Katolikana.com dari Yohana Ika Oktawijayanti Guru SD Kanisius Kenalan Magelang, acara diawali dengan sambutan dari presiden dan wakil presiden (Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS SD Kanisius Kenalan) dilanjutkan dengan menyanyikan lagu anak-anak kenalan dan Mars Barnabas.

Selanjutnya, perwakilan orang tua murid dan kepala pamong menyampaikan sambutan yang menegaskan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Puncak acara adalah doa bersama, penyematan caping sebagai simbol pelindung. Caping melambangkan harapan agar sekolah menajdi ruang yang aman, teduh, dan penuh kasih, tempat setiap anak dapat belajar, bertumbuh, dan berkembang dengan penuh sukacita.

Menyuapi siswa dengan sekepal nasi sebagai simbol tekad kuat mendampingi belajar siswa

Menyuapi nasi pada murid baru
Dalam acara tampen juga dilaksanakan doa melalui tradisi among-among. Among-among adalah tradisi masyarakat jawa sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan doa untuk keselamatan pada awal sebuah proses maupun atas proses yang telah dilalui. Among-among berisi nasi, beragam sayur, dan jajanan pasar sebagai lambang syukur, kebersamaan, dan keberlimpahan.

Dalam prosesi tersebut, kepala sekolah mengambil sebagian nasi dan diserahkan kepada guru kelas 1. Nasi itu kemudian dikepal sebagi simbol tekad kuat dalam mendampingi anak-anak selama proses belajar. Selanjutnya, guru kelas 1 menyuapkan sejumput nasi kepada setiap murid baru secara bergantian sebagai tanda penerimaan dan kasih.

Gendongan murid baru
Prosesi berikutnya menjadi momentum yang paling mengharukan. Salah satu orang tua murid menggendong anaknya, kemudian menyerahkan kedalam gendongan guru kelas 1. Gestur sederhana ini menjadi lambang kepercayaan orang tua kepada sekolah untuk bersama-sama mendidik, mendampingi, dan menumbuhkan putra-putri mereka.

Tradisi ini mengingatkan pada budaya Jawa yang dikenal sebagai brokohan, yaitu ungkapan syukur atas keselamatan seorang anak yang baru lahir kedunia. Sebagaimana bayi disambut dengan doa dan harapan ketika memasuki fase kehidupan di luar rahim ibu, demikian pula enam murid baru SD Kanisius Kenalan disambut ketika memulai perjalanan baru sebagai bagian dari keluarga besar SD Kanisius Kenalan.

Makan bersama
Acara ditutup dengan makan bersama dan rayahan jajanan pasar yang diletakkan dalam among-among. Kebersamaan di meja makan menjadi simbol bahwa semenjak hari itu tidak ada lagi sekat antara murid, orang tua, guru dan masyarakat.

Semua dipersatukan sebagai satu keluarga yang akan saling belajar dan terus bertumbuh. Tradisi tampen SD Kanisius Kenalan menegaskan bahwa pendidikan bukan sekedar menerima murid baru melainkan menyambut anggota keluarga baru.

Semoga tradisi ini terus menguatkan spiritualitas belajar di Padepokan Karsa Jati SD Kanisius Kenalan, sehingga setiap anak mengalami sekolah sebagai rumah yang aman untuk bertumbuh. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.