Kamu Mengalami Quarter Life Crisis? Ini 4 Cara Menghadapinya!

Quarter Life Crisis (QLC) merupakan suatu keadaan di mana seseorang di usia 18-30 tahun merasakan tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan bimbang dengan kepastian hidupnya di masa mendatang.

0 19

Katolikana.com—Orang muda pasti pernah mengalami keresahan dalam hidupnya. Keresahan itu bisa timbul secara tiba-tiba dan mengganggu pikiran dan hati kita. Keresahan ini biasanya dialami orang muda pada tahap peralihan masa remaja ke dewasa awal (Quarter Life Crisis).

Fenomena Quarter Life Crisis dibahas dalam Live Talkshow #KatolikanaMuda, Minggu (6/6/2021) pukul 13.00 WIB di kanal Youtube Katolikana dan Radio Katolikana. Live Talkshow bertajuk “Quarter Life Crisis: Apa Itu?” menghadirkan narasumber pendiri @drlove.id Alexandra Arvia dan pendiri Lingkar Positif Fitri Ayu Mustika.

Alexandra Arvia, S.Psi., M.Psi (Founder @drlove.id)

Apa Itu Quarter Life Crisis?

Quarter Life Crisis (QLC) merupakan suatu keadaan di mana seseorang di usia 18-30 tahun merasakan tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan bimbang dengan kepastian hidupnya di masa mendatang.

QLC biasanya terjadi akibat seseorang kurang menghargai hidupnya. Rata-rata orang selalu tidak puas dengan hidup yang mereka jalani. QLC biasanya menyerang anak remaja berusia 20 tahunan yang akan memasuki fase dewasa awal.

“Faktor yang memengaruhi QLC pada usia 20 tahunan yaitu bagaimana kita menjalani hidup kita ini dengan apa adanya dan dengan penuh rasa percaya diri, karena kita sedang memasuki masa peralihan dari remaja menuju dewasa awal,” jelas Fitri Ayu Mustika.

Alexandra Arvia, S.Psi., M.Psi (Founder @drlove.id)

Alexandra Arvia menambahkan ada beberapa faktor lain munculnya masalah seperti putus cinta, dililit utang, konflik dengan orang tua, tuntutan pekerjaan yang tidak memuaskan, dan masalah pengangguran.

“Biasanya remaja sedang aktif-aktifnya menjalin hubungan pacaran. Awalnya seseorang mengira bahwa tujuan hidup yang dialami yaitu dari menjalin romansa percintaan. Namun, setelah putus cinta, mereka akan bingung untuk menjalani hidup dan harus mulai beradaptasi lagi dari awal untuk mencari tujuan hidup,” jelas Via.

Via berpesan kepada agar kita mempunyai pola pemikiran kedepan untuk menjalani hidup selanjutnya.

“Jangan hanya berpikir ke masa-masa lampau yang nantinya akan mengganggu pikiran kita dengan hal-hal yang kurang memuaskan pada diri kita,” ujarnya.

Fitri Ayu Mustika, M.Psi (Founder Lingkar Positif)

Empat Cara Menghadapi QLC

Quarter Life Crisis dialami oleh sebagian besar remaja akhir yang menuju ke masa dewasa awal. Hal ini tidak boleh dianggap remeh karena jika hanya dibiarkan akan menyerang psikis seseorang hingga depresi.

Berikut empat cara menghadapi QLC:

1.Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain hanya membuang waktu kita sia-sia, karena akan membuat kita makin tidak percaya diri dan khawatir untuk memikirkan hidup orang lain daripada hidup kita sendiri.

Ubah pikiran kita untuk mencintai diri sendiri dan cari tahu apa yang harus kita lakukan ke depan yang kita butuhkan untuk hidup. Fokus dengan apa yang kita inginkan akan tujuan hidup kita. Lakukanlah secara perlahan-lahan yang mungkin tanpa kita sadari.

2.Ubah pikiran negatif menjadi tindakan yang produktif.

Jika kita sedang bingung untuk melakukan suatu hal, sebaiknya cari suasana baru. Ubah keraguan pada diri kita dengan menemukan tujuan-tujuan baru yang bernilai positif akan datang dengan sendirinya.

Misalnya, kita sedang mengalami tuntutan pekerjaan yang sangat banyak. Sebaiknya kita dapat membagi waktu sesuai jadwal yang kita tentukan.

Atur waktu yang menurut kita tidak menjadi beban yang akan mengganggu pikiran kita. Kita dapat berbincang dengan teman dekat kita untuk mencari solusi akan masalah yang sedang kita hadapi tersebut.

3.Temukan orang-orang yang bisa saling mendukung.

Berada di sekitar orang-orang yang punya kesamaan akan membuat kita bersemangat menjalani hidup. Hal ini juga membuat kita tidak merasakan kesendirian dalam mendukung cita-cita.

Mencari orang yang satu frekuensi dapat membuat kita makin percaya diri dan menjadi motivasi untuk melakukan hal baik. Dengan begitu kita makin merasa memiliki tujuan hidup yang dapat kita kembangkan bersama teman-teman yang memiliki satu kesamaan.

4.Mencintai diri sendiri.

Banyak orang terjebak QLC cenderung tidak mencintai diri sendiri dan selalu merasa diri banyak kekurangan. Untuk mencapai tujuan hidup kita perlu mencintai diri kita sendiri terlebih dahulu.

Mulailah dengan hal-hal kecil dahulu untuk mencintai diri kita, seperti merasa cukup dengan apa yang kita punya dan puas dengan yang kita lakukan.

Pada fase ini banyak orang sulit untuk melakukannya karena banyak faktor. Karena itu, kamu harus percaya diri untuk memperhatikan diri agar dapat lebih mencintai diri sendiri.*

Kontributor: Farih Lintang, Andreas Bagas, Widya Silaban, Vinka Kristy (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.