Semarang, Katolikana.com – Pada tahun ajaran 2026-2027 ini ada 12 orang frater yang menjalani formatio di Seminari TOR Sanjaya Jangli Semarang.
Para frater, 12 rasul masa kini pada Minggu (30/8/2026) menerima jubah. Semoga mereka semakin menyerahkan diri kepada perlindungan Allah dan semakin terbuka pada bimbingan Roh Kudus sang Formator utama, dan berperilaku sedemikian rupa (menghayati diri sebagai kaum berjubah), sehingga menampakkan Kristus dalam proses formatio persiapan menjadi imam.
Direktur Seminari TOR Jangli Semarang Romo Yohanes Gunawan, Pr dalam kata sambutan menyampaikan permohonan doa dari Bapak Uskup dan bapak/ibu serta saudara yang hadir dalam Perayaan Ekaristi Penjubahan, supaya sebagai staf formator, dapat ‘ngopeni, nresnani, lan nggemateni’ merawat, mengasihi, memperhatikan benih panggilan para frater di TOR Sanjaya.
Formator utama adalah Roh Kudus.
Romo Yohanes Gunawan, Pr dan para staf berusaha untuk menghayati sabda Tuhan, “Buluh yang terkulai tidak akan dipatahkan, sumbu yang berkedip tidak akan dipadamkan”. (Yesaya 42:3)
Identitas baru
Dengan menjalani formatio atau pembinaan di Seminari TOR Sanjaya Jangli ini, setiap formandi (calon imam) mendapat Identitas baru.
Mereka dipanggil dengan sebutan frater dan memakai jubah (bagian dari Kaum Berjubah). Jubah adalah busana resmi para rohaniwan/wati yang dipakai saat melakukan kegiatan liturgi atau menghadiri pertemuan resmi.
Penjubahan adalah salah satu bagian sangat penting dalam proses pembinaan para calon imam di Seminari TOR Sanjaya Jangli Semarang.
Momentum Penjubahan ini membingkai dinamika proses Masa Awal pembinaan para frater sekitar 8 minggu (2 bulan) awal di sini, meliputi: 2 Minggu masa transisi dan 6 Minggu masa orientasi). Masa Orientasi diwarnai dengan aneka kegiatan: Pekan community building (Membuat Angkatan kempel-solid) dengan merumuskan motto Angkatan 46 “Tuhan Menuntun dan Membarui Kekuatanku”.

Orientasi hidup berkomunitas sebagai calon imam diosesan KAS di TOR, Formatio Kebangsaan dan Berdinamika dengan masyarakat sekitar (perayaan 17-an), serta Retret Penjubahan 8 hari.
Secara khusus, momentum penjubahan sudah disiapkan dengan persiapan batin, yaitu Retret 8 hari (18-25 Agustus), dan penerimaan Sakramen Tobat (Romo Gitowiratmo sebagai bapa pengakuan dosa).
Membangun tiga komitmen
Dalam pembinaan di Seminari TOR Sanjaya Jangli ini, para frater dituntut mempunyai 3 sikap dasar/komitmen agar semakin imami:
Siap sedia. Terbuka dan mau dibimbing dinamika baru: rumah baru, teman baru dan grade baru (naik kelas) tinggalkan kebiasaan lama, cara hidup lama yang tidak sesuai tinggalkan merto minded. ( Seminari: Rumah Pembinaan, bukan Rumah Penginapan)
Kesungguhan. Mau terus belajar, tidak setengah – setengah dan berdaya juang tinggi. Tetap semangat dan ora gampang sambat! ( baca buku Rohani, baca KS (Sabda Tuhan), belajar berbelanja di pasar, belajar memasak, belajar merawat dan sense of belonging terhadap rumah dengan aneka kebidelan/seksi dan kerja tangan (berkebun, beternak, ikut rapat RT, dsb).
Kreatif. Menatap ke depan dan mencipta, bukan bernostalgia masa lalu dan baper-over thinking, tak terbelenggu kebiasaan buruk/luka batin dan status quo ( kreatif dan gembira dalam berkarya. Tugas kami mendampingi dan memfasilitasi.
Sejak awal di TOR ini, para frater didamping untuk mengenal dan menghidupi Spiritualitas Imam Diosesan: Mengarahkan hidup, mengikuti, meneladan, menyatukan diri dan menjadi serupa dengan Kristus (Christocentric) dalam kesatuan-ketaatan dengan Bapak Uskup demi pengembangan Gereja lokal.
Pendamping mempunyai harapan dan program: bagaimana para frater TOR Jangli ini sejak awal mempunyai ikatan batin (bounding)dan kesatuan yang kuat dengan keuskupan (dioses) dan Bapak Uskup Agung Semarang selaku bapaknya.
Semester 1: Bapak Uskup rawuh memimpin misa Penjubahan sekaligus menyapa orang tua dan para frater (sapaan komunal); Semester 2: Mengadakan wawanhati secara pribadi dengan para frater (sapaan personal).
Mulai tahun ajaran 2026-2027, sebutan pimpinan Seminari TOR Jangli: Direktur, bukan lagi Rektor. ( menunjukkan kesatuan-bagian dari formatio di Seminari Tinggi).

(Foto Seminari TOR Jangli Semarang)
Sekilas Seminari TOR Jangli Semarang
Seminari TOR Jangli ini adalah Seminari TOR pertama di Indonesia diresmikan 3 Juli 1981 oleh Bapak Cardinal Justinus Darmajuwono dengan frater Angkatan I ada 20 orang. Bangunan Seminari ini sangat megah, modern dan indah sebagai wujud nyata keseriusan Gereja KAS menyiapkan calon-calon imam diosesannya!
Seminari TOR sebagai kesempatan untuk ngunjal ambegan dari kesibukan / tuntutan studi di Seminari Menengah dan Seminari Tinggi.
Data para frater yang pernah dididik di Seminari TOR Sanjaya Jangli selama 46 tahun (1981-2026): 749 orang (frater KAS, frater Keuskupan Purwokerto, frater Ketapang, frater Bandung, frater Palembang, dan frater SJ). ( Ada 259 imam (5 alumni tahbisan 2026: 4 imam praja KAS, dan 1 imam Ketapang), dan 2 orang alumni TOR yang menjadi uskup: Mgr Robertus Rubiyatmoko (Angkatan ke-4: Uskup Agung Semarang) dan Mgr. Pius Riana Prapdi (Angkatan ke-7: Uskup Ketapang). ( alumni TOR: pindah Yesuit (Rm Ign. Swasono SJ) atau Imam Praja Keuskupan lain (Ketapang)
Panggilan itu unik, istimewa dan misteri. Bapak Kardinal Darmojuwono, penggagas dan pendiri Seminari TOR Jangli ini berpesan : “Manusia Berusaha dan Tuhan Melengkapinya”.
Pantun:
Pancen asyik Frater TOR Jangli,
Bapak Uskupe Mgr Rubi,
Yen Gusti nimbali,
Gusti mesthi ngamping-ngampingi.
(*)

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta