Laudato Si’ Movement Asia Pasifik Merawat Benih Pertobatan Ekologis

Catatan Retret Laudato Si’ Movement Asia-Pasifik, 24-27 Oktober 2026

Tagaytay City, Katolikana.com—Bagaimana membawa gagasan pertobatan ekologis menjadi perubahan sosial kongkrit di kawasan Asia Pasifik, dalam keberagaman konteks sosial dan Gerejanya?

Itulah pertanyaan sentral dalam Laudato Si’ Movement Asia Pacific Chapters Retreat yang berlangsung pada 24 hingga 27 Oktober 2026 di CBCP Development Center, Tagaytay City, Filipina.

Forum perjumpaan regional ini mempertemukan 17 para pemimpin chapter dari lima negara: Myanmar, Korea Selatan, Timor Leste, Indonesia, dan tuan rumah Filipina.

Selama empat hari para peserta diajak merefleksikan realitas lokal, membaca tanda, tanda zaman, serta menyelaraskan langkah dengan arah strategis global gerakan.

Dengan berangkat dari pencarian bersama seluruh peserta yang difasilitasi oleh John Ray, animator LSM Filipina peserta mengolah pengalaman, berbagi, dan membangun kolaborasi satu sama lain.

Retret diperkaya dengan pemaparan dari para narasumber seperti Mgr. Allwyn d’Silva (Chairman Office for Human Development FABC dan uskup auksiler emeritas Keuskupan Mumbai), Lorna Gold (Direktur Eksekutif Laudato Si’ Movement, Irlandia), hingga Yeb Sano, aktivis lingkungan hidup senior yang terlibat aktif dalam diplomasi lingkungan global.

Retret ini menegaskan bahwa pemulihan bumi tidak dapat dilepaskan dari konversi komunitas dan spiritualitas yang berakar kuat di tengah umat.

Wajah Asia Pasifik dari ensiklik

Perjumpaan diawali dengan doa pembuka berbasis elemen ciptaan (udara, api, air, dan tanah) serta refleksi pemeriksaan batin untuk membaca kehadiran Allah di tengah dinamika krisis, hingga refleksi dan sharing terbimbing melalui Sharing Stories dan Gallery Walk, kelima chapter diundang untuk mendalami dan membagikan kisah nyata mereka.

Keunikan dan kekhasan tiap negara yang hadir dalam retret ini memperlihatkan mosaik dinamika gerakan ekologi integral di kawasan.

Chapter Filipina, yang diwakili oleh Sr. Elizabeth Carranza dan Chris, memperlihatkan integrasi matang antara tradisi aksi publik tahunan Walk for Earth dan modul Deep Journey to Laudato Si’ yang berkolaborasi erat dengan CBCP Laudato Si Program, dengan fokus mendatang pada pembentukan Laudato Si’ Generation bagi kaum muda.

Di Myanmar, para animator dihadapkan pada tantangan menghadirkan ekologi integral di tengah benturan konflik sosial dan kemanusiaan. LSM Myanmar berhasil mengintegrasikan kepedulian lingkungan ke dalam kerangka Sosio-Pastoral Konferensi Waligereja Myanmar (CBCM) 2026–2030, mendampingi pengungsi domestik (IDPs), serta menggerakkan BEES Network sebagai sarana edukasi ekologi lintas iman bagi generasi muda.

Karakter advokasi kenabian radikal terpancar kuat dari Korea Selatan. LSM Korea Selatan secara konsisten menggelar aksi publik Friday Climate Action di Gwanghwamun Square, Seoul, sejak tahun 2020, menyelenggarakan Misa protes terhadap PLTU batu bara di Samcheok, serta perarakan Jalan Salib Ekologis.

Menyambut perhelatan World Youth Day (WYD) Seoul 2027, mereka menginisiasi kampanye global “Plant Our Planet” dan mendesak Majelis Waligereja Korea (CBCK) menetapkan kebijakan paroki menuju netralitas karbon.

Sementara itu, Timor Leste menjadi contoh gemilang regenerasi kepemimpinan muda berbadan hukum yang mengelola 500 animator, bermitra dengan PBB dan pemerintah, serta memotori Local Conference of Youth (LCOY) hingga ke distrik Baucau, Ainaro, dan Ermera.

Di Indonesia, Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) mengokohkan struktur di 7 chapter keuskupan, sektor pendidikan, dan sektor religius. Bermitra dengan Tarekat MSC melalui Laudato Si’ Center serta PUKAT Keuskupan Agung Jakarta, GLSI aktif merintis program penanaman mangrove, pelatihan komposter paroki, serta penguatan platform pendampingan basis.

Jantung Pertobatan Ekologis dan Tiga Pilar Utama

Pertobatan ekologis sebagai jantung gerakan, inilah pesan inti yang dibawakan oleh Cheryl Dugan selaku Direktur LSM Asia Pasifik pada 26 Oktober 2026, didukung oleh Christina Leaño (Associate Director LSM) dan pesan video dari Lorna Gold (Direktur Eksekutif LSM).

Ketiganya menguraikan secara komprehensif Global Strategic Roadmap 2027–2030 yang bermuara pada Visi 2035, visi jangka panjang untuk menghadirkan Gereja yang sungguh membela ciptaan dan mewujudkan bumi sebagai rumah bagi seluruh kehidupan agar dapat berkembang dan bertumbuh.

Gagasan kunci dalam peta jalan baru ini adalah pergeseran posisi pertobatan ekologis (eco, conversion), dari yang semula ditempatkan sebagai salah satu misi yang berdiri sendiri, menjadi tepat di jantung gerakan. Segala bentuk program dan aktivitas Laudato Si’ Movement mulai dari doa bersama, pembangunan komunitas, hingga advokasi publik adalah wujud holistik dari pertobatan ekologis itu sendiri.

Pertobatan ekologis menjadi titik temu dari tiga pilar utama yang saling berpotongan spiritualitas ekologis, komunitas yang berkelanjutan dan tangguh, dan advokasi kenabian.

Spiritualitas ekologis (eco-spirituality) menempatkan relasi mendalam antara Sang Pencipta dan ciptaan sebagai fondasi utama. Lorna Gold mengutip kisah St. Fransiskus di San Damiano (“Pergilah dan perbaikilah rumah, Ku”), spiritualitas adalah sumber mata air yang melindungi para aktivis dari kelelahan struktural, dengan mengintegrasikan keadilan ekologis ke dalam liturgi, katekese, dan sakramen.

Komunitas yang berkelanjutan dan tangguh (sustainable and resilient communities) memperkuat ekosistem akar rumput yang inklusif dan tanggap pada jeritan kaum miskin.

Komunitas yang mampu mengembangkan anggota-anggotanya gaya dan nilai-nilai hidup berkelanjutan menjadi misi Laudato Si’ Movement, karena menjadi pijakan utama dalam transformasi sosial ekologis yang lebih luas. Pilar ini juga menyatukan persahabatan mendalam dan ruang pembelajaran setara antarpenggerak hingga antar-chapter di kawasan regional.

Advokasi kenabian (prophetic advocacy) menjadi misi yang juga mendapatkan tekanan baru. Setiap penggerak Laudato Si’ diundang untuk mampu mendorong transformasi struktural melalui keberanian membawa dan memperjuangkan suara moral Gereja di ruang publik, termasuk mengampanyekan divestasi bahan bakar fosil dan transisi energi yang berkeadilan.

Seluruh pilar tersebut ditopang oleh pilar pendukung penguatan organisasi (organizational strengthening), yang memastikan kerapian tata kelola, akuntabilitas finansial, dan kepemimpinan bersama (shared leadership) di setiap chapter.

Desentralisasi dan Kepemimpinan Akar Rumput

Yeb Sano, salah satu pendiri dan anggota board Laudato Si’ Movement sekaligus mantan Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara menekankan pentingnya melakukan desentralisasi kepemimpinan (decentering leadership), bukan hanya dalam tubuh global Laudato Si’ Movement,melainkan hingga di akar rumput.

Decentering dan perluasan partisipasi membuka ruang partisipasi dan inovasi sosial yang lebih luas dan hidup. Menurut Yeb, lanskap sosial dan ekologis di kawasan Asia-Pasifik sangat beragam, mulai dari wilayah yang menghadapi konflik politik berkepanjangan hingga negara-negara yang rentan terhadap bencana iklim ekstrem lintas batas. Oleh karena itu, pendekatan kepemimpinan yang bersifat satu ukuran untuk semua (one-size-fits-all) tidak lagi relevan.

Desentralisasi kepemimpinan dimaknai sebagai upaya memberikan ruang otonomi yang luas bagi pribadi animator, circle, chapter, hinggachapter nasional untuk merumuskan aksi yang paling kontekstual dengan realitas di lapangan.

Yeb menjelaskan bahwa kepemimpinan yang efektif di era krisis ekologis bukanlah kepemimpinan yang mendikte dari atas, melainkan kepemimpinan yang mampu merangkul, mendengarkan, dan berjalan bersama dalam nafas sinodalitas.

Dua konsensus

Dua konsensus bersama dicapai 27 Oktober 2026. dan menjadi arah LSM Asia Pasifik : penguatan gerakan ekologi di tengha kaum muda, dan penguatan organisasi sebagai bangunan utama gerakan dalam menjalankan misi Laudato Si’-nya.

Rangkaian kegiatan ini diakhiri dengan kunjungan lapangan ke SVD Laudato Si’ Farm di Tagaytay City, sebuah pusat edukasi ekologi dan ekowisata seluas 5,8 hektar yang dirintis Fr. Samuel Naceno-Agcaracar, SVD. Kompleks ini lahir sebagai wujud pertobatan ekologis di era pandemi sekaligus menjawab panggilan Musim Penciptaan tahun 2020.

Direktur Eksekutif LSM, Lorna Gold, dalam sapaannya kepada para peserta berkata, ““Semoga waktu Anda bersama menjadi waktu untuk saling menyambut, bersahabat, mendengarkan secara mendalam, beriman dengan penuh sukacita, dan bertindak dengan berani. Dan semoga Anda selalu ingat bahwa memperbaiki rumah kita bersama dimulai bukan dengan memiliki semua jawaban, melainkan dengan kesediaan untuk berkata bersama: ‘Ini aku, Tuhan. Utuslah kami.”.

Sambil menggengam pesan ini, para peserta menuruni pengalaman Gunung Tabor di pusat pelatihan tak jauh dari Danau Taal itu. Mereka semua sudah diperbaharui dalam semangat, wawasan, dan persaudaraan. Saatnya mereka pulang menjadi harapan. (*)

Kontributor: Cyprianus Lilik Krismantoro Putro, Peserta retret  dan koordinator Tim Kerja Nasional Gerakan Laudato Si’ Indonesia. Kontak: 082135632002, rowanggesang@gmail.com

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.