Katolikana.com—Aturan belajar di rumah selama pandemi membuat mahasiswa rentan mengalami social media fatigue.
Social media fatigue adalah perasaan subjektif pengguna medsos yang merasa lelah, jengkel, marah, kecewa, kehilangan minat, atau berkurangnya motivasi berinteraksi di media sosial karena banyaknya informasi.
Hal ini disampaikan oleh psikolog dan pendiri Catatan Psikologi Jainal Ilmi, M.Psi dan konsultan sektor publik Fajar Ariwibowo S.E,.M.M,.AK, dalam webinar ‘Pandangan Psikologi terhadap Mental Generasi-Z dalam Menghadapi Perubahan Dunia’, yang diselenggarakan oleh STIE YKP Yogyakarta, Minggu (10/10/2021).
Kasus Kesehatan Mental Meningkat
Menurut Jainal, di Indonesia setiap tahun terjadi peningkatan kasus mental health.
“Terdapat 9000 kasus bunuh diri per tahun di Indonesia, serta 800.000 kasus per tahun secara global,” ujar Jainal.
Jainal menambahkan, angka pengidap gangguan mental emosional per 1000 rumah tangga, meningkat drastis dari 6 (2013) menjadi 9,8 (2018).
“Angka pengidap depresi pada orang usia di atas 15 tahun per 1000 rumah tangga sebesar 6,1. Sebanyak 91 persen di antaranya tidak menjalani pengobatan medis,” ujarnya.
Menurut Jainal, fenomena semacam ini bukan fenomena baru. Banyak korban jiwa karena kasus mental health.
“Masalah ini bukan masalah sepele. Kasus yang menyangkut kesehatan mental seseorang justru lebih berbahaya dibanding dengan kasus yang dapat dilihat secara fisik,” kata Jainal.
Menurut Jainal, kasus mental health bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti lingkungan, keluarga, teman, dan sebagainya.

Generasi-Z Rawan
“Generasi-Z merupakan salah satu kelompok masyarakat yang cukup rawan terkena kasus mental health,” tambah Jainal.
Jainal menambahkan, kasus mental health bukan hanya berasal dari lingkungan luar. Namun dapat berasal dari dalam diri kita sendiri.
“Misalnya, perasaan insecure, depresi, minder, social media fatigue dan hal lain yang menyebabkan mental terganggu dengan pemikiran-pemikiran yang ditimbulkan oleh diri sendiri,” kata Jainal.
Sosialisasi dengan banyak orang dapat membantu mengurangi pikiran negatif yang seringkali muncul di dalam pikiran individu.
“Namun, saat ini cukup terbatas melihat seseorang bisa berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya,” ujar Jainal.
Menurut Jainal, kita harus memiliki cara tersendiri untuk bisa mengontrol diri dengan berbagai kegiatan yang lebih positif . Kasus tersebut dapat diatasi dengan beberapa hal.
“Ada banyak cara untuk menghindari insecurities, depresi, dan social media fatigue di kalangan mahasiswa.
Pertama, mengikuti organisasi, komunitas, webinar, kursus, pelatihan, pengembangan diri.
Kedua, mengakui jika kita mengalami gangguan psikologi dan datang ke tenaga profesional.
Selain menghindari insecure maupun depresi, kegiatan-kegiatan tersebut menjadikan kita lebih produktif.
“Apalagi generasi-Z saat ini menjadi tumpuan bagi perkembangan Indonesia ke depan,” ujarnya.
Peluang dan Tantangan
Konsultan sektor publik Fajar Ariwibowo S.E,.M.M,.AK, mengatakan generasi-Z juga harus dapat bersaing walau pun dalam situasi pandemi.
“Generasi-Z yang terbiasa dengan dunia digital dapat mengambil keuntungan dengan menggunakan sosial media atau dunia digital sebagai tempat berkembang melakukan beberapa bisnis,” ujar Fajar.
“Misalnya, bisnis start up, bisnis afiliasi, café, bisnis fotografi, bisnis online, dan restoran,” tambahnya.
Menurut Fajar, generasi-Z dianggap memiliki pemikiran yang jauh lebih modern dan up to date, sehingga mampu menciptakan inovasi-inovasi baru.
Meraup keuntungan di masa muda, akan berdampak baik bukan hanya di masa sekarang namun di masa yang akan datang.
“Selain kelebihan yang terlahir sebagai native digital, generasi-Z memiliki kekurangan yaitu individualis, tidak fokus dalam satu pekerjaan, suka suatu hal yang serba instan, kurang menghargai proses dan ingin terburu-buru serta memiliki emosi yang masih labil,” ujar Fajar.

Pentingnya Sosialisasi
Fajar menyarankan agar generasi-Z bisa bersosialisasi dengan lingkungan meski dalam situasi pandemi, karena sifat individualis dapat berakibat social media fatigue.
Bersosialisasi saat pandemi tidak hanya dilakukan secara langsung.
“Bisa dilakukan secara daring, mengikuti berbagai kegiatan online sehingga bisa menambah jaringan dan relasi untuk mengurangi sifat individualis yang telah menempel pada generasi-Z ini,” tambah Fajar.
Menurut Fajar, generasi-Z punya kesempatan besar untuk berkembang karena mereka terlahir sebagai digital native sehingga dengan mudah menguasai perkembangan teknologi.
“Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses interaksi dan melakukan kegiatan positif. Dari situ akan tercipta mental yang sehat dan solidaritas tinggi,” ujar Fajar.
“Jadikan teknologi sebagai alat untuk mendukung perkembangan mental dan jiwa,” pungkasnya.
Kontributor: Siti Humairoh, Joshua Stefanuslee, Benedikta Ave Martevalenia, Yohana Reni A, Calvin Jordan (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.