Berkat dari Allah dan kebangkitan itu hanya bisa diterima oleh mereka yang siap meninggalkan hidup yang lama dengan bertobat dan bersedia menderita bersama Yesus
Dalam Matius 5:20-26, Yesus memperdalam makna pertobatan itu. Ia menegaskan bahwa kebenaran kita mesti melebihi kebenaran ahli Taurat dan Farisi—yang hanya bersifat lahiriah.
Doa itu terwujud dalam diri Yesus yang telah mengajarkannya, karena firman yang keluar dari mulut Allah tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan kehendak-Nya dan berhasil dalam yang Allah perintahkan kepada-Nya…
Kekudusan ini dirumuskan dalam istilah sosial yang praktis: jangan mencuri, jangan berbohong, atau saling menipu; jangan memeras atau merampok sesamamu; jangan mengutuk orang tuli atau memasang batu sandungan di depan orang buta.
Rikha Emyya Gurusinga, Katekis Paroki St. Yosef balige dan Guru Agama Katolik
Dalam dinamika kehidupan Gereja dewasa ini, Sinode VII Keuskupan Agung Medan menghadirkan sebuah ajakan yang sangat mendalam sekaligus menantang: “Gereja!-->!-->!-->…