Pradnya Widya Universitas Sanata Dharma
Sebuah Panggilan untuk Mendidik dan Melayani sebagai Katekis dan Guru Agama

0 28

Oleh Rm. Bernardus Agus Rukiyanto, SJ

Katolikana.com—Di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar lembaga yang menghasilkan lulusan berijazah. Kita membutuhkan institusi yang mampu membentuk manusia berilmu, bijaksana, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan bersama.

Dalam konteks inilah, Pradnya Widya yang menjadi bagian dari sejarah Pendidikan Keagamaan Katolik (Pendikkat) Universitas Sanata Dharma memiliki pesan yang layak diperkenalkan lebih luas kepada publik.

Kini mulai tahun ajaran baru 2026/2027, Pendikkat Sanata Dharma melanjutkan perjalanannya di Kampus I USD, Mrican, setelah sebelumnya berada di Kotabaru (sejak 1962).

Perpindahan ini bukan hanya menghadirkan wajah baru bagi kehidupan akademik, tetapi juga membuka kesempatan untuk memperkenalkan kembali identitas, nilai, dan kontribusi Pendikkat kepada masyarakat.

Pertanyaannya, sudahkah publik mengenal Pradnya Widya bukan hanya sebagai nama yang memiliki nilai historis, melainkan sebagai semangat pendidikan yang relevan bagi kebutuhan zaman?

Mengenal Pradnya Widya, Mengenal Jati Diri Pendikkat

Pradnya Widya membawa gagasan tentang kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan. Dua nilai ini menjadi penting ketika pendidikan tidak lagi cukup dinilai dari seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai seseorang, tetapi juga dari bagaimana pengetahuan tersebut digunakan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Ilmu tanpa kebijaksanaan dapat kehilangan arah. Sebaliknya, kebijaksanaan yang tidak ditopang pengetahuan yang memadai dapat kehilangan dasar dalam mengambil keputusan. Keduanya perlu berjalan bersama agar pendidikan sungguh-sungguh membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, bertindak bertanggung jawab, dan menghargai martabat sesama.

Bagi Pendikkat Sanata Dharma, gagasan tersebut memiliki relevansi khusus. Pendidikan keagamaan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi agama, teologi, Kitab Suci atau metode pembelajaran. Pendidikan keagamaan juga menyangkut pembentukan pribadi yang mampu menghubungkan iman dengan kehidupan, pengetahuan dengan tindakan, serta keyakinan dengan tanggung jawab sosial.

Pradnya Widya, karena itu, patut diperkenalkan kepada masyarakat sebagai identitas yang memiliki substansi. Pradnya Widya bukan sekadar slogan institusi, melainkan cita-cita pendidikan yang perlu tampak dalam cara dosen mengajar, mahasiswa belajar, calon guru mendidik, dan calon katekis mempersiapkan diri untuk melayani.

Dari Kotabaru ke Mrican: Momentum Memperkenalkan Wajah Baru

Perpindahan kampus dari Kotabaru ke Mrican memberikan momentum bagi Pendikkat untuk memperluas komunikasi publik. Sebuah kampus dapat memiliki sejarah panjang dan nilai pendidikan yang kuat, tetapi nilai tersebut tidak akan dikenal secara luas apabila hanya beredar di kalangan sivitas akademika dan alumni.

Masyarakat perlu mengetahui apa yang membedakan Pendikkat Sanata Dharma, apa yang dipelajari mahasiswanya, bagaimana proses pendidikannya, serta kontribusi apa yang dapat diberikan lulusannya kepada sekolah, Gereja, dan masyarakat.

Di sinilah promosi Pradnya Widya memperoleh arti penting. Promosi bukan semata-mata kegiatan memperkenalkan nama program studi atau mengajak calon mahasiswa mendaftar. Promosi juga merupakan

Mrican dapat menjadi ruang bagi semangat mengomunikasikan gagasan pendidikan, memperlihatkan kualitas pembentukan calon pendidik, dan membangun kepercayaan publik terhadap peran pendidikan keagamaan Katolik. Melalui kegiatan akademik, diskusi publik, publikasi digital, kolaborasi dengan sekolah, keterlibatan alumni, dan kegiatan pelayanan masyarakat, Pendikkat dapat memperlihatkan bahwa nilai Pradnya Widya tidak berhenti pada sejarah, tetapi terus diterjemahkan dalam karya nyata.

Wajah kampus boleh berubah, tetapi identitasnya perlu semakin dikenal. Perpindahan ke Mrican seharusnya menjadi kesempatan untuk membuat Pradnya Widya lebih dekat dengan masyarakat.

Mengapa Publik Perlu Mengenal Pendikkat Sanata Dharma?

Ada anggapan bahwa pendidikan agama hanya berurusan dengan pengajaran doktrin atau pengetahuan keagamaan. Padahal, peran seorang guru agama dan katekis jauh lebih luas. Mereka terlibat dalam pembentukan karakter, pendampingan perkembangan iman, pendidikan nilai, penguatan dialog, serta upaya membangun kehidupan bersama yang menghormati perbedaan.

Guru agama Katolik, misalnya, tidak hanya dituntut mampu menjelaskan materi pelajaran. Ia juga perlu menciptakan pembelajaran yang membantu peserta didik mengembangkan tanggung jawab, kejujuran, kepedulian, dan sikap menghormati orang lain. Sementara itu, katekis berperan dalam pendampingan iman, katekese, pewartaan, dan pengembangan kehidupan menggereja yang relevan dengan konteks masyarakat.

Peran tersebut semakin penting ketika generasi muda menghadapi persoalan perundungan, intoleransi, penyebaran informasi keliru, krisis keteladanan, dan tantangan penggunaan teknologi digital. Dalam situasi demikian, pendidikan agama yang bermutu dapat menjadi salah satu ruang untuk menumbuhkan kedewasaan moral, kemampuan berdialog, dan kepedulian terhadap sesama.

Pendikkat Sanata Dharma memiliki kesempatan untuk memperkenalkan kontribusi pendidikan tersebut kepada publik. Bukan dengan sekadar mengklaim keunggulan, melainkan dengan menunjukkan karya, proses pembelajaran, pengalaman mahasiswa, kiprah alumni, dan dampak nyata pendidikan bagi masyarakat.

Kisah-kisah alumni yang menjadi guru agama dapat memperlihatkan bagaimana nilai Pradnya Widya dihidupi di ruang kelas. Cerita tentang katekis yang mendampingi umat dapat menunjukkan bahwa pendidikan memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan komunitas. Sementara itu, karya penelitian dan pengabdian masyarakat dapat memperlihatkan bagaimana pengetahuan akademik digunakan untuk menjawab persoalan nyata.

Pradnya Widya dan Tantangan Pendidikan Masa Kini

Relevansi Pradnya Widya menjadi nyata melalui tanggapan atas persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di tengah banjir informasi digital, widya mengajak manusia mencari pengetahuan yang benar, memeriksa sumber, dan berpikir kritis. Sementara itu, pradnya mengingatkan pentingnya kebijaksanaan sebelum mengambil keputusan atau menyebarkan informasi.

Di tengah masyarakat yang beragam, ilmu membantu seseorang memahami perbedaan, sedangkan kebijaksanaan membantunya berdialog tanpa kehilangan sikap hormat terhadap sesama. Dalam pendidikan, penguasaan materi perlu berjalan bersama kepekaan terhadap kebutuhan peserta didik. Dalam pelayanan pastoral, pemahaman teologis perlu disertai kemampuan mendengarkan dan mendampingi manusia dengan empati.

Dengan menghubungkan Pradnya Widya pada persoalan konkret tersebut, Pendikkat dapat memperlihatkan bahwa nilai yang diwarisinya bukan hanya relevan bagi lingkungan internal kampus, melainkan juga memiliki makna bagi masyarakat luas.

Inilah salah satu kekuatan yang dapat ditawarkan kepada calon mahasiswa: pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan seseorang untuk menjalankan pekerjaan, tetapi juga mengembangkan kapasitas intelektual, kedewasaan pribadi, dan komitmen pelayanan.

Promosi yang Berangkat dari Nilai, Bukan Sekadar Publikasi

Agar Pradnya Widya semakin dikenal, Pendikkat perlu membangun komunikasi publik yang konsisten. Media sosial, artikel populer, video profil, podcast, seminar, dan kegiatan kunjungan ke sekolah dapat digunakan untuk menjelaskan identitas serta kontribusi program studi dengan bahasa yang mudah dipahami.

Namun, inti promosi bukanlah seberapa sering nama Pradnya Widya disebut. Yang lebih penting ialah apakah masyarakat memahami maknanya dan dapat melihat perwujudannya.

Karena itu, ada beberapa langkah yang layak dipertimbangkan.

Pertama, membangun narasi resmi tentang sejarah dan filosofi Pradnya Widya yang dapat digunakan secara konsisten oleh program studi, mahasiswa, dosen, dan alumni.

Kedua, mengangkat kisah nyata mahasiswa dan alumni yang memperlihatkan bagaimana pendidikan di Pendikkat membentuk kemampuan mengajar, mendampingi, berdialog, dan melayani.

Ketiga, memperkuat kehadiran digital melalui konten edukatif mengenai pendidikan agama, katekese, spiritualitas, etika, dan isu kemanusiaan yang relevan bagi generasi muda.

Keempat, menjadikan Kampus Mrican sebagai ruang perjumpaan dengan masyarakat melalui kuliah umum, lokakarya guru agama, diskusi lintas agama, kegiatan literasi, dan pengabdian masyarakat.

Kelima, mengajak alumni menjadi duta Pradnya Widya. Pengalaman mereka di sekolah, paroki, dan komunitas dapat menjadi jembatan yang menghubungkan sejarah lembaga dengan kebutuhan pendidikan saat ini.

Langkah-langkah tersebut bukan sekadar strategi pemasaran. Semuanya merupakan cara untuk menerjemahkan nilai pendidikan menjadi pengalaman yang dapat dilihat, dipahami, dan dirasakan masyarakat.

Menghidupkan Warisan, Membuka Masa Depan

Perjalanan dari Kotabaru ke Mrican menandai perubahan tempat, tetapi masa depan Pendikkat tidak hanya ditentukan oleh lokasi kampusnya. Masa depan itu juga bergantung pada kemampuannya merawat identitas, mengembangkan mutu pendidikan, menjalin hubungan dengan masyarakat, dan menjelaskan kontribusinya secara terbuka.

Pradnya Widya menyediakan dasar yang kuat untuk upaya tersebut. Kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan merupakan dua nilai yang dapat menjembatani warisan sejarah dengan kebutuhan masa kini. Keduanya memberi arah bagi pembentukan guru agama dan katekis yang tidak hanya menguasai bidangnya, tetapi juga mampu menghadirkan pendidikan yang bermakna bagi manusia.

Karena itu, memperkenalkan Pradnya Widya kepada publik bukan hanya tugas program studi. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga warisan pendidikan agar tetap hidup, berkembang, dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.

Masyarakat perlu mengenal Pendikkat Sanata Dharma bukan semata-mata karena sejarahnya, tetapi juga karena karya yang dihasilkannya dan nilai yang diperjuangkannya. Calon mahasiswa perlu melihat bahwa menjadi guru agama atau katekis merupakan panggilan profesional sekaligus kesempatan untuk berkontribusi dalam pembentukan manusia dan kehidupan bersama.

Dari Kotabaru menuju Mrican, Pendikkat memasuki babak baru. Momentum ini selayaknya dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan, memperkuat identitas, dan membuka dialog dengan masyarakat yang lebih luas.

Pradnya Widya harus hadir bukan hanya di dalam nama, tetapi dalam ilmu yang dibagikan, kebijaksanaan yang ditumbuhkan, dan pelayanan yang dirasakan. Wajah baru di Mrican, semangat yang terus menyala: membentuk katekis dan calon guru agama yang berilmu, bijaksana, dan siap melayani.

Sebab, ketika sebuah lembaga mampu menunjukkan nilai yang dihidupinya, promosi tidak lagi sekadar memperkenalkan institusi. Promosi menjadi undangan kepada masyarakat untuk mengenal, mengalami, dan ikut meneruskan cita-cita pendidikannya. (*)

Penulis: Rm. Bernardus Agus Rukiyanto, SJ, Dosen Universitas Sanata Dharma

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.