Grup Koor Ayem Tentrem: Memuliakan Tuhan Lewat Nyanyian

Melayani Umat Secara Sukarela

1 159

Katolikana.com—Menyanyi merupakan aktivitas yang mudah dilakukan dan menyenangkan. Juga, bisa jadi mata pencaharian jika benar-benar ditekuni.

Namun itu tidak berlaku dengan grup Koor Ayem Tentrem. Grup koor asal Jogja ini siap melayani umat lewat nyanyian secara sukarela.

Anggota grup Koor Ayem Tentrem Fortunata Tyasrinestu ketika ditemui Katolikana, Jumat (2/4/2021) mengungkapkan, grup Koor Ayem Tentrem terbentuk berawal dari ketidaksengajaan.

“Waktu itu peringatan 1.000 hari anak kami yang bernama Matias. Kebetulan kami senang nyanyi, ya sudah, yang nyanyi orang tuanya saja,” kata Fortunata.

Awalnya menyanyi cuma berdua dengan format duet, lalu mereka mulai mencari pengiring atau organis. Mereka bertemu dengan Felix Avi (Avi) yang saat itu sedang berkuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) dan biasa mengiringi koor di Gereja.

Penampilan mereka di Misa 1000 hari tersebut membuat salah satu tamu undangan yang datang terkesan. Akhirnya tamu tersebut meminta tolong kepada mereka untuk menyanyi dalam format kecil.

“Waktu itu cuma kami berdua yang menyanyi dan bukan dari koor profesional, tapi dari keluarga. Akhirnya kami mengajak anggota keluarga lainnya untuk mengisi suara alto, sopran, tenor, bass,” jelas Fortunata.

Sejak 2007, Fortunata, Widiawan, dan Avi mulai membantu keluarga atau teman dekat yang punya acara peribadatan dengan bernyanyi.

Mengapa Ayem Tentrem?

Rupanya kurang lengkap jika sebuah nama terlahir tanpa alasan. Begitu pula dengan grup vokal Ayem Tentrem ini.

Widiawan dan Fortunata mengatakan, Ayem Tentrem memiliki arti damai sejahtera.

“Intinya kalau di koor, kita bisa menciptakan suasana damai,” tegas Fortunata.

Inspirasi nama Ayem Tentrem bermula dari ketidaksengajaan. Saat itu, dalam salah satu acara penjurian lomba menyanyi tunggal antarstasi di Sendangsono, Fortunata diminta menjadi salah satu juri.

Pada tahap akhir atau final yang dilangsungkan malam hari tentu saja ada beberapa pertimbangan, mengingat saat itu mereka masih punya bayi.

Widiawan tidak mengijinkan Fortunata menjadi juri di acara tersebut. Alasannya, acara harus sampai malam. Kalau pun pulang keesokan harinya, berarti harus menginap di Sendangsono.

Fortunata bercerita, saat itu suaminya justru dihampiri melalui mimpi dengan adanya perkataan: “Njembarake kraton Dalem kok ora oleh?” Artinya: “Memperluas kerajaan Tuhan kok tidak boleh?”

Kemudian di pagi hari, Widiawan, suaminya, mengijinkan Fortunata menjadi juri di acara lomba menyanyi tunggal di Sendangsono.

Setelah acara lomba selesai, ditutup dengan sebuah pertunjukan ketoprak, yang ternyata mempunyai judul yang sama seperti mimpi Widiawan.

“Pas layarnya turun, tulisannya: Njembarake Kraton Dalem. Lah, kok pas, sesuai sama mimpinya,” tegas Fortunata.

Melayani dengan Sukarela

Ketika ditanya mengapa koor Ayem Tentrem memilih untuk melayani secara sukarela, Fortunata menjelaskan beberapa alasan.

Pertama, karena mereka melayani misa dengan membawakan lagu-lagu dalam format kecil. Kedua, karena pelayanannya hanya dalam lingkup keluarga sehingga sifatnya personal. Terakhir, dalam rangka njembarake kraton dalem, yang artinya untuk memuliakan nama Tuhan.

Musik dalam peribadatan di gereja memang punya peran penting. Dapot Nainggolan dalam artikel berjudul Kajian Teologis Terhadap Musik Gerejawi, mengungkapkan bahwa musik dalam gereja menjadi unsur utama dalam peribadatan. Selain itu, musik dalam gereja juga menjadi perhatian umat karena penyampaian lirik dan nada yang sesuai dengan firman Allah.

“Musik gerejawi merupakan sebuah respons dari orang yang percaya terhadap keagungan Tuhan,” tulis Dapot Nainggolan tentang musik yang menjadi salah satu media untuk memuliakan Tuhan.

Hal tersebut juga sejalan dengan tujuan Ayem Tentrem, yaitu memuliakan Tuhan lewat nyanyian.

Ciri Khas: Aransemen dan ‘Kesukarelaan’

Avi, selaku pengiring dan pengaransemen lagu-lagu Ayem Tentrem selalu membagi suara dengan tiga bentuk, yakni sopran, alto, dan tenor.

Fortunata menjelaskan bahwa formasi yang digunakan hanya lima sampai enam orang saja.

Ayem Tentrem biasanya menyanyikan lagu-lagu dari Puji Syukur dan Madah Bakti. Namun mereka tetap melakukan aransemen ulang karena menyesuaikan format yang berbeda.

“Ayem Tentrem juga mempunyai lagu-lagu yang diciptakan oleh Widiawan dan Avi,” tambah Fortunata.

Lagu-lagu itu bukan karena pesanan, melainkan karena adanya sebuah peristiwa lalu membuat sebuah lagu.

“Sejauh ini sudah ada 10 sampai 20 lagu,” tegas Fortunata.

Ibu Kang Luber Tuladha, karya Ayem Tentrem tentang ucapan terima kasih kepada Tuhan untuk seorang ibu. Infografis: Tim

Berbeda dengan grup koor lainnya, Ayem Tentrem justru melayani Tuhan dan sesama secara sukarela dan tidak dibayar.

Fortunata mengatakan Ayem Tentrem lebih menekankan pada bagaimana bisa melatih teknik supaya misa dapat diterima dengan baik.

“Bahkan kita sering nombok sendiri, misalnya untuk pengiring tambahan atau pengiring pengganti di luar pengiring tetap kami. Itu kan butuh transportasi, nah itu kita yang memberikan. Bukan dari yang minta tolong misa,” ungkap Fortunata.

Bentuk Pelayanan

Ayem Tentrem pernah melayani untuk beberapa misa dalam acara-acara seperti Misa Memule memperingati 7, 40, 100, dan 1000 hari, acara mantenan, midodareni, misa requiem, bahkan pernah juga ibadat sebelum acara sunatan, dan masih banyak lagi.

Sejauh ini Grup Ayem Tentrem tidak pernah mengikuti acara perlombaan atau festival dalam kerangka lomba menyanyi.

“Kalau Ayem Tentrem lebih ke ranah ibadat. Kita tidak ikut lomba atau festival karena hanya khusus untuk misa dan pelayanan saja,” tegas Fortunata.

Ayem Tentrem sedang mengisi misa di Gereja/Foto: Tim

Anggota Ayem Tentrem

Ayem Tentrem mempunyai 12 anggota, masing-masing punya ciri khas suara masing-masing. Tetapi biasanya anggota yang tampil dalam sebuah misa atau acara sekitar tujuh orang saja.

“Dalam formasi lengkap kami biasanya bisa tampil sekitar 10 sampai 12 orang. Tetapi itu jarang. Tapi pernah waktu itu merekam kenangan misa 1000 hari Eyang Putri bisa hadir semuanya,” kata Fortunata.

Fortunata menambahkan, anggota Ayem Tentrem bukan hanya berasal dari keluarga saja, tetapi teman dekat yang tertarik karena punya visi yang sama. Ada juga beberapa anggota Ayem Tentrem yang pernah ikut koor profesional.

“Ayem Tentrem itu kayak rumah. Memang bukan tempat untuk mencari uang. Saat ini anggota yang aktif enam sampai delapan orang,” jelas Fortunata.

Koor Ayem Tentrem terbuka bagi siapa saja yang mau bergabung, tentunya setiap anggota yang ingin bergabung harus mempunyai misi yang sama, yaitu melayani umat.

Bagi Fortunata, anggota yang keluar masuk bukan masalah. Fortunata pun terbuka bagi kepada setiap anggota yang ingin bergabung kembali dengan Ayem Tentrem.

“Di Ayem Tentrem tidak ada rasa terikat. Kalau mau gabung kembali, ya silakan. Ada yang balik karena rasa kekeluargaan di Ayem Tentrem yang tinggi,” katanya.

Kegiatan Rutin

Ayem Tentrem lebih ‘mengalir’ ketika melayani acara-acara yang ada. Pada masa pandemi Covid-19 ini, jika ada yang minta untuk mengisi acara misa, Ayem Tentrem terbatas menghadirkan dua sampai tiga orang saja. Fortunata menjelaskan setiap bulan rata-rata pasti ada satu kali mengisi acara.

Grup koor Ayem Tentrem rutin melakukan pertemuan setiap hari Rabu. Kegiatan ini dilakukan tidak hanya latihan untuk tugas, melainkan juga berbincang santai dengan sesama anggota grup.

Ayem Tentrem melakukan latihan di masa pandemi/Foto: Tim

Tetap Bertugas Meski Beda Pengiring

Ciri khas aransemen dari Avi yang sudah melekat pada grup koor ini, membuat mereka cukup kesulitan jika Avi berhalangan hadir mengisi acara.

Fortunata mengatakan jika Avi tidak bisa mengiringi, paling tidak harus mencari pengganti pengiring yang sesuai dan bisa berproses bersama Ayem Tentrem.

“Jika tetap tidak ada yang bisa mengiringi, Ayem Tentrem akan memberitahukan jauh hari agar dapat mencari koor yang lain,” jelas Fortunata.

Rencana ke Depan

Sesuai ciri khasnya, Ayem Tentrem memiliki aransemen khusus untuk lagu-lagunya. Ayem Tentrem sedang mempersiapkan satu dokumentasi berupa buku yang berisi kumpulan lagu ciptaan Avi dan Widiawan.

Buku tersebut diciptakan karena dalam beberapa kesempatan setelah Ayem Tentrem bertugas, pasti ada umat yang meminta teks lagu yang mereka bawakan.

“Kami mau mengumpulkan lagu-lagu yang sudah dibuat. Nanti kalau ada yang minta, tinggal kasih bukunya,” tutur Fortunata. []

Kontributor: Maria Nariswari, Laurencia Eprina Dian, Kevin Aditya (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

 

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

1 Comment
  1. Widiawan says

    Terima kasih sudah meliput kegiatan ayem tentrem
    Kaminpersilahkan untuk mengunduh tembang doa kami di link ini semoga hati menjadi ayem dan tentrem
    https://drive.google.com/folderview?id=1m1ODXz_JWy3ZqWZREjhI0lgG7WanHlW9

    https://drive.google.com/folderview?id=14Wrtg66l27xNWzbNpGsJ–3ZsKHB_zsb

Leave A Reply

Your email address will not be published.