Belajar dari Maria

Apakah kita perlu mendapatkan penampakan terlebih dahulu baru kemudian menjadi yakin dan tekun dalam berdoa selama bulan Maria ini?

1 139

“Sekiranya kamu mengenal Aku, kamu juga mengenal Bapa. Sekarang ini kamu telah mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (bdk. Yoh. 14:7).

Penggalan kalimat Yesus ini sengaja dikutip untuk memenuhi ruang permenungan kita dengan pertanyaan awali ini: Sejauh ini, seberapa dalam Anda menyadari keterlibatan Allah di dalam hidup ini?

Berdasarkan kutipan di atas, ditambah sedikit percikan makna yang saya tangkap, dalam permenungan sederhana ini, saya ingin mengajak Anda menyadari dua hal.

Pertama, dalam refleksi saya, Bunda Maria-lah rujukan dari Yesus sewaktu menegur Filipus dengan kalimat di atas.

Dalam pembicaraan itu Yesus memang tidak membuat suatu perbandingan tertentu, dengan menyebutkan sosok lain yang lebih baik di hadapan kelambanan Filipus.

Tetapi, dalam bingkai refleksi, sembari menyaksikan Filipus yang ditegur oleh Yesus, menurut saya, kita dapat segera mencarikan bagi kita sendiri sosok yang dapat menjadi pegangan, yang darinya kita dapat menemukan cara, bagaimana mengenali Bapa di dalam Yesus. Hemat saya, sosok pegangan itu adalah Bunda Maria.

Dari pihak kita, dapat ditangkap, seandainya Yesus membuatkan perbandingan atas kelambanan Filipus, pastilah rujukan-Nya jatuh pada Bunda Maria.

Dalam arti itulah saya mengajukan Bunda Maria sebagai rujukan Yesus kepada kita sewaktu Dia menegur Filipus.

Kedua, menyadari keterlibatan Bunda Maria sebagai pribadi yang menjadi perantara kita kepada Kristus, serentak menjadi teladan yang sejati dalam mengimani kehadiran Allah dalam setiap pijakan hidupnya, meski ia tidak sejak awal dapat melihat Allah.

Tidak dalam ketergesaan untuk segera melihat bahwa Maria-lah teladan ideal kita dalam mengenali Bapa, saya ingin mengajak anda untuk segera kembali setelah menyegarkan rupa-rupa doa kita yang mungkin hampir redup dengan ingatan tentang penampakan Bunda Maria.

Menyambut Bulan Maria

 Kita baru saja memasuki bulan berahmat, Mei, yang oleh Gereja Katolik ditetapkan sebagai bulan Maria.

Dalam semangat yang mungkin hampir redup, gegara pandemi yang berkepanjangan, saya mengajak Anda untuk mengingat kembali kisah penampakan Bunda Maria puluhan tahun lalu di Yugoslavia.

Tahun 1981, di dekat Biakovici, daerah pegunungan di bagian barat Yugoslavia, tepatnya di atas bukit Pod Brdo, Medjugordje; waktu itu pukul lima petang, enam orang remaja melihat gumpalan awan yang mewujud manusia.

Makin dalam mereka berdoa, makin jelas wujud manusia itu. “Gospa!” mereka berteriak tertahan, artinya “Sang Pewarta Rahayu”. Mereka mengenali itu sebagai sosok Bunda Maria.

Lebih lanjut dikisahkan dari peristiwa iman tersebut bahwa oleh karena kebenaran kesaksian para remaja tersebut, setiap pukul 16.45 banyak orang berdoa di sana.

Mereka berharap mendapat penglihatan serupa, tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa. Meski begitu, mereka tetap setia untuk datang ke sana pada waktu yang sama setiap harinya.

Hanya enam remaja itu yang dapat melihat sosok Bunda Maria, bahkan mereka dapat bercakap-cakap dengannya. Apakah pengalaman berahmat itu hanya diperuntukkan bagi mereka? Entah.

Barangkali kebanyakan dari kita lebih banyak mendengar kisah tentang penampakan Bunda Maria lewat patung-patungnya. Kali ini ia tampak dengan ‘gaya’ lain.

Pertanyaan yang menarik dapat kita selipkan di sini: Apakah nuansa keagungannya menjadi berbeda kalau ia tampak dalam awan? Tidak ada jawaban umum terkait pertanyaan tersebut.

Kita semua boleh bermenung untuk mendapatkan jawabannya. Hanya kalau kita ingin bertanya, mengapa ia bisa muncul dalam bentuk awan di langit?

Nancy de Flon dan John Vidman, OP pernah menuliskan bahwa keterkaitan Maria dengan alam semesta, ibu pertiwi, berlangsung abadi.

Kenangan penampakan itu pasti sangat membekas di dalam diri keenam remaja tersebut. Dengan pengalaman iman sebesar itu, mereka terlihat menjadi rajin berdoa.

Memasuki bulan berahmat ini, seraya berpijak pada pengalaman keenam remaja tersebut, kita sebetulnya tengah dihadapkan pada gugatan: apakah kita juga perlu mendapatkan penampakan terlebih dahulu baru kemudian menjadi yakin dan tekun dalam berdoa selama bulan Maria ini?

Belajar dari Maria

Maria tidaklah sejak awal melihat Allah, tetapi sewaktu mendapat pesan Malaikat, ia langsung patuh dan percaya.

Sewaktu membesarkan Yesus ia pastinya tahu bahwa dia tengah berhadapan dengan Allah. Di dalam balutan keibuannya, ia mengasuh Yesus sembari mengenal dengan sungguh bahwa itu Tuhan.

Di dalam konteks perikop Injil di muka, tampakya Filipus begitu naif, karena meski sudah lama bersama-sama dengan Yesus, ia masih tidak dapat mengenali Yesus dengan mendalam bahwa Dia itu Allah.

Filipus bisa jadi sebetulnya merupakan representasi dari diri kita yang begitu naif. Kita mengakui Dia hanya kalau kita menyaksikan hal-hal yang ajaib. Kita kehilangan jati diri sebagai seorang yang beriman, yang ‘tetap berbahagia walau tidak melihat’.

Sambil menyaksikan Filipus yang begitu lamban, di hadapan situasi dunia yang makin mempersempit ruang pengenalan kita akan Allah, kita bisa mencari Bunda Maria sebagai pegangan kita. Pribadi Maria-lah rujukan Yesus di hadapan kegagapan kita dalam mengenali-Nya.

Ajakan

Sekarang, memasuki bulan berahmat ini, adakah Anda masih meminta tanda untuk dapat menyadari kehadiran Allah? Meminta penampakan Maria, supaya sungguh yakin, memang benar Maria-lah rujukan itu?

Kita bukanlah orang-orang yang kekurangan rahmat. Kita tidak perlu mendapatkan penampakan Bunda Maria terlebih dahulu baru dapat diteguhkan. Kita juga tidak kekurangan bukti untuk menyaksikan kesejatian iman Bunda Maria itu.

Sepanjang bulan ini, kita dapat mengenali sedekat mungkin Yesus melalui Bunda Maria. Kita mengajak Maria berdoa bersama kita melalui doa Rosario, serentak meminta darinya rahmat, supaya kita dapat meniru naluri keibuannya dalam mendekap rahasia Allah di dalam hati kita.

Akhirnya, kita juga dapat menghidupkan semangat kita agar lebih membara dengan meresapi nasihat St. Fransiskus Asisi: kita dapat mengandung Yesus dalam niat-niat baik kita, lalu melahirkannya dalam karya-karya kita.*

Mahasiswa STF Driyarkara Jakarta, asal Manggarai, Flores.  Tertarik pada ulasan-ulasan filsafat; menyukai puisi.

1 Comment
  1. Leto says

    Mantap…..broo

Leave A Reply

Your email address will not be published.