Katolikana.com—Dalam sebuah pesan yang singkat namun sarat makna, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, menyampaikan seruan penting kepada Orang Muda Katolik (OMK) di seluruh Indonesia.
Seruan tersebut bukan sekadar kata-kata mutiara, melainkan sebuah kompas moral dan kewarganegaraan yang relevan di tengah dinamika sosial-politik bangsa hari ini.
Ada tiga poin fundamental yang diangkat antara lain: kesetaraan warga negara, keterlibatan sosial, dan penguasaan ilmu pengetahuan. Jika ditarik lebih dalam, menuntut refleksi kritis atas peran pemuda Katolik dalam panggung kebangsaan.
Poin pertama yang disuarakan Alissa menyasar jantung persoalan psikologis yang kerap membayangi kelompok-kelompok tertentu di Indonesia seperti jebakan mentalitas minoritas.
Alissa secara tegas menyatakan bahwa dalam urusan hak-hak kewarganegaraan, tidak ada dikotomi antara mayoritas dan minoritas. Hak setiap warga negara di hadapan konstitusi adalah setara. Secara historis dan hukum, Indonesia tidak didirikan di atas dominasi kelompok tertentu. Konstitusi kita menjamin kedudukan yang sama bagi setiap anak bangsa.
Namun, realitas psikologis sering kali membuat kelompok yang secara kuantitas lebih kecil merasa enggan mengambil peran di depan atau cenderung bersikap defensif.
Pesan Alissa ini menjadi otokritik sekaligus dorongan keberanian bahwa jumlah boleh saja kecil, tetapi ruang kontribusi dan hak kepemilikan atas Republik ini tidak boleh dikurangi sedikit pun.
Untuk menciptakan masyarakat yang adil dan damai, orang muda harus terlebih dahulu memandang dirinya sebagai bagian yang setara, bukan penumpang di negerinya sendiri.
Pesan kedua menggarisbawahi pentingnya melampaui egoisme kelompok. Sering kali sebuah komunitas terjebak dalam eksklusivitas, hanya berfokus pada dinamika internal dan altar sendiri. Alissa mengingatkan kembali semboyan legendaris Mgr. Soegijapranata: “100% Katolik, 100% Indonesia“.

Prinsip ini menegaskan bahwa keimanan yang sejati tidak pernah berlawanan dengan rasa cinta tanah air. Menjadi Katolik yang utuh justru menuntut keterlibatan aktif dalam merawat Indonesia. Masa depan bangsa ini sangat ditentukan oleh sejauh mana generasi mudanya termasuk OMK mau turun tangan, berkhidmat, dan berkontribusi bagi masyarakat luas tanpa sekat-sekat agama.
Iman yang hidup adalah iman yang berdampak di ruang publik, yang memperjuangkan keadilan sosial dan kemakmuran bersama.
Semangat kebangsaan dan keberanian saja tidak cukup tanpa dibekali kapasitas intelektual. Poin ketiga Alissa meletakkan landasan yang sangat praktis dan rasional: pentingnya menuntut ilmu dan menguasai keterampilan masa depan.
Perubahan dunia yang berjalan amat cepat membutuhkan pemuda yang tidak hanya beritikad baik, tetapi juga kompeten dan adaptif. Indonesia membutuhkan figur-figur terdidik, cendekiawan, dan profesional yang menguasai keahlian strategis untuk menjawab tantangan zaman. Tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kontribusi bagi bangsa hanya akan berhenti pada tataran retorika.
Pesan Alissa Wahid tersebut adalah panggilan untuk mengambil tanggung jawab sejarah. Orang Muda Katolik diundang untuk keluar dari zona nyaman, menanggalkan rasa minder, dan tampil di garda depan pembangunan bangsa.
Masa depan Indonesia tidak berada di tangan orang lain, melainkan di tangan anak-anak mudanya sendiri. Dengan meyakini kesetaraan, mendedikasikan diri bagi sesama, serta memperkuat kapasitas diri, orang muda Katolik akan benar-benar menjadi garam dan terang yang memperkokoh bangunan NKRI. (*)
Guru Pendidikan Agama Katolik di SMA Negeri 2 Kota Mojokerto. Penggagas Gerakan Katakan dengan Buku (GKdB), Anggota Pustaka Bergerak Indonesia, Pendiri Sa’o Pustaka dan beberapa Taman Baca serta pegiat literasi nasional. Lewat GKdB penulis menggerakan masyarakat baik secara pribadi maupun komunitas dalam mendonasikan buku untuk anak-anak di seluruh Indonesia. Guru Motivator Literasi (GML) Nasional tahun 2021. Pegiat Moderasi Beragama.