Blak Blakan dengan Admin Katolik Garis Lucu

Bukan dari akun @KatolikG! Ini Sumber Awal Video Ustad Abdul Somad yang Viral...

1 2,169

Sejak April 2019 lalu, jagad Twitter diramaikan dengan akun @KatolikG atau Katolik Garis Lucu. Kehadiran akun ini dan akun-akun garis lucu lainnya mendapat perhatian sejumlah media dan blogger.

Donny Verdian, blogger senior yang bermukim di Australia berhasil mengajak admin @KatolikG untuk bicara secara terbuka. Disusul oleh portal Era.id yang meliput tentang cara admin garis lucu meredam sensivitas agama dan timpal-timpalan kocak akun garis lucu. Koran lokal seperti Suara Merdeka dan Radar Cirebon, dan portal NU Online pun mengangkat fenomena garis lucu ini dalam liputannya.

Salah satu cuitan yang jadi viral adalah ketika Dedi Corbuzier masuk Islam pada Juni 2019 lalu, kemudian terjadi serah terima antara @KatolikG ke @NUgarislucu.

Lalu @NUgarislucu me-reply:

Cuitan itu yang diunggah 21 Juni 2019 itu telah di-retweet (RT) lebih dari 3.000 kali dan disukai (Likes) lebih dari 5.000 kali. Cuitan tersebut bahkan dinyatakan sebagai ‘Cuitan Paling Lucu di Juni 2019’ oleh netizen.

Katolikana berhasil mewawancarai admin akun Katolik Garis Lucu untuk menggali informasi di balik akun ini serta bocoran mengenai video Ustad Abdul Somad (UAS). Sama dengan wawancara dengan media-media lainnya, admin Katolik Garis Lucu tidak berkenan membuka identitasnya (anonim).

Bisa diceritakan tentang kemunculan akun Katolik Garis Lucu?

Ide pembuatan akun Katolik Garis Lucu muncul spontan. Pasca pilpres, polarisasi dua kekuatan pendukung capres ternyata tidak mereda. Di media sosial,  muncul isu-isu dan hasutan yang sangat menegangkan, terutama menjelang pengumuman KPU.

Ketika itu, 27 April 2019 tiba-tiba terlintas untuk membuat akun lucu sekaligus ingin ikut meredakan isu-isu politik agama yang tegang menjadi ringan dan penuh tawa. Dari situ lahirlah akun Twitter @KatolikG.

Kami juga sudah masuk ke Instagram lewat @katolik_garis_lucu dan Facebook Page @katolikg meskipun belum maksimal.

Bagaimana perkembangannya hingga hari ini?

Sebelumnya memang sudah ada beberapa akun garis lucu (GL) dari kalangan ‘mayoritas’. Ada @NUgarislucu, @MuhammadiyahGL, dan @GontorGarisLucu. Menariknya, setelah akun Katolik Garis Lucu muncul, kemudian ramai-ramai muncul Garis Lucu dari kelompok ‘minoritas’. Misalnya, ada @ProtestanGL, @HKBPLucu, @BuddhisGL, @GlHindu, dan-lain-lain.

Perkembangan jumlah follower cukup menggembirakan. Tak disangka, penambahan follower @KatolikG cukup signifikan. Dalam waktu satu minggu, jumlah follower melonjak hingga 13 ribu. Dari situlah saya berpikir untuk mengajak dua orang teman yang selama ini memiliki kegelisahan yang sama menjadi tim admin akun ini.

Hingga hari ini, Rabu, 21 Agustus 2019, atau kurang dari empat bulan sejak kelahirannya, jumlah followers sudah menembus angka 60K, atau rata-rata per hari ada 600an follower baru bergabung. Ketika melaunching lomba nyanyi #KatolikIdol dalam rangka 17 Agustusan, selama dua minggu, kami mendapatkan tambahan jumlah follower sebanyak 3.000 follower. Kami tidak menyangka follower begitu antusias dengan kehadiran akun ini.

Apa pesan utama yang ingin disebarkan oleh akun ini?

Akun Katolik Garais Lucu ingin menjadi jembatan dialog yang ringan, lucu dan menempatkan iman Katolik di ruang sosial dan ruang kemanusiaan. Kami ingin menyebarluaskan kabar gembira, kasih, dan suka cita Allah dengan canda. Istilah Jawane: Njembaraken kraton Dalem Gusti liwat guyonan.

Kami ingin menghadirkan iman Katolik yang manusiawi, ramah, dan tidak marah-marah.  Bisa bercanda, tertawa, dan bergurau dengan siapapun, termasuk umat yang beda server. Kami percaya bahwa di dalam dan dengan senyum, canda, dan tawa, di situ Roh Kudus hadir!

Kami juga ingin mengajak umat Katolik merasa gembira dan percaya diri. Kami masih merasakan ada suasana batin yang tegang, takut, inferior terutama menyikapi kondisi sebagai minoritas. Suasana seperti ini tentu kurang sehat bagi perkembangan umat.

Apa hubungan akun ini dengan gereja?

Akun @KatolikG tidak mewakili lembaga atau institusi resmi Gereja Katolik. Di Bio kami tulis: “Akun ini tidak mewakili pandangan Gereja mana pun.”

Anggap saja ini adalah ekspresi segelintir umat beriman yang ingin berbagi pengetahuan dan sukacita mengikuti Yesus Kristus sekaligus melakukan evangelisasi baru dalam upaya ‘menggarami dan menerangi’ jagad Twitterland.

Akun ini berbalas twit dengan @NUgarislucu dan @MuhammadiyahGL. Apakah memang kenal secara personal dengan adminnya?

Dengan garis lucu lain, kami sering berbalas twit. Itu spontan saja. Kami bisa nyambung mungkin karena chemistry-nya sama. Meski kami sejak awal memfollow akun @NUgarislucu, tapi baru dua hari lalu kami mutualan.

Di dunia nyata kami tidak kenal mereka. Bahkan admin @NUgarislucu sendiri masih jadi misteri di kalangan NU. Kami memang cukup dekat dengan teman-teman  Gusdurian. Mungkin dari situ gaya guyonan kami nyambung dengan mereka.

Bagaimana cara @KatolikG menjaga agar tetap bisa bercanda dengan agama lain tanpa takut dianggap menista?

Kami berusaha tidak masuk wilayah akidah agar tidak menyinggung. Kami berpegang pada prinsip bahwa agama itu hal yang menggembirakan. Maka agama harus menjadi rumah yang hangat dan gembira. Harapannya, kegembiraan itu bisa menjadi inspirasi bagi yang lain dalam menghayati iman mereka.

Bagaimana reaksi warganet selama ini? Pasti ada pro kontra?

Respon warganet sangat positif dan membawa keterbukaan. Sebagian besar follower @KatolikG justru bukan orang Katolik, mereka akhirnya bisa memahami bahwa Katolik juga manusia yang bisa bercanda.

Terhadap akun lain atau follower yang suka marah-marah, biasanya justru netizen atau ada pihak ketiga yang menjelaskan sendiri, kami tidak menanggapinya dengan serius.

Lalu, tentang video Ustad Abdul Somad (UAS) yang beberapa hari ini ramai dan viral. Katolik Garis Llucu banyak disebut sebagai akun yang pertama kali mengunggah video UAS? Bagaimana cerita sebenarnya?

Di Twitter mungkin @KatolikG yang awal membagikan link video UAS yang sebelumnya kami unggah ke Instagram (IG) @katolik_garis_lucu. Tetapi sebelum kami naikkan di Instagram, video tersebut sudah lebih dulu viral di jagat IG dan kami pun dimention oleh follower. Salah satu yang viral adalah akun Instagram @SahabatKatolik, dan ketika itu video tersebut sudah dilihat lebih dari 100.000 kali, dan setelah kami telusuri ternyata sumbernya dari akun Instagram (IG) @kajianustadabdulsomad_ Sayangnya, akun tersebut tiba-tiba hilang dari jagat IF, meskipun jumlah followernya 16K.

Kami terkejut, karena komentar-komentar awal menggambarkan kemarahan netizen Kristiani. Kami sangat menyayangkan video tersebut, lalu kami berinisiatif membagikan video tersebut di media sosial dengan guyonan agar umat lebih rileks dan tidak terbakar emosi.

Bagaimana sikap Katolik Garis Lucu terkait UAS?

Di kalangan teman-teman Kristiani, Ustadz Abdul Somad (UAS) itu dipandang sebagai Ustadz besar yang cerdas dan lucu. UAS sering berbicara tentang masalah kehidupan sosial dan bagaimana solusinya sehingga banyak umat yang ikut membagikan dan menonton video ceramah beliau. Sehingga kami tidak kaget jika ada umat yang menemukan dan mention ke sesama orang Kristen terkait video tersebut. Kalau akhirnya video tersebut jadi polemik di masyarakat kami memohon maaf. Namun, isi ceramah tersebut sungguh kami sayangkan.

@KatolikG sudah membuat polling dan sebagian besar menunjukkan kelegowoan netizen. Di sisi lain, UAS keberatan untuk meminta maaf. Apakah Anda sakit hati?

Sejujurnya tidak. Hanya kecewa saja karena beliau tidak merasa bersalah. Kami pikir setelah  begitu banyak yang memberi tahu bahwa itu sebuah kesalahan dan akan menjadi pelajaran. Ternyata tidak. Di situ kami kecewa dan khawatir hal ini bisa bisa berulang. Peristiwa ini akan menjadi contoh buruk untuk kehidupan beragama ke depan. Bayangkan saja kalau semua tokoh agama berbicara seperti itu dan dibenarkan. Apa yang akan terjadi?

Cuitan kami berikutnya sebenarnya tidak lagi bicara tentang penghinaan itu, karena kami tidak merasa terhina. Tapi lebih ke konteks bagaimana etika seseorang. Lebih ke bagaimana pemimpin publik seharusnya bersikap dan berperilaku.

Terakhir, apa harapan Anda?

Kami sebenarnya ingin bisa ketemu UAS. Kalau bisa ketemu beliau, kami mau tawari jadi admin @KatolikG. Cukup seminggu saja. Karena beliau sebenarnya Ustad yang cerdas dan lucu. Lumayan kalau bisa nambah follower. Heuheuheu…

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

1 Comment
  1. Alfonso Herry Prabowo says

    KATOLIK ITU HANYA SATU, JIKA ADA KATOLIK BERGARIS, KATOLIK DARI MANA ITU??

    Sejak awal berdirinya Gereja Katolik, hanya satu Katolik. Bahwa kemudian ada kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi dalam di dalamnya tetap berada dalam kesatuan dengan Geraja yang satu yaitu Katolik.

    Entah itu PMKRI, Pemuda Katolik, WKRI dan juga kelompok kategorial lainnya selalu mengedepankan kesatuan sebagai satu kesatuan Gereja Katolik. Tidak ada pembedaan yang lucu atau tidak, yang pemarah atau baik.

    Bahwa kemudian ada pribadi atau kelompok yang hendak menggunakan nama Katolik sebagai akun facebook group walaupun tidak “diakui” secara sah sebagai lembaga yang memiliki yurisdiksi dan diakui sebagai lembaga sah Gereja Katolik sebagaimana diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) kanon 113-128, bukan berarti dengan seenaknya atau semaunya menjadikan nama Katolik hanya sekedar lucu-lucuan atau popularitas, melainkan tetap menghidupi nilai-nilai Injili dan moral serta sifat-sifat Gereja Katolik yang adalah Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik (bdk. KGK. 830-836; 838; 849).

    Kitab Hukum Kanonik menuliskan dengan jelas bahwa penggunaan sarana-sarana sosial komunikasi yang salah satunya adalah facebook senantiasa dijiwai oleh semangat manusiawi dan kristiani yaitu yang dijiwai oleh semangat Injili (bdk. Kan. 822 §.2), juga untuk mendukung karya-karya pastoral Gereja (§.3).

    Bahkan dalam Kanon 823-§.1 dengan jelas dikatakan bahwa

    “Supaya keutuhan kebenaran iman dan moral terpelihara, para gembala Gereja berkewajiban dan berhak untuk menjaga agar iman dan moral dari kaum beriman kristiani tidak dirugikan oleh tulisan-tulisan atau penggunaan sarana-sarana komunikasi sosial… dan juga untuk menolak tulisan yang merugikan iman yang benar atau moral yang baik”.

    Kita semua tahu mulai dari Injil Matius hingga Injil Yohanes serta tulisan-tulisan suci lainnya dalam Perjanjian Baru, dalam mewartakan Sabda Tuhan Yesus hanya menggunakan perumpaan untuk menerangkan pewartaan-Nya dan tidak pernah menggunakan joke atau lelucon.

    Bahkan kadang sangat keras perkataan-Nya seperti dalam Injil Yohanes 6:60 dimana para murid sesudah mendengar penjelasan Yesus berkata di antara mereka satu sama lain; “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya”? Toh, Gereja Katolik tetap bertahan hingga hari ini.

    Bahkan demi berdirinya Gereja Katolik, Yesus mengorbankan nyawa-Nya demikian juga nyawa dan darah para martir, tanpa ada kelucuan sekalipun, juga pewartaan seluruh anggota Gereja yang sangat serius sekalipun Gereja Katolik nyatanya tetap berkembang dan mampu berdialog dengan siapapun.

    Lantas MENGAPA HARUS ADA KATOLIK BERGARIS…..INI DAN ITU?

    Yang mengherankan lagi adalah bahwa menggunakan nama Katolik, tetapi mengatakan bahwa tidak mewakili pandangan Gereja Katolik manapun? Emangnya Gereja Katolik ada berapa? Apapun pandangan dan tulis meski beralasan tidak mewakili pandangan Gereja Katolik, tetapi nama yang tercantum di situ adalah Katolik maka yang jadi perhatian adalah Katoliknya.

    Apapun yang ditulis dan diposting serta dibaca oleh orang lain, semua mata akan tertuju pada Katolik dan bisa saja menjadi batu sandungan ataupun boomerang bagi Gereja Katolik sendiri. Fokusnya bukan pada postingan tetapi Katoliknya. Apalagi simbol dan lainnya merujuk pada simbol yang melekat pada Gereja Katolik lantas dengan mudahnya mengatakan tidak mewakili pandangan Gereja Katolik manapun.

    Yang lebih parahnya lagi adalah menuliskan dalam deskripsi akun;

    “Berimanlah kepada Allah, Berimanlah kepada Yesus” (jangan lupa kepada Gusdur juga).

    Maaf saya harus mengatakan ini adalah penyesatan. Katolik sangat menghargai Gus Dur sebagai tokoh bangsa yang berjuang untuk kebaikan bersama. Lantas ketika ada yang menggunakan nama Katolik lantas menempatkan Gus Dur meski ditempatkan dalam kurung sebagai yang “diimani” maka bukan sesuatu yang lucu yang ditampilkan tapi pelecehan dan penodaan terhadap kiprah dan perjuangan bapak Gus Dur sebagai tokoh bangsa, termasuk pelecehan terhadap Katolik sendiri.

    Menjadi Katolik itu karena Iman. Bukan soal lucu, keras atau serius. Maka ketika ada akun fb atau oknum kelompok dengan menggunakan nama Katolik tetapi ada embel-embel garis ini dan itu, maka pertanyaannya;

    “apakah mereka yang tidak lucu atau lemah lembut bukan Katolik”?

    Kiranya dua pandangan bijak ini menyadarkan kita semua bahwa Katolik itu hanya Satu dan tidak bergaris ini dan itu:

    “Di mana ada dosa, di situ ada keanekaragaman, di situ ada perpecahan, sekte-sekte dan pertengkaran. Di mana ada kebajikan, di situ ada kesepakatan, di situ ada kesatuan, karena itu semua umat beriman bersatu hati dan bersama jiwa” (Origenes, hom. in Ezech. 9,1).

    Dekrit Konsili Vatikan II mengenai ekumene menyatakan: “Hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya, bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petrus-lah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh Kristus di dunia. Dalam Tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk Umat Allah” (UR 3).

    Manila: 08 Juni 2020
    Pater Tuan Kopong MSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.