Kristus dan Maria adalah dua hamba yang berbeda, namun memiliki kesamaan: keduanya menempatkan kehendak Allah di atas segalanya. Dalam diri mereka, kehendak ilahi berjumpa dengan kerelaan manusiawi secara utuh.
Yesus sedang menunjuk pada kematian-Nya di kayu salib. Seperti ular tembaga ditinggikan di padang gurun, demikian pula Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.
Jiwa yang hening tidak selalu jiwa yang tidak bersuara lagi, melainkan jiwa-jiwa yang meneriak-gemakan keadilan dan pembebasan jiwa lain, sehingga menghimpun kejamakan kembali pada ketunggalan.
Mereka berkata kepada orang Farisi tentang Yesus, "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!" (Yohanes 7:46). Mereka melihat kebenaran dalam diri Yesus.